Bicara tentang kehidupanku berarti bercerita tentang petualanganku. Aku tegaskan saja bahwa aku ini tidaklah si kaya yang seenaknya memakan harta yang lain atau si kaya yang bertindak seenaknya.

Lantas, apakah aku disebut sebagai si kaya yang punya hati, mudah berbagi, dan segala yang mengandung kepositifan ada dalam diriku?Aku tegaskan saja tidak. Iya tidak. Aku hanya seorang laki-laki yang tak pernah berdaya melewati apalagi memecahkan dunia. Adalah sebagai aku yang tidak mengerti tentang kehidupan, sebagai aku yang hanya bisa mengulur, tak bisa menarik. Sulit memang mendeskripsikan tentang diri ini. Entahlah kemana arah tulisan ini.  Sengaja aku mengajak kalian untuk sulit menemukan jawaban dari intinya tulisan ini. Ya secara tidak langsung, aku ingin kalian merasakan dahulu bagaimana sulitnya aku mendekripsikan tentang hidup ini.

Baiklah. langsung saja, aku rasa kalian telah mengerutkan dahi pertanda tak mengerti. Begini, aku hanyalah anak dari seorang laki-laki yang hanya bermodalkan kasih sayang tuk hidup menghidupiku. Kesehariannya hanyalah menjemput dan membawa orang-orang yang juga bertujuan menghidupi anak-istri mereka. Sedih sebenarnya melihat beliau (red: papa) tak berdaya berperan seperti itu. Tetapi itulah kehidupan yang nyata. Yang hanya bisa dilihat dan dinikmati seminim-minimnya arti dari kata nikmat itu sendiri.

Selepas penat kerja lepas, tinggal penat kehidupan yang menghantui. Dirumah, tak akan pernah bisa ditemukan tanda kemewahan. Hanya tempat kecil yang dijadikan ladang mencari uang kedua. Beliau mengklaim itu dengan nama “warung”. Tetapi tidak bagiku, itu bukan hanya sekedar warung. Itu harta. Ya harta, yang menuntun diri  dari buta hingga bisa mengenal kehidupan.

Oya, beliau itu dahulu-katanya-sebagai pedagang emas yang bisa dibayangkan seberapa banyak harta yang ada. Tetapi arus hidup membawa dunia menjadi terbalik. Beliau mengikuti tipu daya teman-sahabat- untuk melunasi hutang-hutang mereka. Entahlah apa yang terjadi. Yang jelas aku menganggap beliau hanya berpikir kebaikan tak pernah berpikir keburukan walaupun sekarang teman-temannya memiliki derajat lebih tinggi dari beliau. Hidup..hidup…memang tidak ada yang bisa memastikan kecuali yang Maha Memastikan.

Lanjut. Beliau memiliki istri yang tak terhingga artinya. Dia kusebut, mama. Sebenarnya banyak yang bingung, mengapa panggilan untuk mereka terasa sangat elit. Mama dan Papa. Katanya aku adalah aku yang tak punya?. Jawabanku sederhana: kami adalah calon orang elit. Panggilan adalah doa. Doa adalah wajib didengar yang Maha Mendengar. Dan Yang Maha Mendengar wajib mengabulkannya. Right???

Mamaku itu sebagai ibu yang sangat luarbiasa dahsyatnya. Keseharian beliau menjadi ibu rumah tangga yang baik. Baik yang diartikan dengan segala makna baik. Kepandaian beliau memainkan peran ibu tak perlu diragukan lagi. Memasak? Jangan ditanya. Menjahit? Jangan ditanya juga. Merias? Tak usah ditanya. Membuat kue? Pertanyaan yang menghabiskan waktu. Bendahara? Apalagi. Dia Yang Maha Sempurna telah memberi banyak kesempurnaan kepada dia yang sempurna bagiku itu.

Dari dulu sampai sekarang berjualan adalah hobi beliau. Teringat dulu ketika aku masih mengenakan baju putih merah harus bangun pagi -pagi yang tidak normal bagi seusiaku- untuk membantu beliau menyiapkan sajian pagi yang bukan untuk anak-anak dan suaminya saja, tetapi untuk anak-anak dan suami lainnya. ???. Namanya juga jualan nasi dan sayur masak.  Jelas suami-suami itu punya anak dan istri masing-masing.

Subuh itu adalah waktu yang masih sangat nyaman memeluk bantal dengan mendengarkan bisingnya kipas angin gantung yang didesain sedemikian rupa. Tetapi bisingnya kipas angin itu terkalahkan dengan bisingnya suara yang memanggil, berteriak menyebut namaku, memintaku untuk segera membantunya. Siapa lagi kalau bukan suara mama. Ada perbedaan aku dengan mereka yang seusiaku dahulu. Mereka bangun pagi sesiang mungkin, aku bangun pagi sepagi mungkin. Mereka dinyamankan dengan AC, aku juga dengan AC. Bedanya? Mereka Air Conditioner, aku Angin Cepoi-cepoi (red: tetap ada bedanya). Mereka dibisingkan dengan suara musik, aku dibisingkan dengan suara mama. Mereka  bangun menghirup udara bersih, aku bangun menghirup udara bercampur dengan asap kompor. Aku dan mereka tidak ada beda hanya dibagian minum susu dipagi hari. Untuk yang ini tidak ada bedanya. Mama selalu membuat susu hangat untukku dengan penuh kasih sayang. Hanya saja, mereka susu bubuk (red: mahal), aku susu kaleng (red: murah). Tidak papa, yang penting minum susu.

Disisi yang lain ada kalanya aku punya keunggulan yang tidak mungkin mereka dapatkan. Kasih sayang, pengertian hidup, cinta orang tua, perjuangan hidup, dan nikmat Tuhan. Itulah pelebih yang menjadikan aku memastikan aku lebih bahagia dari mereka.

Tanpa kata lelah orangtuaku selalu memperjuangkan derajatku untuk lebih tinggi dari yang lain. Inilah yang membuatku untuk segera bangkit saat sedetik saja merasa rendah.

Itulah indahnya mereka dimataku…


Hampir lupa, aku adalah si bungsu dari empat darah lainnya. Mendeskripsikan mereka dimasa kecil sama halnya mendeskripsikan diri ini ketika kecil. Kami adalah empat darah yang belum diizinkan oleh Sang Pemilik untuk menikmati masa kecil indah dengan harta, tetapi soal menikmati masa kecil dengan penuh cinta adalah rasa yang tak pernah bisa dirasakan oleh mereka-mereka itu.

Meski sulit, aku coba mendeskripsikan mereka satu demi satu.

Darah pertama, seorang wanita yang ditangguhkan oleh Sang Pemberi untuk menghadapi semua masalah duniawi. Bebannya sangat banyak. Dia beranggapan darah pertama itu harus dilihat sukses oleh darah setelahnya. Mungkin bagi si kaya tak akan pernah muncul kalimat itu. Maklum, mereka terbiasa dengan menikmati harta, sedangkan kami mencari harta lalu menikmatinya. Dengan perjuangan yang tak terhingga, dia berhasil membawa aku dan darah lainnya menikmati dunia yang sebelumnya tak pernah terlintas dibenak ini. Ya…karna dia kami banyak tahu arti dunia sesungguhnya.

Darah kedua, seorang laki-laki yang terlalu banyak mengeluarkan kalimat-kalimat majas. Entah majas apalagi yang belum keluar dari mulutnya. Dia sedikit unik dengan teori-teori hidupnya ya walaupun dia sendiri belum pernah menjalankanya, dia tetap merasa hebat. Tapi tetap saja ada acungan jempol untuk darah yang ini, karenanya aku juga bisa mengenal keanehan dunia lainnya.

Darah ketiga, seorang lelaki yang agak sedikit keras. Darah sang papa terlalu mengalir deras di tubuhnya hingga sulit dihentikan. Darah ini unik karena sifatnya yang selalu menentang kalimat-kalimat motivasi yang dirasakan “waw” bagi lainnya tapi tidak berarti untuknya. Walaupun seperti itu, dia juga berpengaruh dihidup dan kehidupanku. Dia kujuluki sebagai motivator pribadi yang tidak jelas asalnya.

Dan terakhir, darah keempat, aku sendiri.

Seperti tulisan awal, telah aku jelaskan tentangku, hanya saja ada tambahan sedikit tentang diri ini. Begini, darah pertama itu bisa mengenal dunia karna mereka yang melahirkan (red: ortu). Darah kedua bisa mengenal dunia karena mereka yang melahirkan dan atas tangan darah pertama. Darah ketiga bisa mengenal dunia karena mereka yang melahirkan dan atas tangan darah kedua juga. Dan aku?

Orang tua- darah pertama- darah kedua- darah ketiga. Kira-kira begitulah skema proses aku bisa memijakkan kaki hingga mengenal sedikit dunia ini. Tidak hanya aku saja berharap aku bisa menaklukkan dunia, tetapi mereka juga. Serasa tangan ini adalah mereka, nafas ini adalah juga nafas mereka, dan jiwa ini juga jiwa mereka. Beban sebenarnya. Tapi aku yakini saja selama Tuhan masih hidup aku bisa mewujudkannya. Dan Tuhan tak bisa mati. Right?

Masih panjang sebenarnya tentang diri ini.

Singkat saja cerita tentang yang kusebut, mimpiku.

Berawal lulus dari masa putih abu-abu, aku mencari kehidupan yang sebenarnya. Mencari mimpi yang sangat ingin kuwujudkan. ITB. Itu tujuanku. Apa yang telah disebutkan apa saja tentang arti “belajar” dari seorang professor telah aku laksanakan. Apa yang telah disebutkan tentang beragam amal baik dan ibadah dari seorang ustad yang sudah dipastikan masuk surga pun telah aku kerjakan. Tetapi sayang sungguh disayang yang punya (red: Tuhan)  ITB belum menekan tombol hijaunya untukku. Entahlah apa yang ada di list-Nya tentangku. Yang jelas, ketika aku tak mendapatkan itu, aku seperti mati membiru dengan tulang yang rapu dan tubuh yang tak berdaya. Beban itu semakin berat karena yang berjuang bukan hanya aku, melainkan juga mereka.

Tetapi aku tetap berpositif, pasti ada hikmahnya.

Lanjut. Kakiku kuarahkan ke kota yang disebut kota seninya Indonesia, Yogyakarta.

Berjuang, berjuang, dan berjuang. Dan?

Masih saja terjatuh, terjatuh, dan terjatuh.

Untung aku bukanlah tipe laki-laki seperti difilm-film kebanyakan, yang menabrakkan diri kekereta, melemparkan batu-batu kelaut, atau meminum obat-obat yang membahagiakan manusia tetapi tidak bagi nyamuk-nyamuk. Aku ya aku. Berbeda. Pikiranku saat itu adalah, Allah saja memastikan kehidupan bagi semut, masak bagiku tidak? Masak aku dikalahkan dengan semut-semut yang jika ditekan pasti mati? Hehehe..

Sudahlah. Langsung saja pada akhir ceritanya.

Universitas Islam Indonesia. Sebuah universitas swasta berkelas secara nasional dan juga internasional adalah tempat terbaikku. Mengapa ku sebut sebagai tempat terbaikku meskipun mahal? Karena yang memilihkan tempat ini bukan aku, melainkan Allah. Yang menginginkan tempat ini bukan aku, melainkan Allah.  Allah lah yang Maha Tahu tentang hamba-hambanya. Pertanyaannya, kenapa aku begitu percaya diri bahwa ini adalah peran Allah? Karena sebelumnya, aku mengemis-ngemis disaat malam yang lainnya masih terlelap, aku mencairkan air mata yang telah lama membeku hanya dihadapanNya, dan aku melepaskan semua yang terbaik dari yang kupunya hanya untuk Dia, Sang Pemilik alam semesta.

Terbukti. Dia yang menanggung semua kebutuhanku disini. Dari pangan, sandang, dan papan, Dia yang memenuhi. Biaya? Dia juga yang menanggungnya. Sangat indah saat kita dimanjakan oleh-Nya. Dia-lah Penanggung Jawab sesungguhnya. Tidak hanya itu, disini aku tidak hanya berteman dengan seusiaku, tetapi juga dengan seorang motivator hebat, dua orang ibu angkatku, seorang master pada bidangnya, seorang doktor pada bidangnya, dan seorang professor hebat. Aku benar-benar berteman dengan sebenar-benarnya makna berteman, tidak hanya kenal. Itulah yang mengubah pikiran, pandangan, dan jiwaku dari seusiaku.

Subhanallah… sungguh Allah adalah alasan pertama yang membuatku tetap berani bermimpi.

Sekarang aku tetap menjalankan rencana-rencana hidup dan kehidupanku. Sungguh sangat ingin aku menulisnya, tetapi dari semua rencanaku itu masih beberapa yang terwujud, belum semuanya.Suatu saat pasti ku tulis…

Terima kasih untuk mata kalian yang mau mengikuti alur cerita ini. Aku aminkan saja doa-doa kalian sebanyak huruf yang kalian baca dicatatanku ini.

Tetap selalu mengedepankan dan mengutamakan Tuhan dari semua rencana hidup kita.

DAN TETAP WUJUDKAN MIMPI-MIMPI ITU.

_orirabowo

This slideshow requires JavaScript.

45 thoughts on “Tentangku

  1. Subhanallah..
    Sampae gak bisa ngungkapin kata2 nih aku untuk komen, selain ucapan diatas 🙂
    Semangat menggapai mimpi mas. Salam kenal..

    1. Terima kasih Fen. Doakan sy agar smua mimpi sy terwujud, dr sana sy bs lbh banyak cerita bahwa dekat dengan Tuhan itu indah.. 😉
      Selamat wujudkan mimpi ya teman… 🙂

  2. Subhanallah bnr2 speachless abis bc profile abang ori ini 🙂
    Btw,profilnya blm lgkp th g ad tgl lahir,ambil jrsan apa di uii ?

    Klo blh tau abang chines ya ? Mirip hyun bin kw 2 hehehe piss 😀

    Baca profil abang ori bnr2 menginspirasi aq buat g gmpg menyerah dlm kondisi terpuruk ..bhwa hidup milik Allah..dan brntg sma Allah mnta sglaNya kpdNYa 🙂
    Dan smg aq jg bs ngebhagiain kedua ortu kyk koko ori .. Aamiin ya robbal alamin 🙂
    Dan jangan takut bermimpi .. Karena qt pny Allah yg dpt mwjdkannya..:)
    -̶tnxx a lot koko.. I hope we can be friend n kept spirit to sharing article for all people in the world Ganbatte!!:D..

  3. Terus bermimpi ri:D, mimpi itu akan jadi nyata dgn komitmen qta … Dan slama baca tulisan ny ori*jleb yg fto bju biru dri samping ituh mrip mickey yoochun penyanyi korea ahahaaa

  4. subhanallah,, sampe speechless ga tau mau comment apa. 🙂
    tulisan ini buat saya jadi berani bermimpi lagi,, jujur saya ini orang yg sangat pesimistis. tapi setelah baca tulisan ini, saya ingin bermimpi lagi, bercita-cita lagi, mudah2an mimpi dan cita2 kita semua tercapai,, amiin 🙂
    #kalo boleh tau, kelahiran tahun berapa ya?

      1. Subhanallah. Ya ampun trnyta msh adik saya toh k ori ni .. Di twitter sy pngil kakak. Mulu hehe :p
        Tp,Gpp deh sy pnggil kakak ori j y.. Soalnya emg ori trlht dewasa dr tlsannya n wjhnya jg hehe :p
        Ttp mmbrikan manfaat y k ori dr tlsan2 n berbagi ilmu. untuk sesama.. Aamiin ya robbal alamin.. 🙂

  5. wah, ternyata seumuran toh..
    kirain lebih dewasa,
    subhanallah, bisa bersikap dewasa di usia muda.
    biar bisa bersikap dewasa gitu, boleh minta tips nya ngga?
    hehe 😀
    #ngaco

  6. Saya benar benar terinspirasi oleh cerita cerita nyata dari seorang Ori Rabowo,sungguh menggugah nurani untuk menjadi ummat Nabi Muhammad SAW yang terbaik,amin ya rabbal alamin

  7. subhanallah,,*HEBAT * ka Ori.!!! *mngingatkanku dulu* perjuangan ingin masuk PTN pavoritenya sama percis kak, tapi Allah tidak mngizinkan saya utk masuk UI meski berjuang jungkir balik, ehh rezekinya malah di Akbid.:))

  8. Cerita hidupnya inspiratif, bahasanya jg keren banget, bener deh mataku emang pengen mengikuti alur cerita ini, semoga sukses kuliahnya ya,ternyata kuliahnya sm dg sy….di UII jg, salam kenal ya 🙂

  9. Dapet ini blog dari bang farit..
    Subhanalloh..
    Keren tulisan,sarat makna banget..
    Terenyuh akan makna sabar di kalimat akhir itu masuk motivasi diri ini dlu berhijab dan stop pacaran..

    Terus menulis..
    Terus tebarkan kebaikan..

    Jazakalloh khoir 🙂

  10. salam kenal mas ori, aku tau blognya dr twitter temanku di uii juga 🙂
    salam kenal y 😀 sejauh ini suka banget sama postingannya:)

  11. wah ternyata kita seumuran, tapi ente sangat dewasa, bahkan sudah punya anak :p Alhamdulillah 🙂 salam kenal Ori, tulisan2 ane suka. Semoga bukunya cepet terbit ya 🙂

  12. cerita ceritanya menggugah dan memotivasi.. salam kenal mas ori, jadi semangat dan memotivasi kuliah, ternyata anak UII semuanya hebat2.. tidak sia sia memilih menimba ilmu disana o:)

  13. Subhanallah jdi terhru diri q setelah mmbcnya…..doakn q ya smoga q bsa sprti ka” ori yg bsa membuat orng tmbh semngt…..semoga impian q dn cta”q terkbulkn…amien amien allahuma amien…

  14. baru baca profil ini, Subhanallah ternyata perjuangannya patut di acungkan jempol ya 😀
    sukses terus semoga semua impian2 bisa tercapai ya Aamiin… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s