Rindu diatas Rindu

Ini tak bercerita tentang rindunya seseorang kepada seseorang, bukan pula rindunya orangtua kepada anaknya. Rindu ini tak terdefinisi, tetapi terasa. Tak berjumpa dengannya sehari sama halnya memutuskan saluran ateri dalam sistem aliran darah. Tubuh lunglai, lemas, lesu, seakan tak berdaya. Tak ada dokter yang dapat menyembuhkan, tak ada pula tabib ahli yang bisa meramukan obat, rindu ini luarbiasa.

Dipagi nan buta ia laksana peri cantik dengan suara termedu yang membangunkan. Mataku tak berproses lama tuk segera terbuka sesaat ia berbisik lembut dirongga telinga. Aku segera bangkit, segera menemuinya. Siangnya, saat lelah menghantam begitu kuat, ia datang memeluk, menenangkanku. Begitu juga ketika mentari telah berjalan pelan ke ufuk barat, ia mengambil peran, menyangjungku, memegang tanganku erat menuju kedamaian. Tiada hentinya mendamaikan. 24 jam. Non stop!

Jiwa mana coba yang tak takut kehilangannya?

Jiwa mana coba yang tak merindukannya?

Semenjak langkah menepi pada suatu daerah, aku kehilangannya. Lebih tepatnya merasa kehilangannya. Tempat ini memisahkan kami. Kurang ajar memang. Bukan aku tak mencari. Tapi memang ia sulit dicari. Sehari, dua hari, hingga menjadi seminggu, tak kunjung kumenemukan. Aku rindu. Rindu sekali. Rindu akan suaranya, rindu akan genggamannya, rindu akan sanjungannya, rindu akan peranannya. Ah… ia memang telah membuatku tergila-gila.

Aku terperangkap dalam rindu ini. Aku terkepung tak berdaya. Tapi bukan dalam makna yang negatif. Aku terkepung dalam bahagia. Ia larut bak gula yang diaduk bersamaan dengan teh hangat. Menyatu. Tak terlihat gulanya, tapi terasa manisnya. Begitulah aku dengannya: Aku tehnya, sedangkan ia gulanya.

Sore itu, selepas lelah bekerja, aku rasakan penat (kata ‘penat’ itu diferensasi dari kata ‘rindu’). Aku berjalan tiada arah. Menelusuri kampung-kampung, warung-warung, pasar-pasar, tak tahu, aku hanya mengikuti kaki melangkah. Matahari diatas sana pun mengiyakan, perlahan ia kembali menutupi diri, berjalan pelan, memerah, menuju tempat terakhirnya. Kaki belum diam. Tali tas kukencangkan, kerah leher kubuka, rambut kukibaskan, keringat mengucur, tak terasa sudah setengah jam berjalan.

Entah di menit yang keberapa aku terhenti (Anggap saja cerita ini adalah rentetan adegan film yang sedang kau tonton). Andai aku adalah tokoh film itu, maka kau dengan mudahnya mem-pause, men-zoom, melihat raut mukaku yang tiba-tiba berubah. Dahiku mengerut, kepala kumiringkan lima belas derajat kearah telinga kanan. Telinga kiriku memfokuskan diri mendengar suara nan lembut itu. Suara itu sangat melekat dirongga telingaku. Kudengarkan lagi. Maka saat itu tiba-tiba waktu terhenti; tangan seorang ibu terhenti didepan mulut anak kecil yang sedang ia suapi; tangan seorang pembeli yang hendak membayar, terhenti diatas tangan penjual; bulatan asap rokok yang dihembuskan terlihat jelas didepan muka seorang buruh tua; mulut lebar tanda tertawa dari para pemuda ter-pause; suara motor menghilang; suara mobil lenyap entah kemana; seratus persen terhenti. Pause sejenak. Hanya suara itu… Iya hanya suara itu yang tetap terdengar. Aku menangis. Air mataku deras mengalir. Tak salah. Aku bisa memastikan bahwa itu adalah suaranya. Suara yang kucari-cari selama ini.

Waktu masih terhenti. Hanya aku yang diizinkan Tuhan tuk tetap berjalan. Kali ini kupercepat langkah. Lebih kupercepat. Tak peduli dengan lelah, tak peduli dengan nafas yang terengah-engah. Aku tak sabar menemuinya. Aku rindu dengannya. Rindu sekali. Ia masih bersuara. Masih memanggil-manggilku manja. Semakin manja, semakin kupercepat langkah. Dan kini… (Ini adalah menit-menit terakhir dalam adegan film. Menit-menit puncak yang menebarkan. Menit yang paling dinanti-nanti oleh penonton) Aku berdiri tepat didepannya. Suaranya perlahan berhenti seperti irama musik yang mengalami fade out. Jelas sekali raut mukanya. Tak ada adegan lain, aku menyegerakan diri mendekatinya.

“Aku mencarimu…”, nafasku masih terengah-engah. Dan masih tak percaya kini aku berdiri tepat didepannya. “Telah lama kau pergi tanpa tanda. Dulu aku tenang karena yakin kau mengikutiku seperti bayangan yang diterpa sinar. Tapi aku salah. Tak semua tempat itu baik. Tak semua tempat itu menjadi medium untuk kita bertemu. Tapi sudahlah. Itu tak terlalu penting. Lebih penting membahas pertemuan ini. Aku rindu padamu. Rindu sekali. Tak pernah aku merasakan rindu seperti ini. Ini rindu diatas rindu.”

Semenjak mencari nafkah bukan berarti aku tak lagi mengunjunginya. Aku mengunjunginya selalu. Ditempat kerjaku disediakan. Namun ada yang kurang bila ia tak bersuara terlebih dahulu. Ada yang kurang bila tak 24 jam bisa mengunjunginya.

Aku berjalan pelan. Kulangkahkan kaki dengan yakin, dengan kepuasan, dengan kebahagiaan yang tak terukur. Kubersihkan diriku. Kunikmati air-air penghapus dosa itu. Segar. Ketika air menyentuh wajah, seketika itu pula diriku bahagia. Terus kunikmati tetesan air itu hingga menyentuh lembut kedua kaki lelahku. Sehabis rangkaian menyucikan diri itu, aku menemuinya. Akhirnya…

Terima kasih Tuhan telah mengizinkanku untuk merindukannya.

Advertisements

3 thoughts on “Rindu diatas Rindu

  1. masyaAllah mungkin masjid ulil albab juga merindukan sang jejak kaki yg pergi.

    semoga istiqomah ..

    beruntunglah orang” yang d tepat kerjanya dekat dengan masjid. yuk para lelaki yang kantornya dekat dengan masjid jangan sampai gk sholat d masjid.

    karena begitu banyak jiwa” yg merindukan nya.

  2. Alhamdulillah, akhirnya adzan dan masjid itu hadir juga. Tetap istiqomah ori sebagai pemuda pecinta masjid

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s