EGO

Hasil gambar untuk EGOISEGO itu bahaya sekali, Kawan. Lihatlah ada yang dulu bersahabat, kini bermusuhan hanya karena EGO. Lihatlah dulu ada yang seiya-sekata, sekarang bersimpangan hanya karena EGO.

Cinta berubah menjadi benci. Tawa terganti dengan tangis. Sedangkan damai menjelma menjadi rusuh. Semua, lagi-lagi, karena EGO.

Satu-satunya yang dapat menghentikan EGO adalah kenangan. Sadarilah bahwa dulu sekali kita pernah menciptakan kenangan. Seorang adik pernah dibantu oleh kakaknya saat luka, dan seorang kakak pernah dibantu oleh adiknya saat masalah menerjang tubuhnya. Seorang sepupu pernah ditolong saat sepi, seorang ponakan pun pernah di suapi tanpa membedai. Seorang cucu pernah memapah neneknya ke masjid, seorang nenek pun pernah membagikan THR saat lebaran. Ke-semua itu adalah kenangan. Dan seberusaha apapun kita melupakan kenangan, kenangan tak mungkin hilang. Karena memang ia telah mengakar di memori kita masing-masing.

Bagaimana bisa lupa suasana akrab lebaran ketika kita kecil dulu? Masing-masing kita berkumpul dirumah nenek. Kita bersalam-salaman. Bahkan kita saling menangis saat bermaafan. Alangkah indah air mata bagi seseorang yang bersaudara itu? Rasanya dosa luntur seketika. Rasanya hati bersih tanpa satupun noda. Sehabis momen bermaafan, yang kecil melingkari yang besar. Semua berteriak, “THRku… THRku.” Ruangan pecah! Akibat dari suasana bahagia yang tak terkira. Kulihat ekspresi para “Si Kecil”, mereka senang tak kepalang saat amplop sudah ditangan. Kulihat ekspresi para “Si besar”, mereka melepaskan penat berbulan-bulan mencari uang di ibukota saat membagikan THR. Kemudian kulihat lagi wajah tante, om, nenek, semua melebur menjadi satu: BAHAGIA. Indah nian!

Tak seharusnya kita diusik oleh keegoisan.

Tak semestisnya kita berpura lupa akan kenangan.

Kenangan yang mengingatkan, kenangan pula yang menyadarkan bahwa kita pernah indah pada masa itu.

Dengan kesungguhan aku berdoa semoga di masa ini dan seterusnya kita meluruhkan EGO dan menciptakan lagi kenangan itu.

Aamiin.

 

Aku akan Menikah

Wahai ibu yang teramat aku cintai. Anakmu kini telah tumbuh dewasa. Telah bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Bahkan dengan malu-malu harus aku akui, anakmu kini telah mengenal apa itu cinta.

Cinta dimataku hanya satu, yakni cinta yang kau ridai hingga Allah pun meridai.

Aku mendeskripsikan betul apa itu cinta. Disebut cinta jika aku tak kan melupakan-Nya saat hatiku jatuh padanya. Disebut cinta jika aku semakin memuliakanmu saat pilihanku jatuh padanya. Coba perhatikan Ibu, sejauh-jauhnya pikiranku berlogika, maka tak pernah satupun diantaranya aku akan melupakanmu.

Teramat takut anakmu ini jika cinta membuat kenangan kita menjadi pudar. Terlalu takut pula aku dengan cinta yang haram. Itu akan membuat hatiku tak tenang juga doa yang berbelok jauh untuk dikabulkan. Maka –lagi-lagi dengan malu-malu– aku sampaikan bahwa aku ingin menikah.

Ibu, mungkin ini perkara yang baru di telingamu. Belum genap rasanya menghabiskan waktu dengan si manja, tiba-tiba aku telah mendengar keinginannya untuk menikah. Perasaan, baru kemarin dia memintaku untuk disuapi.  Aku tahu itu. Bahkan aku mendengar hatimu bicara.

Namun ketahuilah Ibu, bahwa menikah adalah satu-satunya cara memuliakan cinta. Adalah satu-satunya cara mendekatkan diri pada Allah dan menenangkan hati. Adalah salah niatnya jika setelah menikah aku semakin jauh darimu. Adalah salah niatnya jika setelah menikah aku mengubah diriku menjadi orang yang tak kan kau kenal. Adalah salah niatnya jika setelah menikah aku sama sekali tak memperhatikanmu. Sedalam-dalamnya aku mengenal pasanganku, tak jauh lebih dalam aku mengenalmu. Sedalam-dalamnya aku mencintai pasanganku, tak jauh lebih dalam dari aku mencintaimu. Kau boleh pegang ucapanku.

Dengan kesungguhan aku memohon ridamu juga doamu.

Wahai Ayahku yang teramat aku cintai. Aku berpegang betul dengan prinsip-prinsip hidupmu. Kau lah yang mengajariku untuk bertanggung jawab dan berani mengambil resiko terhadap apapun yang sudah kuyakini dan kuputuskan.

Ketahuilah Ayah, keputusanku ini bukanlah keputusan sedetik. Namun telah dari kesekian ribu detik. Dan mantap kuputuskan, saat hatiku telah tenang sesaat aku berbincang-bincang pada Allah di malam-malam yang tak diketahui orang.

Aku tahu juga kau akan sama seperti Ibu. Belum rela anakmu akan berbagi waktu lebih banyak bersama pasangannya nanti. Namun, kutegaskan saja seperti kutegaskan pada ibu, bahwa tak ada yang menghilang dan berubah dariku paska kumenikah. Kecuali cucu-cucu yang akan meramaikan rumah saat gema lebaran nanti.

Sekali lagi, tenanglah Yah. Kau tetaplah pahlawan nomor satu yang tak kan pernah bisa digantikan oleh siapapun itu. 

Wahai Kakakku yang teramat kucintai. Ketahuilah dalam islam tak pernah ada yang namanya “melangkahi” saudara atau “Uang pelangkah” dalam urusan menikah. Kata Rasulullah, jika kita telah sanggup untuk menikah, maka menikahlah. Itu yang terjadi padaku sekarang.

Hematku, menikah dan kematian itu berada dalam level yang sama. Saat seseorang ingin sekali mati namun Allah belum menghendaki, maka mau cara apapun ia, tak kan mati. Sama halnya jodoh. Sudah berupaya sekalipun jika Allah belum ketok palu, maka jodoh tak kan sampai.

Aku berdoa selama ini pada Allah. Berikan aku pendamping terbaik yang siap menuntun pada jalan di ridai-Nya. Dan kini telah nyata. Ia telah datang. Allah telah meridai melalui keyakinan hati, hasil dari shalat istikharahku.

Maka Kakakku, dengan malu-malu, kusampaikan padamu aku ingin menikah.

Tenang saja, kita ini telah dibalut dengan kenangan indah di masa kecil. Mana mungkin aku lupa saat kau memegang tanganku erat saat akan menyebrang jalan. Mana mungkin kulupa bahwa kau lah yang menjagaiku saat Ayah dan Ibu tak sedang di rumah.

Tenang saja kakakku, menikah bukanlah pintu penghalang untuk kita meneruskan kenangan indah. Akan lucu bukan, saat kita semua telah menikah lalu memiliki anak? Anakku memanggil kau “Om”, aku tertawa membayangkan itu.

Wahai Kakakku. Aku siap dengan segala konsekuensinya paska menikah. Aku tak butuh apa-apa darimu selain rida dan doa untukku.

Aku mencintaimu Kak, selamanya. Tak kan pudar.

Wahai Adikku yang lucu. Masih membekas rasanya saat-saat indah bersamamu. Bermain bareng. Bercanda. Tertawa hingga larut. Di marahi Ayah dan Ibu. Menangis. Belajar bareng. Ke pasar. Dan beli ini-itu harus sama. Duh… tak pernah rela sebenarnya jika harus mengatakan ini.

Namun, Kakak tetap harus mengatakannya. Kakak akan menikah. Tapi kau jangan khawatir, alasan salah satu kenapa aku memilihnya adalah dia itu penyayang anak kecil. Lihat saja ponakan-ponakannya nempel selalu dengannya.

Sini, Dik, peluk Kakak. Doain Kakak yah. Percayalah Kakakmu ini sama seperti Kakak yang kau kenal dan tak kan pernah berubah. Jika mau curhat, main, belanja bareng, cepat-cepatlah hubungi Kakak. Jangan pernah sungkan.

I love u, Dik.

Love u all.

@orirabowo

Kebahagiaan Hati

Berjalanlah, yang jauuuuh. Tinggalkan dulu kampung halaman. Menjauh sejenaklah dari ketiak ibu dan pernak-pernik duniawi. Dan membaurlah bersama orang-orang yang mempunyai ciri khas sendiri dalam mengemas kehidupannya.

Berjalanlah. Pakai kakimu. Tinggalkan dulu motor atau mobilmu. Beriringanlah bersama sepeda pak tua yang membawa pisang ke pasar. Beriringanlah bersama ibu tua yang mengangkut sayur-mayur diatas pundaknya. Ngobrol. Apa saja. Tanya. Tanyakan apa saja. 

Perhatikan cara bicaranya. Perhatikan gurat senyumnya. Perhatikan mimik wajahnya. Perhatikan. Detail!

Jika sudah, maka kebersyukuran hidup akan memuncak. Jika sudah, maka kebahagiaan hati akan bertambah. Bukannya tiada yang perlu kita cari selain kebersyukuran dan kebahagiaan hati di hidup ini?

Ya tidak?

Cobalah.