Gadis Bermukena

Kau masih ingat tidak, Kawan, tulisanku sebelumnya yang berjudul “Rindu diatas Rindu”? Bila ingat syukurlah, bila belum maka bacalah lagi karena kisah ini ada sangkut pautnya dengan tulisan itu.

==

Wajar saja aku jarang melihatnya. Aku kira hatiku telah ditutupA Muslim woman prays at the Baiturrahman grand mosque in Banda Aceh Tuhan untuk tak melihatnya lagi -kalau benar ini terjadi maka akulah seburuk-buruknya hamba. Untungnya tidak, karena secara dua dimensi kita tak kan berjumpa dengannya, namun setelah settingan visual diubah menjadi tiga dimensi, maka dengan mudahnya kita dapat melihatnya yang ternyata ia merupakan bagian dari gedung bank nasional di republik ini.

Setelah kulit bercampur erat dengan air suci itu, aku demikian jiwa lainnya, merasakan kesyahduan yang luar biasa. Memang waktu menghadap Tuhan itu adalah waktu yang sangat mendamaikan. Lebih damai lagi ketika aku bertemu dengannya -masjid- yang telah lama menghilang secara visual.

Kita hentikan waktu sejenak. Aku coba mengembalikan jam, menit, dan detik ke masa sebelum aku bertemu, memasuki, lalu berwudhu didalam masjid itu. Detik itu aku melihat seorang bankir -perempuan- dengan atribut ke-bank-annya melesatkan diri kearah sumber azan yang sedang berkumandang. Aku rasa ia pun sudah tak sabar tuk segera menemui Tuhannya setelah bebas dari penat kerja. Dan dalam perjalanan waktu, langkahku pas sekali dengan langkah perempuan itu yang sama-sama tertuju pada masjid -cantik sekali Tuhan mengatur waktu untuk kami. Aku menyucikan diri ditempat laki-laki, ia pun seperti itu ditempat perempuan.

Shaf laki-laki dan perempuan tidak jauh, hanya dipisahkan sekat pendek. Suasananya normal saja. Selesai sholat aku berzikir, kemudian berdoa. Yang sedikit aneh, lebih tepatnya takjub, saat aku melangkah keluar dan melewati gadis yang sedang berdoa penuh khusyuk dengan balutan mukena putih, bersih lagi suci. Apalah yang sedang ia lafazkan sehingga nikmat sekali berdoa dengan mata terpejam dan kepala tertunduk.

Aku duduk di pelataran masjid, menjodohkan kaki dengan kaos kakiku, lalu menjodohkan kaki, kaos kaki, dan sepatu -poligami. Diarah jam tiga, tepat duduk gadis yang tadi kulihat sedang bertindak juga sebagai penghulu untuk menjodohkan pasangan yang telah duluan kujodohkan itu . Tidak berani menyapa. Aku langsung mengajak pasangan yang baru saja berpoligami tadi -kaki, kaos kaki, sepatu- melesatkan diri kearah gubuk tercinta, jaga-jaga, siapa tahu begal sedang mencari mangsa. Kawan, tak usah terlalu berpikir keras yang mana suami dan istri diantara kaki, kaos kaki, dan sepatu itu.

Senang hatiku, setelah sekian lama tak berjumpa dengan masjid -tempat yang sangat sakral bagi hidupku- akhirnya bisa merasakan damainya lagi. Aku pulang dengan siulan lagu Homesick – Kings of Convenience, lagu yang pas bagi perantau yang sedang dilanda rindu suasana kampung. Menelusuri malam dengan ditemani lampu-lampu jalan dan sesekali dering kesal klakson para bos bermobil terdengar mengganggu tikus-tikus got yang sedang berleha-leha setelah seharian dikejar-kejar kucing komplek. Malang memang nasib tikus-tikus itu.

Suasana tiba-tiba berubah. Bukan karena tikus yang marah karena terganggu. Bukan juga karena ada segerombolan begal yang menghadangku. Bukan, tidak ada hubungannya sama sekali. Siul kuhentikan, mata kufokuskan tepat arah jam dua dari hadapanku. Aku mengenali sosok itu. Sosok yang menjadi perhatianku sehabis menunaikan solat magrib tadi. Gadis bermukena itu. Entah kenapa Tuhan mengatur waktu sehingga hari ini memoriku lebih terarah pada gadis itu.

Kami searah. Aku berjalan tepat dibelakangnya. Aku melihatnya jelas. Ia memakai sepatu ber-hak pendek warna hitam, rambutnya sebahu, roknya sedengkul, serta kemeja biru tanpa kusut yang dia selipkan dalam roknya. Rapi sekali. Namun melihatnya detik itu tak lebih indah dari detik ketika melihat ia mengenakan mukena. Ingin kuhampiri, menyapa beberapa detik, lalu mengatakan bahwa ia anggun sekali saat kenakan mukena. Terlebih saat dia berdoa dengan mata terpejam dan kepala yang ditundukkan sehabis berzikir pada-Nya.

Waktu berjalan. Dan akhirnya kami terpisah oleh dua arah. Aku kearahku, ia kearahnya.

Ahh… Gadis Bermukena…

Maafkan aku yang tak ada keberanian tuk menasihatimu secara langsung. Kuhanya bisa selipkan namamu dalam doaku -kunamai dia dengan “Gadis Bermukena”.

“Tuhanku, lihatlah Gadis Bermukena yang tadi berdoa penuh khusyuk kepada-Mu. Entah apa yang dia pinta, aku hanya berharap Kau mengabulkannya. Dan dengan segala kemahaan-Mu, tolong hembuskan kalimat “Kun Fa Yakun” untuk sebuah hidayah agar ia menutupi auratnya tanpa ada sedikitpun ragu”.

Dan satu lagi, Ya Rabb… Giring mata dan waktunya agar suatu hari menemukan dan membaca tulisanku ini.

Aamiin…

Tiada keadaan yang paling cantik dari seorang wanita kecuali ketika dia memakai mukena dengan butir-butir air wudhu yang masih terlihat di wajahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s