Sepi

Ada kalanya aku suka sepi. Tak ada bunyi gemuruh. Tak ada bunyi hujan. Tak ada bunyi dengkuran roda. Tak ada bunyi angkuhnya tapak manusia. Bahkan tak ada sentuhan selain angin yang menyentuh. Tak ada pelukan selain daun jatuh yang memeluk. Pada saat bersamaan, bumi adalah alas, sedangkan langit adalah cermin.

Kemanapun kaki berpijak, bumi setia pada lembutnya. Kemanapun kaki berlari, langit setia merekam. Setiap langkah adalah sebuah kenikmatan. Setiap detik adalah kedamaian.

Terbenam kini kepala diatas dua tangan yang mengerat. Bebas lepas memandangi cermin besar itu. Saat itu, aku melihat aku.

Aku tersenyum, dia tersenyum. Aku mengerut, dia mengerut. Sebuah simponi kehidupan yang baru kusadari. Ternyata sepi membuatku mengenal diri. Ternyata sepi membuatku memeluk diri sendiri. Ternyata sepi, membuatku berkawan dengan diri sendiri.

Advertisements

Mau tak Mau, kita akan Sendiri

Alur kehidupan ini memang diarahkan untuk hanya bersandar pada Allah. Ketika kita masih muda, bolehlah memiliki banyak teman. Bisa tertawa dan menghabiskan waktu bersama. Tapi ketika salah satu dari teman kita itu telah menikah, kita akan kembali lagi untuk “sendiri”. Kita yang bersaudara sedarah. Sehari-harinya memupuk suka-duka bersama. Namun ketika kita telah menginjak masa pencarian, kita pun akan “sendiri-sendiri” lagi. Pun kita yang telah menikah. Bolehlah kita senang mendengar bagaimana bayi yang kita urus sedari merah kini telah memanggil kita “Ayah” untuk pertama kalinya. Bolehlah kita senang melihat bayi kita berjalan meski terjatuh berkali-kali. Namun –waktu yang egois itu– akan mengubah bayi mungil kita dulu ke tahap dewasa. Tahap dimana dia akan memutuskan untuk menikah. Dan kita pun, “sendiri” lagi.

Konsep “sendiri” lagi ini pun terekam sempurna ketika berabad-abad dahulu. Rasulullah yang menjadi satu-satunya panutan, meninggal dunia, meninggalkan sahabat-sahabatnya serta umat-umatnya. Tidak terbayang, bagaimana patahnya hati ketika panutan satu-satunya meninggalkan mereka. Kemana mereka mesti mengarah? Lagi dan lagi, semua orang di dunia ini akan kembali ke kata “sendiri” itu.

Mengapa begitu? Karena memang itulah sebenarnya hakikat dari hidup ini: benar-benar menyandarkan diri pada Allah. Tanpa Allah, kita lemah. Selemah-lemahnya dari kata lemah itu sendiri. Coba tanyakan, siapa yang kemudian menguatkan bagi seorang Ayah yang melihat anak gadisnya yang dulu masih merah, jalan masih terbata-bata, bicara masih apa adanya, kini telah dinikahi oleh pria pilihannya? Coba tanyakan, siapa yang kemudian menguatkan bagi seorang anak yang ditinggalkan oleh Ibunya selama-lamanya? Kesemua itu mengerucut pada satu jawaban: Allah. Allah lah yang menguatkan. Dan Allah lah tempat bersandar terabadi di jagat raya ini.

Kawan, cepat atau lambat kita akan berada di salah satu penjabaran diatas. Dan pahamilah, ada sesuatu yang tetap dapat mengikat kita dari teman kita, kita dari anak kita, kita dari saudara kita, dan kita dari pasangan kita. Apa itu? Doa dan kenangan. Maka sedari awal, perbanyaklah doa. Maka sedari awal, perbanyaklah ciptakan kenangan.

Nasihat untuk Lelaki

Cinta akan selalu bersifat hak.

Hanya dari memandang senyum yang tak pernah dijumpa. Hanya dari kekaguman akan tutur kata yang belum pernah disapa. Hanya dari kibasan rambut yang diterpa angin lembut. Akan ada selalu celah untuk cinta masuk hingga menyentuh hati.

Cinta datang nyatanya lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Siapapun. Tak terkecuali lelaki yang buta. Boleh jadi ia tak melihat, namun syahdunya cinta yang menyambut akan membuatnya merasa melihat. Tak terkecuali lelaki yang pincang. Boleh jadi ia tak sanggup berjalan, namun kekuatan cinta yang ia pun tak tahu dari mana asalnya, akan membuat ia mampu untuk berjalan. Sampai ia mendapatkannya. Sampai cinta tergenggam dan tak pernah lagi dilepaskannya. Kehilangan cinta, sama halnya kehilangan mata bagi lelaki yang telah buta sekalipun. Kehilangan cinta, sama halnya kehilangan keseimbangan bagi lelaki yang telah pincang sekalipun.

Sedemikian bepengaruh cinta bagi kehidupan seorang lelaki.

Tapi ketahuilah cinta akan memperburuk, jika digenggam dengan cara yang tak tepat.

Cinta akan memusnahkan, bagi jiwa yang salah menemuinya.
Dan percayalah, cinta akan selalu salah, selama cinta itu tak dalam payung pernikahan. The one and only. Hanya dengan ikatan suci cinta akan selalu benar.

Maka lelaki, bicaramu adalah dusta bagi perempuan yang belum kau halalkan.
Maka lelaki, nasihatmu adalah tipuan bagi perempuan yang belum kau halalkan.
Maka lelaki, genggamanmu adalah api bagi perempuan yang belum kau halalkan.
Maka lelaki, pelukanmu adalah sengsara bagi perempuan yang belum kau halalkan.
Maka lelaki, sentuhanmu adalah neraka bagi perempuan yang belum kau halalkan.

Hanya dua definisi bagi lelaki yang baik.
Adalah itu lelaki yang rela melepaskan perempuannya demi kebahagiaan hakiki orang yang ia cinta.
Adalah itu lelaki yang sesegera mungkin menikahi perempuannya.

Itu sebenar-benarnya bukti cinta dari seorang lelaki.