Kematian Terindah

Aku sering sekali bermunajat penuh khusyuk dalam doa-doa dimalam-malamku, sehabis sholat, diperjalanan, ketika hujan, dimana saja, aku sering menyebutkan kalimat itu. Aku ingin sekali dimatikan ketika aku sholat. Ingin sekali dimatikan sehabis aku memberi ilmu yang bermanfaat. Atau dimatikan sehabis aku menyesali keburukan-keburukan yang kulakukan.

Kejadian di Mekah hari ini menginspirasiku bahwa ada satu doa yang belum kusebut: Meminta mati ketika aku berada ditanah Haram itu. Terserah saja aku mau dimatikan karena apa. Terpeleset sehabis mengambil wudhu, terkena sikut orang-orang Afrika saat tawaf, atau digigit burung saat aku memberi jagung ke mereka. Terserah. Aku ikhlas.

Mungkin nanti di CNN diberitakan bahwa ada orang Asia, tepatnya Indonesia, ada seseorang yang mati dalam kenaasan. Mungkin juga banyak orang menertawakan, membuat meme wajahku di 9gag, dijadikan bahan penelitian -Analisa kematian orang Asia ketika memberi jagung kepada burung, atau Daya sikut orang Afrika terhadap orang Asia. Atau apalah. Terserah saja. Tak mengapa. Aku tidak terlalu memusingkan hal itu. Karena ada hal yang mereka tidak tahu. Ketika dunia sedang membicarakan namaku, menertawakan kematianku, saat itu arwahku sedang digotong malaikat terbang tinggi memasuki surga. Aih, indahnya.

Aku tersenyum…

Aku membayangkan diperjalanan aku bertemu dengan orang yang juga mati konyol sepertiku. Kami bersalaman. Saling tersenyum. Sedikit ngobrol saat malaikat sedang permisi membersihkan sayapnya. Rupanya orang itu lebih konyol lagi matinya: Mati ketika kepalanya dibawah ketiak orang berkulit hitam. Tidak ada yang mengetahui kejadian itu. Tiba-tiba setelah ia membuka kedua matanya, ia melihat malaikat tersenyum lalu membawa arwahnya pergi menjauh dari Ka’bah. Aku yakin sekali andai saja matinya diketahui banyak orang, pasti akan ada penelitian terbaru: Efek bau ketiak terhadap hilangnya nyawa.

Aku tersenyum…

Didepan gerbang surga aku melihat permadani yang begitu menakjubkan. Penjaganya tersenyum. Baunya harum. Harum sekali. Lalu seketika gerbang surga dibuka mataku bebas memandang sungai dengan gemercik air yang syahdu, pohon-pohon dengan buah-buah yang membuat lapar, dan bidadari-bidadari yang menyejukkan mata. Tak lebih indah adalah ketika aku berjumpa dengan seseorang dimana semua orang pasti menyalami, mencium tangannya ketika bertemu. Aku mengikuti alur itu. Aku mendekat. Wajahnya putih bersih, bercahaya. Aroma tubuhnya tak terkira harumnya. Aura kepemimpinannya sungguh terlihat. Nyaman dekat dengannya.

Kudekati ia…

Kusalami…

Ia berkata, “Tahukah kau mengapa diizinkan Allah untuk bertemu denganku lebih cepat?” Aku menggeleng. Ia melanjutkan, “Ini karena kau sering bersholawat untukku.” Aku terdiam. Mulutku terkunci. Yang bisa bergerak hanya airmataku. Tidak salah lagi. Orang yang paling kurindukan, orang yang paling kukagumi, ada dihadapanku. Ia Rasullulah SAW. Subhanallah… Aku mencoba mengangkat kakiku, mendekatinya, dan memeluknya. Pelukan terindah seumur hidupku.

Aih indahnya…

Semoga saja.

Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s