Cerpen: Cemburu pada Payung

Hari ini hujan deras. Badai! Tubuhku tertusuk, di setiap kali hujan menyentuh. Bagiku hujan adalah fenomena terhebat yang diciptakan Tuhan. Hanya uap air, bukan butirnya yang naik. Tetapi luar biasanya di atas sana, ia diramu lalu tercipta.

Orang lain bolehlah memilih berteduh. Namun tidak bagiku. Dibawah langit nan sendu ini, tubuhku tersapa tanpa sehelai benangpun yang melekat di badan. Kuabaikan payung. Kubiarkan saja hujan menyapa sesukanya. Lama sekali rasanya tubuhkan tak disapa hujan. Lama sekali rasanya penciuman tidak menikmati aroma basah tanah yang dipeluk hujan.

Hujan adalah momen terbaik untuk merenung. Entahlah engkau sama atau tidak denganku. Setiap kali hujan, setiap kali itu pula otakku memutar rekaman di masa yang lalu. Kulihat disana –didalam rekaman itu– seorang perempuan yang menerabas hujan sama seperti apa yang kualami sekarang. Tubuhnya bongsor. Rambutnya sebahu. Disaat itu ia mengenakan baju bermotif pelangi. Kulihat ditangan kanannya memegang erat sebuah keranjang. Keranjangnya bolong. Terlihat pucuk sayur kangkung mengintip.

Perangainya menunjukkan ia telah bersuami. Namun detik itu mataku belum mendapati siapapun yang menghampirinya. Ia berjalan. Dilihatnya kiri-kanan, sepi. Sesekali ia menyeka air di wajahnya. Lalu berjalan, entah kemana.

Beberapa detik setelah itu, baru munculah aktor kedua dari cerita ini. Ia lelaki. Tinggi. Jika mereka berjajar, maka tinggi wanita hanyalah sampai di pundak sang lelaki. Lalu dari kejauhan, aku melihat mereka saling membalas senyum, saling melempar gurauan, terlihat kini wajah sepi wanita itu menjadi wajah pelangi, persis dengan baju yang ia kenakan.

Sang lelaki dengan cekatan mengambil keranjang dari tangan kanan wanita. Tangan kirinya membawa keranjang, sedangkan tangan kanannya  berusaha untuk mengepakkan payung yang sedari tadi dibawanya. Melihat itu, wanita tiba-tiba menahan. Kepalanya menggeleng cepat ke kanan-kiri dengan mata protes. Untuk kemudian aku baru mengerti. Wanita itu cemburu dengan payung. Diurungkanlah payung itu terbuka untuk kemudian diselipkan diantara sayur didalam keranjang. Dan ketakjuban baru kurasakan setelah momen ini. Tangan kiri lelaki terlihat membawa keranjang. Sedangkan tangan kanannya merangkul tubuh wanita bongsor itu.

Mereka berjalan dengan denting hujan sebagai pengiringnya. Mungkin seumur hidupku, barulah mereka pasangan penikmat hujan. Mungkin seumur hidupku, barulah wanita itu yang cemburu walau hanya dengan sebuah payung.

Aku menangis. Betapa sederhananya cinta. Betapa indahnya jika cinta memandang besar bagi sesuatu yang terlihat begitu kecil. Ah, pasangan hebat itu membuat air mataku sulit dibendung.

Rekaman itu berhenti.

Kulihati tubuhku, basah kuyup. Kutadahkan tangan, layaknya menampung hujan. Kulihat langit. Lalu berbicara pada Tuhan, semoga kelak akan ada ia yang mendampingiku, yang selalu menjadikan besar untuk sesuatu yang sangat sederhana dimata jiwa yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s