#ORMenjawab Cara terbaik Membahagiakan Kedua orangtua

#ORMenjawab Pertanyaan #4 dari Nisa Ardani:

Apa cara terbaik membahagiakan orangtua?

Hmm… Pertanyaan yang menarik  ini, Kawan. Kujelaskan saja dengan sebuah cerita ya.

Terbesitlah niatku untuk menyajikan sesuatu yang teramat spesial untuk orangtuaku dari  hasil upahku bekerja. Maka malam itu, kucari tahu keinginan yang teramat dalam dari keduanya, yang sejak lama mereka idam-idamkan. Aku dag-dig-dug, aku takut itu tak bisa kukabulkan di detik aku tahu apa yang mereka inginkan. Tapi pasti akan ku upayakan, kalau tidak sekarang ya nanti, pikirku.

Kebiasaan kami ketika berkumpul adalah kami tak pernah tidur di kamar masing-masing. Maka habitnya adalah membentangkan tikar di ruangan tengah, kemudian menjejerkan dua kasur, lalu menghiasinya dengan sprei cantik lengkap dengan seperangkat alat tidur yang masih bau semprotan wangi  Kispray varian Violet.  Dan obrolan pun dimulai…

 “Pa, Ma, kira-kira apa yang paling Papa dan Mama mau untuk lebaran tahun ini?”

“Ya semoga anak-anak Papa Mama bisa kumpul bareng lagi dirumah.”

“Kalau tidak bisa kumpul semua?”

“Ya setidaknya ada satu-dua perwakilan anak Papa Mama yang pulang.”

Sambil membenarkan bantal, mencari posisi nyaman, aku lanjutkan pertanyaan.

“Kalau benda, apa yang Papa dan Mama mau?”

“Tidak ada.”

“Yakin?”

“Yakin. Sudahlah uangnya ditabung. Atau dibagi-bagikan saja untuk THR anak-anak tetangga yang nanti berkunjung kerumah.”

Papa melanjutkan lagi.

“Rumah ini, mau dicat ulang berwarna cerah sekalipun, mau ditambahi perabotanya sekalipun, mau dihiasi kue A hingga Z, mau disajikan makanan-makanan khas lebaran apapun, semua bakal tak kan tergantikan dari nuansa Papa melihat anak-anak Papa sibuk dipagi hari ketika takbir bersahut-sahutan. Kita semua saling bangun pagi. Ngantre mandi. Bahkan menggedor-gedor pintu kamar mandi hanya untuk mengingatkan yang didalam agar jangan berlama-lama. Sibuk membenahi sarung. Sibuk mencari-cari peci. Sibuk melipat-lipat koran untuk alas solat idul fitri. Lalu setelahnya, kita dalam nuansa yang paling harmoni yang hanya bisa kita rasakan satu tahun sekali: Maaf-memaafkan.”

Aku tersenyum membayangkan nuansa itu.

“Papa duduk, Mama duduk, bak Raja dan Ratu. Adegan pertama adalah Papa mencium kening Mama, Mama pun sebaliknya. Kami berpelukan. Saling bermaaf-maafan. Kemudian Ayuk – panggilan Mbak dalam bahasa Palembang- sebagai anak pertama mendekati kami. Memeluk kami. Kemudian mencuci kaki Mama dengan begitu syahdu. Begitu seterusnya sampai kamu sebagai anak bungsu melakukan hal yang sama. Tidak terasa airmata Papa mengalir, begitu juga dengan Mama, begitu juga dengan keempat anak Papa dan Mama. Kita pada hari itu disatukan dengan airmata. Rumah menyaksikan, malaikat turut bersuka cita, Tuhan pun mengamini dengan menggugurkan semua dosa-dosa kita selama setahun. Indah nian Nak… Indah nian…”

“Maka, kalau kamu tanyakan apa yang paling kami inginkan, jawabannya sederhana: anak-anak kami masih dalam satu kesatuan cinta, satu kesatuan kasih sayang, dan satu kesatuan dalam tujuan, yaitu untuk mendoakan kami. Cuma doa kalian hadiah yang paling mahal. Yang bisa menempatkan kami sebagai alumni manusia yang paling terhormat nantinya.”

 Kawan, jika kau bisa berada dalam posisiku saat itu, maka kusimpulkan juga bahwa ekspresimu sama denganku. Diam. Hanya bisa diam. Namun untuk menjembatani penjelasan Papa yang terakhir, aku tambahkan dengan kalimat yang simpel saja: “Oh gitu Pa. Oke de Pa.. Doakan ya biar kita semua dapat berkumpul di lebaran tahun ini.”

 Pendek sekali balasanku. Tapi asal kau tahu, hatiku pada malam itu tersayat-sayat oleh sesuatu. Malam hening. Kulihat kananku, kudapati wajah laki-laki istimewa itu telah mendengkur. Kulihat kiriku, kudapati wajah perempuan yang paling bersahaja itu telah memasuki alam mimpinya. Aku berada ditengah kedua surgaku. Kulihat langit-langit rumahku. Terlukis disana suasana lebaran tiga tahun yang lalu. Tergambar jelas dari maksud Papa menceritakan semua itu.

Mataku masih terbuka. Suasana syahdu merasuki pikiranku. Dan otakku masih saja mem- play  rekaman-rekaman nuansa yang dirindukan oleh orangtuaku. Selanjutnya efek dari rekaman-rekaman itu bisa kau lihat dari linang air yang bersumber dari mataku.

Hatiku tersayat. Tersayat oleh rindu. Rindu yang sama dengan orangtuaku.

Bagaimana Kawan, sederhana sekali kan cara membahagiakan kedua orangtua itu? Jangan sia-siakan waktu yang paling berharga itu, Kawan. Semoga aku, kamu, dan kita semua akan selalu dikasih kesempatan untuk meredahkan rindu-rindu yang dimaksudkan oleh orang tua kita itu.

Aamiin…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s