Pernikahannya

Aku masih mengantuk. Masih tak berdaya membuka mata. Tiba-tiba suara pengganggu itu menghancurkan mood soreku.

“Woy bukalah dulu matamu itu. Lihatlah lenganku ini. Irih kah kau?”

“Ini baru lengan lelaki boy!” dia meninju-ninju bangga atas gundukan otot di lengan kanannya.

“Mana coba kulihat lenganmu. Hahaha… Ini lengan atau perut sapi?” aku yang masih mengantuk sudah pasrah saja disemprot dengan kesombongannya.

“Kau harus tahu bagaimana mendidik ototmu agar besar. Ini namanya Push-up. Fungsinya biar lenganmu macam gunung Jempol di Lahat sana. Bukan seperti lemak-lemak kulit sapi! Ini Sit-Up. Fungsinya biar perutmu tak lagi maju macam ingin kabur itu.”

Dia memancing emosiku.

“Sini, bangunlah. Tinjulah perutku ini sesukamu!” Dia menepuk-nepuk perutnya dengan raut muka yang sombong.

Kupingku mendengar kalimat itu dengan sempurna. Kalimat itu mengalir deras hingga menumpuk dikepalan lima jariku. Kapan lagi bisa meninju perut kawan yang menjadi musuh bebuyutan, pikirku.

Aku memejamkan mata, menghirup nafas, lalu mengingat semua kejahatan yang telah dia lakukan padaku. Langkah ketiga itu adalah caraku untuk mendistribusikan enerji –lebih tepatnya emosi- kedalam kepalan tangan kananku. Aku sudah tak sadar aku baru saja terbangun. Emosi yang meluap melupakan semua itu. Aku membuka mata dengan kepalan yang berapi-api. Kutatap matanya, dia mencibir. Songong!

Kutarik kepalanku agak kedalam dan langsung kuhinggapkan kepermukaan perut kurus berotot itu sepersekian detik. Dug…! kulihat ekspresinya, dia tertawa. Songong! Dug! Kulihat lagi mimik wajahnya, biasa saja. AKU MAKIN KESAL –sengaja kukapitalkan, emosi! Untuk yang ketiga aku tidak main-main. Aku memejamkan mata, mencari-cari lagi rekaman kejahilannya dulu. Dia pernah menyembunyikan sandalku saat aku mengaji, lalu aku pulang  dengan nyeker. Ah… tidak seberapa. Dia pernah memberitahukan persembunyianku kepada si pencari saat aku dan kawan-kawanku bermain petak umpet. Hmm… biasa saja. Dia pernah mencoret-coret mukaku dengan membuat kumis, jenggot, dan tahi lalat saat aku pulas tertidur. Biasa saja… Sedetik setelah rekaman ketiga itu berakhir, ada satu lagi rekaman yang tiba-tiba berputar. Dia pernah memencet cacarku hingga pecah dan membuatku sakit tak terperi! Bayangkan betapa tersiksanya hidupku. Emosiku semakin meluap. Jari-jariku bergerak sudah tak sabar. Kurapatkan lagi mereka agar memberi tekanan lebih banyak sesuai prinsip fisika. Kulirik wajahnya, dia tampak ketakutan. Dan… Dug! Dug! Dug! Aku meninjunya tiga kali tanpa jeda. Kesal yang telah larut dalam emosi hancur dan tumpah diperut sialan itu. Kutatap wajahnya sedikit berubah dari sebelumnya. Hahaha… Rasakan. Aku sudah seperti bersukutu dengan setan.

Tapi memang dasarnya dia angkuh, mau berapa kalipun tetap saja dia sok kuat. Dia hanya mengatakan, “Tinjuanmu itu seperti gigitan semut saja.” Dia menambahkan lagi, “Semut kecil, pendek, jelek, dan masih ingusan.”

Kesal!

===

Ada yang berbeda dari bayang disepertiga malam kemarin. Tubuhnya yang kurus berisi berdiri asyik menatap sejadah sebagai tempat sujudnya. Mulutnya yang berkomat-kamit memuja Tuhan seperti kicauan burung penyambut pagi. Gerakan-gerakannya timbul-tenggelam dibayangan yang kulihat ditembok hotel yang kami tempati. Entah apa yang dia sulam dari doanya. Yang jelas ada butir permintaan ketenangan dan kelancaran untuk hari itu.

Hari itu adalah hari yang agung. Kami sedari pagi yang paling pagi telah mengumpulkan nyawa demi harmonisasi dihari agungnya. Bahkan alam pun bersuka cita atas hari itu. Jalanan telah siap menyambut, pohon telah mulai mendistribusikan oksigen paling murni,  burung-burung kompak bernyanyi, bahkan jika aku diberi kemampuan untuk melihat, mungkin aku telah melihat para malaikat saling bantu memasang sarung dan bendo, menyelaraskan dengan kami yang telah dulu memakai baju adat sunda.

Pagi itu dia gagah sekali. Memakai baju putih, kain rereng, bendo sebagai penutup kepala, kalung bunga melati, dan keris yang disematkan disaku sebelah kanannya. Dia dengan didampingi Bapak-Ibuku berjalan pelan menuju sebuah ruangan.

Ruangan itu telah di-set sedemikan cantiknya mengikuti prinsip estetika ergonomi. Saat kau memasuki ruangannya kau akan berjalan mengikuti karpet merah yang telah dihiasi bunga dan lampu-lampu dikanan-kirinya. Disebelah kirimu, akan kau dapati kursi-kursi tamu yang tidak mau kehilangan momen agung raja dan ratu sehari itu. Maju sekitar lima langkah, disebelah kanan, akan kau dapati sebuah meja persegi yang telah siap menjadi saksi. Diatasnya telah tersedia beberapa catatan dan tiga microfon agar lebih menggetarkan arsy-nya Tuhan sesaat momen itu berjalan.

Kursi-kursi telah terisi. Musik pengiring telah dimatikan. Microfon telah hidup. Semua orang yang berada disana tertuju pada satu titik: meja akad itu. Bisa dilihat kini meja itu dilingkari oleh kedua orang saksi, penghulu, bapak dari mempelai perempuan, ibu dari kedua mempelai, dan sepasang manusia yang akan merajut kasih selamanya. Dan persis didepan pasangan itu ada beberapa deret kursi yang didukuki berjarak oleh Bapakku, aku, kakakku, dan saudara dekat dari mempelai perempuan.

Acara dimulai dengan tilawah. Sesekali kulirik laki-laki gagah itu, tampak tenang. Ya… memang seperti itulah dia. Mungkin dialah satu-satunya lelaki yang tidak mempunyai rasa deg-degan. Bahkan kemarin malamnya pun masih sempat bercanda ini-itu tanpa seperti ada ketegangan keesokan harinya. Aku tahu persis perjuangan lelaki itu untuk mendapatkan perempuannya. Tidaklah mudah bagi seseorang yang harus mengumpulkan modal menikah sembari membayari hutang ayah-ibunya. Tidaklah mudah bagi seseorang yang membayari kuliahnya S1-nya sendiri sembari mengumpulkan modal pernikahannya. Tetapi dia bisa. Dan dia adalah kakak kandungku. Yang menjadi teman berkelahi kecilku dulu.

Dia memutuskan menikah, melangkahi kakak kedua kami. Prinsipnya: menikah itu tak harus membutuhkan mapan, melainkan membutuhkan tanggung jawab lahir dan batin. Dalam islam tidak ada istilah melangkahi, tidak ada pula istilah mapan terlebih dahulu. Jodoh itu rejeki, dan hanya orang-orang yang luarbiasa yang dapat menerjemahkan rejeki itu kedalam sebuah ikatan. Dia ingin setiap apa yang dia lakukan berbuah pahala. Dan menikah adalah jawabannya.

Selesai tilawah maka dimulailah momen yang paling sakral itu. Momen dimana bapak perempuan memegang erat tangan lelaki yang dipercayainya untuk menjaga, mengasihi, dan mencintai anaknya tanpa akhir. Pada momen itu sang laki-laki tampak jantan sekali. Ia mengikrarkan diri, memastikan kebahagian hidup, membagi waktu, menafkahi, dan memberikan surga untuk keluarganya kelak. Pada momen itu pula para malaikat berkumpul ikut mengaminkan harapan dan doa dari semua orang disana. Aku menahan nafas saat dia melafaskan ijab qabul. Aku terpejam. Mendoakannya agar lancar mengucapkannya. Dan momen itu berlangsung cepat. Tidak terasa para saksi serta semua yang ada diruangan itu sepakat mengucapkan “Sah!”, bertanda prosesi sakral telah terlewati dengan kemuliaan.

Alhamdulillah…

Seketika kata itu memenuhi ruangan, seketika itu juga arsy nya Tuhan terguncang. Seketika itu pula hatiku, mamaku, papaku, dan kakakku terguncang. Aku menangis tak terbendung. Aku membuka kacamataku dan tertunduk. Kakakku yang berada tepat disampingku pun seperti itu. Mamaku yang berada didepanku sibuk mengusap-ngusap airmatanya yang tak kunjung kering. Pun sama apa yang dilakukan oleh Papaku diujung sebelah kananku. Walau kami berbeda jarak namun kami satu irama: menangis bahagia melepas kakanda sayang.

Kami berharmonisasi mengingat kenangan-kenangan yang telah tercipta. Masih tak percaya kini salah satu darah kami telah menikah. Kenangan itu memang dahsyat. Dan memang hanya kenangan yang dapat menyatukan. Aku tak tahu apa yang terlukis diotak kami masing-masing tentang kenangan itu. Yang jelas kalau aku, tak percaya kini musuh bebuyutan kecilku telah menjadi milik orang. Laki-laki yang sok kuat itu, yang jahil itu, yang telah memecahkan cacarku itu, kini telah menikah.

Namun percayalah tak hanya kejahilan yang dia lakukan. Dialah yang berada didepanku saat ada orang yang ingin melukaiku. Dialah orang yang ikut menangis saat cacarku pecah. Dialah yang merakit tamiyaku hingga aku tak terkalahkan. Dialah yang mengejar layangan putus saat aku menginginkannya. Dialah yang menyelamatkanku saat aku hampir mati tenggelam disungai. Dan dialah yang ikut serta menyematkan biaya hingga aku dapat bergelar sarjana. Dialah inspirator dalam hidup dan kehidupanku.

Dalam hidupnya jarang sekali ia menangis. Dan akhirnya aku bisa melihatnya menangis saat dia melihat kami menangis. Itulah kami. Bahkan dalam urusan menangis pun, kami dalam satu irama. Kami tercipta memang dalam kesederhanaan tapi kami hidup dalam kebahagiaan. Kami hidup terikat pada kenangan. Kami hidup terikat dalam perjuangan. Apa yang kami inginkan, selalu melalui tahap doa dan perjuangan.

Selamat kakanda, Faritno Zuliansyah atas pernikahannya. Semoga menjadi imam keluarga yang selalu dibanggakan Allah. Semoga akan terlahir penerus generasi kita yang kuat mental dan fisiknya, yang dirindukan kehadirannya oleh semua orang, yang ibadahnya luarbiasa, dan selalu mengedepankan azaz manfaat dibanding apapun.

Aamiin.

===

Malam itu aku melihat dia dikamar mama. Mama sibuk menggosok-gosok perutnya dengan minyak kayu putih. Terlihat dari raut mukanya nampaknya dia kesakitan. Ketika mama tanya kenapa, dia menjawab sendu, “Ori meninju perutku.” Dia menjabarkan semuanya hingga mama pun menyalahkannya.

Aku terkekeh sambil keluar air mata. Rupanya demi menjaga integritasnya maka sore itu tak ada satupun keluhan sesaat pukulan mendarat diperutnya. Padahal dia menahan sakit tak terperih.

Hahahaha… Dasar sok kuat! Makan tuh semut kecil, pendek, jelek, dan masih ingusan!

 

Advertisements

5 thoughts on “Pernikahannya

  1. Barakallahu lakuma wa baraka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fii khair Vini dan Farit. Mwantaap kali ijab qabulnya. Jadi berkaca-kaca membaca tulisan ori yg satu ini. Keluarga adalah segalanya ^ – ^

  2. barokallah buat masnya mas Ori dan istrinya… semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah. dikaruniai keturunan yang sholeh sholehah. amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s