Mama

Mama. Jangan takut. Tidak ada yang menghilang dari kita. Tidak ada pula yang berkurang dari kita. Karena kita diikat dengan perjuangan. Karena kita diikat dengan doa yang engkau lantunkan.
 
Mama. Jangan takut. Tidak ada yang perlu engkau takuti. Tidak ada pula yang harus ditakuti. Yang jahat akan sirna dengan yang baik. Karena cahaya kebaikan itu menyilaukan kejahatan. Karena cahaya kebaikan itu abadi.
 
Mama. Jangan cemas. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah berhenti menghitung. Dan akan terus menghitung. Mengkalkulasikan kebaikan, dan bukan suatu saat, tapi telah terlihat. Satu persatu telah ada buktinya. Buah dari polosnya engkau memandang dunia.
 
Mama. Ketahuilah disaat mereka menamakan dunia itu dengan emas, engkau menamakan dunia dengan kami. Disaat mereka menginterpretasikan dunia itu dengan berlian, lagi-lagi engkau simpel: cukup dengan kami. Bagimu tak kan mempan emas disandingkan, tak kan pula abadi berlian dikagumi, hanya kami, anak-anakmu, yang engkau dunia-kan. Pun bagi kami, engkau adalah pemilik kekal dunia ini.
 
Mama. Kuatlah. Sampai kapanpun, kuatlah. Meski batu melukai, angin brutal menerjang, petir keji menampar, namun, kuatlah. Sampai kapanpun. Kuatlah.
 
Santai saja mama. Bukannya engkau yang mengajari kami kesederhanaan dihidup ini? Bukannya juga engkau yang menyederhanakan masalah? Dan bukannya kita belum benar-benar baik secara materi? Lalu untuk apa engkau terkejut sesaat itu menampar kita lagi? Bukannya telah berkali-kali? Bukannya mereka sudah seperti teman? Bahkan sudah seperti anak tirimu, kan? Jadi, mari kita ngobrol santai dengan mereka itu. Bila perlu kau buatkan pisang goreng agar sempurna dengan hujan hari ini.
 
Mama. Sudahlah. Masak sana. Karena memasak adalah caramu menghempaskan sakit. Karena memasak adalah caramu meramu rindu. Memasaklah. Sesukamu. Lebih baik buat kami lapar dan merindukanmu. Daripada engkau fokus pada titik yang jahat itu.
 
Mama. Kami tak kan kemana-mana. Darah ini telah menyatu dengan sayur pindang ikan patinmu. Otot ini telah berlemak dengan daging rendangmu. Dan otak ini telah terisi penuh kepulan asap masakanmu. Tenang saja, kami, sampai kapanpun akan selalu berdiri didepanmu.
 
Aku, bagian dari kami, sedang merindukanmu. Lebih tepatnya sedang ingin memelukmu dengan kata-kata. Semoga pelukanku menguatkanmu…
 
Bandung, 09 Mei 2016.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s