Aku akan Menikah

Wahai ibu yang teramat aku cintai. Anakmu kini telah tumbuh dewasa. Telah bisa memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Bahkan dengan malu-malu harus aku akui, anakmu kini telah mengenal apa itu cinta.

Cinta dimataku hanya satu, yakni cinta yang kau ridai hingga Allah pun meridai.

Aku mendeskripsikan betul apa itu cinta. Disebut cinta jika aku tak kan melupakan-Nya saat hatiku jatuh padanya. Disebut cinta jika aku semakin memuliakanmu saat pilihanku jatuh padanya. Coba perhatikan Ibu, sejauh-jauhnya pikiranku berlogika, maka tak pernah satupun diantaranya aku akan melupakanmu.

Teramat takut anakmu ini jika cinta membuat kenangan kita menjadi pudar. Terlalu takut pula aku dengan cinta yang haram. Itu akan membuat hatiku tak tenang juga doa yang berbelok jauh untuk dikabulkan. Maka –lagi-lagi dengan malu-malu– aku sampaikan bahwa aku ingin menikah.

Ibu, mungkin ini perkara yang baru di telingamu. Belum genap rasanya menghabiskan waktu dengan si manja, tiba-tiba aku telah mendengar keinginannya untuk menikah. Perasaan, baru kemarin dia memintaku untuk disuapi.  Aku tahu itu. Bahkan aku mendengar hatimu bicara.

Namun ketahuilah Ibu, bahwa menikah adalah satu-satunya cara memuliakan cinta. Adalah satu-satunya cara mendekatkan diri pada Allah dan menenangkan hati. Adalah salah niatnya jika setelah menikah aku semakin jauh darimu. Adalah salah niatnya jika setelah menikah aku mengubah diriku menjadi orang yang tak kan kau kenal. Adalah salah niatnya jika setelah menikah aku sama sekali tak memperhatikanmu. Sedalam-dalamnya aku mengenal pasanganku, tak jauh lebih dalam aku mengenalmu. Sedalam-dalamnya aku mencintai pasanganku, tak jauh lebih dalam dari aku mencintaimu. Kau boleh pegang ucapanku.

Dengan kesungguhan aku memohon ridamu juga doamu.

Wahai Ayahku yang teramat aku cintai. Aku berpegang betul dengan prinsip-prinsip hidupmu. Kau lah yang mengajariku untuk bertanggung jawab dan berani mengambil resiko terhadap apapun yang sudah kuyakini dan kuputuskan.

Ketahuilah Ayah, keputusanku ini bukanlah keputusan sedetik. Namun telah dari kesekian ribu detik. Dan mantap kuputuskan, saat hatiku telah tenang sesaat aku berbincang-bincang pada Allah di malam-malam yang tak diketahui orang.

Aku tahu juga kau akan sama seperti Ibu. Belum rela anakmu akan berbagi waktu lebih banyak bersama pasangannya nanti. Namun, kutegaskan saja seperti kutegaskan pada ibu, bahwa tak ada yang menghilang dan berubah dariku paska kumenikah. Kecuali cucu-cucu yang akan meramaikan rumah saat gema lebaran nanti.

Sekali lagi, tenanglah Yah. Kau tetaplah pahlawan nomor satu yang tak kan pernah bisa digantikan oleh siapapun itu. 

Wahai Kakakku yang teramat kucintai. Ketahuilah dalam islam tak pernah ada yang namanya “melangkahi” saudara atau “Uang pelangkah” dalam urusan menikah. Kata Rasulullah, jika kita telah sanggup untuk menikah, maka menikahlah. Itu yang terjadi padaku sekarang.

Hematku, menikah dan kematian itu berada dalam level yang sama. Saat seseorang ingin sekali mati namun Allah belum menghendaki, maka mau cara apapun ia, tak kan mati. Sama halnya jodoh. Sudah berupaya sekalipun jika Allah belum ketok palu, maka jodoh tak kan sampai.

Aku berdoa selama ini pada Allah. Berikan aku pendamping terbaik yang siap menuntun pada jalan di ridai-Nya. Dan kini telah nyata. Ia telah datang. Allah telah meridai melalui keyakinan hati, hasil dari shalat istikharahku.

Maka Kakakku, dengan malu-malu, kusampaikan padamu aku ingin menikah.

Tenang saja, kita ini telah dibalut dengan kenangan indah di masa kecil. Mana mungkin aku lupa saat kau memegang tanganku erat saat akan menyebrang jalan. Mana mungkin kulupa bahwa kau lah yang menjagaiku saat Ayah dan Ibu tak sedang di rumah.

Tenang saja kakakku, menikah bukanlah pintu penghalang untuk kita meneruskan kenangan indah. Akan lucu bukan, saat kita semua telah menikah lalu memiliki anak? Anakku memanggil kau “Om”, aku tertawa membayangkan itu.

Wahai Kakakku. Aku siap dengan segala konsekuensinya paska menikah. Aku tak butuh apa-apa darimu selain rida dan doa untukku.

Aku mencintaimu Kak, selamanya. Tak kan pudar.

Wahai Adikku yang lucu. Masih membekas rasanya saat-saat indah bersamamu. Bermain bareng. Bercanda. Tertawa hingga larut. Di marahi Ayah dan Ibu. Menangis. Belajar bareng. Ke pasar. Dan beli ini-itu harus sama. Duh… tak pernah rela sebenarnya jika harus mengatakan ini.

Namun, Kakak tetap harus mengatakannya. Kakak akan menikah. Tapi kau jangan khawatir, alasan salah satu kenapa aku memilihnya adalah dia itu penyayang anak kecil. Lihat saja ponakan-ponakannya nempel selalu dengannya.

Sini, Dik, peluk Kakak. Doain Kakak yah. Percayalah Kakakmu ini sama seperti Kakak yang kau kenal dan tak kan pernah berubah. Jika mau curhat, main, belanja bareng, cepat-cepatlah hubungi Kakak. Jangan pernah sungkan.

I love u, Dik.

Love u all.

@orirabowo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s