#ORMenjawab Bagaimana agar Istiqamah Berhijab?

#ORMenjawab Pertanyaan #6 dari Kiki Kartika:
Bagaimana caranya agar istiqamah untuk perempuan yang baru saja memutuskan untuk berhijab?

Mengubah diri itu laksana bergulat hebat dengan sesuatu. Tidak seperti di film-film, memang. Tidak ada luka, tidak ada pula darah, yang ada hanyalah pikiran bagaimana nanti, bagaimana ini, bagaimana itu, dan bagaimana-bagaimana yang lainnya. Seperti itulah memang sifat alami manusia: selalu memikirkan hal yang membuatnya takut, tidak berfokus pada hal yang membuatnya bahagia. Padahal telah ia ketahui, ia baru saja memenangkan pergulatan hebat itu. Ia telah mengalahkan egonya, ia telah mengalahkan bisikan-bisikan setan, ia telah mengalahkan tanggapan-tanggapan orang lain, dan ia telah memenangkan lomba “Kenaikan Derajat” yang hadiahnya langsung diberikan oleh Tuhannya.

Diluar sana, masih banyak sekali wanita yang belum saja sadar akan perintah Tuhan itu. Jika ada seribu wanita dalam suatu populasi, maka kamu adalah sampel terbaik yang dipilih Tuhan untuk menjadi jalan hijrah bagi seribu wanita di populasi itu. Bisa kamu bayangkan sekarang, kenapa dari seribu wanita itu hanya kamu yang dipilih-Nya untuk menjadi jalan hijrah bagi yang lainnya? Karena Dia mencintaimu. Karena Dia menspesialkanmu. Karena Dia ingin kamu menjadi hamba kebanggan-Nya. Indah, bukan?
Ketahuilah detik dimana kamu memutuskan untuk berhijab, adalah detik dimana penduduk langit sana berpesta atas keberhasilan mereka mengantarkan firman Tuhan padamu. Disana mereka meniupkan cahaya, lalu cahaya itu hinggap di ranting-ranting pohon, hinggap di rumah-rumah, hinggap di bangunan-bangunan, hinggap dimana saja ditempat yang akan kamu lalui. Lalu cahaya itu menerangimu, menenangkanmu, dan menjagamu.

Jika seindah itu kamu sekarang dibanding kamu yang dulu, kenapa kamu masih meragukan perubahanmu? Maka, berjalanlah layaknya kamu berjalan dahulu. Positifkan diri. Beri senyum kepada setiap orang yang kamu temui. Perbanyaklah syukur disetiap kamu melihat dirimu sekarang didalam cermin. Tutup telinga atas cibiran yang mungkin melemahkanmu. Fokus saja pada cahaya itu. Cahaya spesial yang tidak semua orang dapat memilikinya.

Ada puisi untukmu:

Kata mereka, yang paling indah itu adalah metamoforsinya kupu-kupu.
Tapi tidak bagiku.
Kata mereka yang paling indah itu adalah cahayanya gerhana matahari.
Tapi tidak bagiku.
Kata mereka yang paling indah itu adalah kalimat-kalimat didalam puisi.
Tapi sekali lagi. Tak indah bagiku.
Karena menurutku, ada yang lebih indah dari kupu-kupu, cahaya gerhana, dan puisi-puisi itu. Dan itu adalah kamu ketika kamu memutuskan untuk mengenakan hijab. Indah nian. Indah tak terperih!

Kurang indah apalagi kamu sekarang?

Maka bersyukurlah…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s