#ORMenjawab Hidayah itu ditunggu atau dijemput?

#ORMenjawab Pertanyaan #8 dari Mahardhilanz:
Hidayah dari Allah itu sebenarnya datang dengan sendirinya apa perlu dijemput?


Seorang bijak pernah mengungkapkan:
Mungkin bagi seorang pria sangatlah mudah mengangkat barbel-barbel berat untuk memperbesar ototnya, namun belum tentu mudah baginya mengangkat mata saat azan subuh telah didengarnya.

Benar sekali. Sepakat.

Yang memperingan langkah untuk segera menghadap Tuhan sesaat azan berkumandang bukanlah kaki kita, melainkan karena hidayahnya Allah. Yang mempermudah tangan kita untuk segera menyedekahkan sebagian harta kita bukanlah karena kemampuan finansial kita, melainkan karena hidayahnya Allah.

Hidayah itu sekalinya telah disematkan oleh Allah ke seorang hamba-Nya, maka mudahlah segalanya. Kaki terasa ringan untuk ke masjid, mulut terasa gampang untuk berzikir, tangan terasa berat untuk melakukan dosa, dan hal positif lainnya, semua karena hidayahnya Allah.

Hidayah itu hak prerogatifnya Allah. Bahkan Rasulullah yang sebagai kekasih-Nya pun tidak mampu untuk mengubah semua akhlak umatnya. Maka itu janganlah heran jika mulut uztad yang sampai berbusa sekalipun untuk menasihati, tidak semuanya mengikuti. Janganlah heran jika Bapak-Ibunya telah baik, namun anaknya tidak baik. Janganlah heran ketika suaminya ahli ibadah, namun istrinya tidak ahli ibadah. Janganlah heran ketika pemimpinnya telah sholeh, namun anak buahnya tidak sholeh. Karena sesungguhnya Allah-lah yang menyematkan hidayah kepada hamba pilihan-Nya.

Lalu pertanyaannya apakah kita hanya menunggu hidayah atau menjemput hidayah?

Yang paling benar adalah mengupayakan hidayah itu.
Tahukah kau Kawan, bahwa sedari dulu kita telah selalu mengupayakan hidayah itu untuk datang kepada kita? Yaitu ketika setiap kali kita telah membaca surat Al-Fatihah.

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”. “Tunjukilah kami jalan yang lurus”, “(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (Al- Fatihah: 5-7).

Jelas sekali. Ayat itu bermakna bahwa kita meminta pertolongan Allah agar kita selalu berada dijalan yang lurus. Yaitu jalan dimana terdapat kumpulan orang-orang yang benar dan telah diberi nikmat, bukan ke jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula ke jalan mereka yang sesat. Arti implisitnya adalah kita mengupayakan hidayah itu, right?

Jika kita memulai solat lima waktu rutin dari umur 17 tahun, hingga kini umur kita misalnya 25 tahun, berarti kita telah membaca Al Fatihah sebanyak 14400 kali selama 8 tahun. Itu pun belum dihitung jika kita mengikuti pengajian, solat sunah, memulai doa, zikir, dan hal-hal lainnya yang mengharuskan kita membacanya. Bisa jadi sudah 20000 kali kita membacanya, artinya sudah 20000 kali pula kita memohon (mengupayakan) hidayah dari Allah SWT agar turun kepada kita.

Maka janganlah heran saat kau menemui pecandu narkoba kini telah menjadi seorang uztad, pecandu zina kini telah menjadi ahli ibadah, dan maling kelas kakap kini telah menjadi guru mengaji. Bisa jadi penyebabnya adalah karena al-fatihah yang ke seratusnya, yang ke seribunya, atau ke sekian-ribunya. Atau bisa jadi karena doa-doa dari kita sendiri dan orang-orang disekitar kita.

Rasulullah memang tidak ada hak memberikan hidayah kepada seseorang, namun beliau mengupayakan hidayah itu agar turun kepada orang itu dengan melalui doa. Sama halnya kita. Yang hanya bisa kita lakukan adalah mengupayakannya.

Saat kita berada didalam lubang dosa, yang bisa kita lakukan adalah mengikrarkan diri agar tidak melulu jatuh didalam lubang itu. Kita bertaubat, berniat, berikrar , dan juga memohon perlindungannya Allah. Artinya kita mengupayakan hidayah.

Saat kita melihat saudara-saudara kita jauh dari Allah, yang bisa kita lakukan selain menasihati dan mencontohkan kebaikan adalah mendoakannya agar hidayah cepat turun untuknya, agar dia berubah dan mendekat kepada Allah. Artinya kita mengupayakan hidayah.

Jika kita merasa jalan selalu salah, pikiran selalu berkabut, hati selalu hitam, hidup berantakan, sudah mengupayakan hidayah tapi tak kunjung turun, maka menangislah kepada Allah. Mohon ampunlah kepada Allah. Curhatlah kepada Allah ketika malam orang lain pulas tertidur. Ungkapkan semua keluh dan pilu. Dan segeralah meminta agar Allah tidak menjauh, agar Allah memutihkan hati, menerangi kehidupan, dan mengampuni setiap kesalahan.

Malam itu hanya kau berdua saja dengan Allah. Airmata mengalir. Beban di kepala menguap, hati terasa tenang, nafas terasa ringan, saat itu kehidupan kembali indah tak terperih.

Semoga Allah selalu memberikan hidayah, menyematkannya kedalam hati, dan mengalirkannya keseluruh bagian tubuh, hingga hidup kita penuh dengan keberkahan dan keindahan. Aamiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s