Di Balik Sebuah Ucapan

Jika tanah adalah satu-satunya harta yang diwariskan oleh seorang Ayah pada anaknya, maka sudah sewajarnya sang anak menjaganya, merawatnya, membenamkan benih hingga tumbuh, lalu tak kan pernah rela jika tanahnya diusik oleh seseorang, sekalipun sejengkal. Karena tanah itu bukan sekedar tanah, melainkan wujud lain dari Ayahnya.

Kami –umat muslim– pun begitu.

Kami tak pernah sedetikpun berjumpa dengannya. Yang kami tahu tentangnya adalah dia indah dalam parasnya, damai dalam bahasanya, santun dalam tingkah lakunya, dan heroik dalam perjuangannya.

Pernah ketika kami kecil, guru mengaji menceritakan bahwa dalam akhir hayatnya pun yang dia ingat bukan dirinya atau hartanya, melainkan kami, para umatnya. Bayangkan itu! Betapa kagum dan cinta kami dibuatnya.

Sayangnya kekaguman dan kecintaan kami itu tak bisa kami sinergikan langsung padanya. Karena tubuh kami dan tubuhnya telah berbeda dimensi.

Atas dasar itulah satu-satunya yang bisa kami perbuat agar kami selalu bersinergi dengannya adalah dengan menjaga warisan yang ditinggalkannya. Warisan itu luarbiasa sekali. Bahkan Tuhan kami sendiri pernah menantang pada semua kaum terdahulu untuk mencoba membuat satu saja kalimat yang seindah isinya. Para cendekia atau pun penyair, angkat tangan dibuatnya.

Dan tahukah kau apa itu?

Adalah itu Al-Qur’an.

Itu warisan yang mahaindah. Yang sudah sepatutnya kami perlakuan seperti tanah itu. Tak kan rela bila ada seseorang –tak peduli dia kaum kami atau bukan– yang mengusik, terlebih lagi memainkan kata seenaknya. Tak kan kami biarkan.

Jika kau ingin melihat seberapa benar ucapan kami ini, maka kau telah mengupayakannya. Mulutmu telah berhasil menggerakkan kami semua dalam satu tujuan: menjaga warisan dari seseorang yang teramat kami kagumi. Karena bagi kami, menjaganya adalah wujud lain dari kepatuhan dan kecintaan kami padanya.

Kami anggap dengan membaca penjabaran ini kau sudah mengerti. Jika kau meminta maaf dengan sepenuh hati, maka kami pasti maafkan. Karena orang yang paling kami kagumi itu menuturkan bahwa memaafkan merupakan poin yang terkandung didalam kitab yang kami jaga ini. Dan kami harus mengabadikannya didalam kehidupan.

Selebihnya justru kami berterima kasih atas ucapan itu. Ucapan yang telah mengudara, melayang, hingga merambat di kelas-kelas sekolah dan kampus, di pasar, di balai desa, di kantor, di gerobak sayur, di pos Kamling, dan dimana-dimana telah membuat kami sadar akan sesuatu yang selama ini kami tak peduli.

Sesungguhnya dibalik sebuah ucapan itu, ada cara lain Tuhan kami mengingatkan. Kami dingatkan bahwa untuk sesuatu yang sangat mendasar, yakni akidah, haruslah sejalan. Dan kita, tak mungkin bisa sejalan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s