Cerpen: Fatma Medinah

 

Hasil gambar untuk menungguBagiku momen paling indah itu adalah ketika aku berjumpa dengan gadis yang dulu pernah melekat jelas di otakku. Tunggu dulu, kau pernah tahu ini kan, Kawan? Maksudku kau pernah kan merasakan kekaguman pada lawan jenis meski umurmu masih lebih muda dari pada umur kapur dikelas? Boro-boro mendefiniskan itu sebagai cinta, sisiran rambut saja masih belah tengah. Atau kata orang tua jaman dulu, kencing saja belum lurus. Masih ingusan. Ingusannya pun meler!

Namanya Medinah. Fatma Medinah. Satu-satunya perempuan yang dulu teramat cantik dikelasku. Jika dilihat dari timing sekarang memang ia cupu sekali. Tapi cupu bagi waktu sekarang berbeda definisi bagiku dulu. Cantik! Sumpah. Jika harus terjun dari gedung tertinggi sekalipun demi mengatakan ia cantik, aku rela. Tapi janganlah. Biarkan Tuhan yang menyabut nyawaku. Biarkan aku menyelesaikan tulisan ini dulu.

Kembali lagi ke Medinah. Dari namanya saja siapapun yang buta pastilah sepakat membayangkan wajah Medinah dengan satu kata: Bidadari. Apalagi bagi orang yang bisa melihat. Sepertinya tubuhnya diciptakan Tuhan dengan sangat hati-hati. Dari ujung rambut hingga ujung kuku putih bersih kakinya, sungguh sempurna. Tak ada satupun koreng macamku. Apalagi panu seperti nenekku. Kuman pun mikir-mikir jika harus hinggap ditubuhnya.

Entahlah kejadian dulu itu kapan. Aku tak mengingat waktunya, tapi aku mengingat betul kenangan itu. Ketika itu sengaja aku pergi ke Wartel –warung telepon– hanya demi mendengar suaranya. Sungguh aku tak mengatakan sekatapun. Dia berkata, “Halo… Haloo… Siapa ini?”, telah berhasil melemahkan tubuhku. Sering sekali aku pulang dengan terpincang-pincang sehabis mendengarkan suaranya via telepon. Lemas. Otot rasanya rapuh. Suaranya mematikan.

Dia anak orang kaya. Pergi-pulang sekolah selalu dijemput memakai mobil Blazer. Bayangkan itu betapa kaya dia. Satu kota tempatku tinggal hanya keluarganya pemilik satu-satunya mobil paling hits diera 2000-an itu. Duh, apalah aku ini. Lelaki bau matahari yang pulang harus berjalan ratusan kilometer. Yang setibanya dirumah, orang-orang dirumah akan menutup hidungnya. Kuciumi kanan-kiri tubuhku, memang kuakui bau sekali. Bau tengik. Jika harus dibandingkan dengan wanita itu tak cukup rasanya hanya bumi dan langit. Mungkin aku tak hanya bumi, tapi lapisan bumi hingga ke kerak-keraknya. Sedangkan Medinah layaknya langit, langit ketujuh. Jauh sekali.

Satu-satunya yang kumiliki adalah otak yang cukup pintar. Jika pelajaran matematika dimulai, tanpa guru menyuruh pun, akan kukerjakan hitungan di papan tulis dengan kapur yang kotaknya berlogo topi wisuda itu. Bahkan, percaya tidak percaya, sebelum guru masuk kelas pun, sudah duluan tanganku kuacungkan. Namaku sudah menggema seantero sekolah. Guru-guru kerap memuji. Lomba-lomba yang berkaitan dengan matematika pun sering aku ikuti. Itulah, satu-satunya yang bisa dibanggakan oleh anak marginal sepertiku ini.

Kau bertanya mengapa aku bisa sedemikan hebat dalam perhitungan? Simpel jawabannya. Jika telah pulang sekolah, tugasku melayani para pembeli di warung milik Ibuku. Inilah tempatku makan, tempatku mengerjakan PR, bahkan sering pula menjadi tempat tidurku saat aku tak mampu menahan kantuk di siang yang terik. Di warungku itu tak ada kalkulator. Jadi setiap transaksi akan kuhitung dengan corat-coret di atas kepala. Tak jarang para pembeli terutama Ibu-ibu, kerap membeli dalam jumlah banyak. Hal ini yang menjadikanku akrab dengan angka-angka. Bahkan aku bisa menakar gula sudah setengah kilo tanpa harus menimbangnya terlebih dahulu.

Nasib mengantarkanku pada momen paling menyenangkan, persis yang terjadi hari ini. Entahlah mengapa Tuhan adil sekali mempertemukanku dengan wanita sempurna itu. Siang ini dengan umurku kini 25 tahun, yang artinya sudah hampir 13 tahun aku tak lagi bertemu denganya paska lulus SD, aku sangat bebas melihatnya.

Kini ia telah berhijab. Hmm… Bagiku jika harus dibandingkan, cantik-kan ia yang sekarang dibanding dulu. Entahlah mengapa hijab dapat memaksimalkan kecantikan wanita berkali-kali lipat.

Aku kuliah mengambil jurusan matematika –hanya itu satu-satunya yang kusukai. Aku seperti tidak kuliah. Seperti bermain saja. Angka-angka memang selalu menyenangkan bagiku. Setelah lulus aku diterima di salah satu perusahaan multinasional di Ibukota. Jika weekend aku menyempatkan diri untuk menjadi guru les matematika. Mungkin memang jodohnya, Tuhan mengirimkan aku kerumah Medinah untuk menjadi guru les matematika adiknya.

Tahukah kau, Kawan, sesaat pertama kalinya lagi aku melihat wajahnya, aku canggung sekali. Aku sempat terdiam satu menit didepan pintu rumahnya. Demikian juga ia. Kami bertatapan kaku. Mencoba mengaduk-ngaduk memori didalam otak masing-masing, “Rasanya aku mengenali orang ini,” begitulah yang yang ada didalam benak kami. Ketika memori itu telah sedikit berputar aku langsung melafaskan namanya kaku, “M-e-d-i-n-a-h?”

“Kau… murid matematika terpintar itu?” sambutnya pendek.

Seharusnya aku kesal. Sekalipun tak pernah ia dapat menyebut namaku. Apakah selama ini namaku tak pernah berhembus di kepalanya? Tapi sudahlah. Tak penting.

“Iya. Arjuna,” jawabku.

“Oya… Ya ampun. Tak sekalipun aku mengira ini bisa terjadi. Apa kabar?”

Hari pertama itu membuatku senang tak kepalang. Yang semula tujuanku adalah mengajari adiknya, berubah total. Kami reunian!

Heiii… reunian itu ramai. Jika dua orang saja tak pantas disebut reuni!. Kenapa sih sewot sekali. Kami memang berdua. Tapi aku menyimpan seribu memori tentangnya. Seribu ditambah dua sama dengan seribu dua. Sudah sangat layak ini disebut reuni. Biarkan aku dan semua kenanganku terhadapnya yang meramaikan. Sudah kau diam saja!

Rumahnya besar. Jika kaya maka tetaplah kaya. Tapi pengalaman menjadikanku lelaki dengan kepercayaan diri yang tinggi. Gaya bicaraku berubah total. Aksen bahasa Indonesiaku pun kini sudah sedikit-sedikit ala bule yang mengucapkan bahasa Indonesia. Maklum, bekerja di perusahaan multinasional aku sudah terbiasa menggunakan bahasa inggris. Rambutku kini telah kelimis dengan potongan pendek disisi kanan-kiri –persis model rambut ter-hits jaman ini. Badanku pun tak lupa kuberikan parfum. Intinya, jangan sesekali kau membandingkan aku yang sekarang dengan aku yang dulu. It was totally different!

Hari pertama dihiasi dengan canda tawa. Kami menertawakan Pak Junaidi, guru Penjaskes, yang selalu berbicara dengan aksen jawa yang kental. “Kau ingat kan Juna, kau dulu pernah kencing di celana karena menahan push up saat pak Junaidi menyuruhmu.” Medinah tertawa lebar. Sialan. Dari semua kenangan, kenapa hanya itu yang ada di otaknya. Dengan malu-malu aku pun tertawa. Sesekali kami menahan perut saking gelinya saat mencoba lagi mengulik masa-masa putih-merah.

Saat dia tertawa dengan mata yang terpejam, aku melihatinya dengan syahdu. Damainya melihat ia sedekat ini. Dulu rasanya tak mungkin bisa melepaskan tawa seperti detik ini. Kenapa waktu baru mengizinkannya hari ini?

Jika bekerja, aku tak sabar menunggu weekend. Karena hanya di weekend aku dapat menemuinya. Ia kini tumbuh menjadi wanita dewasa. Ia menjadi designer baju-baju muslim merangkap modelnya sendiri. Lelaki mana yang tak luluh melihatnya kini.

Entahlah sudah berapa weekend aku menghabiskan waktuku kerumahnya. Aku bersemangat sekali. Tak satu hari pun aku absen. Sesekali aku mengajari adiknya yang masih SD. Yang cantiknya sama dengan Kakaknya. Sesekali kucuri pandang. Terlihat didepanku, Medinah sedang asyik menari-narikan pensilnya diselembar kertas HVS. kubandingkan wajah anak ini dengan Medinah. Cukup mirip.

Hari ini sedikit berbeda. Sudah minggu ketiga aku tak lagi mendapati Medinah dirumahnya. Minggu pertama aku hanya berpikiran positif, mungkin ia sedang sibuk. Minggu kedua lagi-lagi aku berpikiran positif, mungkin ia sedang diluar kota. Namun minggu ketiga ini mulutku telah gatal untuk menanyakan dimana ia. Biasanya ia ada membawakan semangkuk mie rebus yang lengkap dengan potongan cabai kecil kesukaanku. Biasanya ia duduk didepanku sambil mendesain baju untuk usahanya. Kemana ia? Aku rindu.

“Lola,” aku memanggil adiknya Medinah yang terlihat sedang serius mengerjakan soal, “Kemana kakak, kok gak kelihatan sudah tiga kali aku kesini?”

Lola menatapku, “Kakak?” aku mengangguk, “Ada kok di kamar.”

“Kakakmu lagi sakit? Kenapa tidak keluar menemuiku?” ujarku.

“Mau kupanggilkan?”

“Boleh.” Jawabku.

Aku sendirian diruang tamu. Sesekali aku memainkan handphone. Sesekali aku melihat-lihat lukisan-lukisan berkelas di dinding rumah ini. Saat hampir tiga menit berlalu, Lola muncul dihadapanku.

“Nih kakak, guru lesku mau tahu kakak sedang apa dikamar.” Lola mencoba menjelaskan.

Aku terperangah.

“Bukan maksudku kakakmu yang ini, Lola. Yang cewek. Bukan cowok,” jelasku.

“Yang cewek?” Lola bingung.

“Iya. Medinah. Fatma Medinah,” ujarku.

“Ohh… Mama.”

“Mama?” Aku terkejut.

“Medinah itu nama mama, Pak Guru. Mama sedang keluar negeri dengan Papa. Katanya sih pengen hunting foto gitu, Pak.”

Aku terdiam. Diam seribu bahasa. Medinah telah menikah? Aku salah sangka selama ini? Aku kira ini adiknya. Ternyata anaknya. Pantas saja wajah Lola mirip sekali dengan Medinah.

Apalah ini?

Tuhan, apalah ini? Tolong jawab, Tuhan. Aku bergumam.

“Pak guru… Pak?” Lola melambai-lambaikan tangan dikedua bola mataku.

Aku tersadar. Tak lagi menghiraukan Lola. Kubereskan buku-buku, memasukkannya kedalam tas. Aku bergegas keluar. Kulihat langit, mendung. Kutatap awan, sendu. Tapi lebih sendu hatiku.

Aku berjalan menjauhi rumah mewah itu. Jalanku terpincang-pincang. Persis seperti ketika aku menelponnya dulu. Bedanya dulu aku terpincang-pincang bahagia, namun sekarang aku terpincang-pincang bermuram durja. Dulu suaranya melemahkanku, namun sekarang fakta yang baru kuketahui menghancurkan tubuhku. Jika aku tak kuat saat itu, pastilah security komplek menemukan mayat seorang lelaki yang hatinya telah berceceran di sepanjang jalan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s