Perpisahan

-Flashback-

Dulu aku tergila-gila sekali pada universitas negeri ternama itu. Dari buku jaman kuno hingga buku modern tentang cara menuntaskan soal-soal ujian lolos seleksi, telah habis kupelajari. Cerita-cerita motivasi telah melekat diotakku, bahkan ajaran dari seorang uztad -yang dalam bahasaku, uztad yang sudah dipastikan masuk surga sekalipun- telah kuaplikasikan. Detik, menit, dan jam tak kubedakan. Aku belajar sambil makan, berjalan, ngobrol, tiduran, hingga belajar dalam lelap. Aku belajar tak kenal tempat. Dikamar, ditoilet, ditempat bimbel, dimushola, dikasur, dan disudut lainnya, telah menjadi saksi betapa dahsyatnya usaha anak seorang buruh tuk mewujudkan impiannya.

Penghenti belajarku hanyalah waktu sholat. Ia laksana wasit yang memberi tanda pergantian waktu atau telah berakhirnya sebuah permainan. Disela doa sehabis sholat tak henti-hentinya aku berdoa yang itu-itu saja. Semangat Papaku memegang stir mobil untuk mengantarkan para pekerja, kelincahan jari-jari Mamaku membungkusi nasi uduk tuk para pembeli, langkah yang tak pernah padam dari giatnya ketiga saudaraku mencari uang, seperti potongan-potongan gerak yang disatukan hingga membentuk sebuah film dimata yang sedang kupejamkan. Film itu selalu menggetarkan jiwa dan membuatku menangis. Mata mereka seakan menatap tajam mataku, mengisyaratkan bahwa janganlah pernah menyerah.

Ada tujuh temanku dari berbagai daerah. Mereka bukanlah orang biasa, masing-masing mereka adalah wakil sekolahnya dalam olimpiade tingkat kabupaten maupun nasional. Dan jenakanya semua dari kami tak ada satupun yang lulus dalam seleksi itu. Kami saling pandang, diam, tak ada satupun yang angkat bicara. Lalu rekaman belajar kami selama itu tiba-tiba berputar. Aku melihat aku, temanku melihat dirinya. Kami melihat kami. Buku-buku dalam rekaman itu terbakar, lantai yang kami pijak hancur tak terbentuk, dinding-dinding yang menjadi saksi kami saling mendekat cepat, menghimpit badan kami hingga remuk. Adalagi lampu-lampu penerang selama ini ikut menzalimi. Ia pecah. Serpihannya menghujam kulit hingga masuk menusuk hati. Kami berdarah, tercecer laksana sampah. Ibarat bangkai, kami hanya menunggu waktu untuk membusuk. Hancur. Sehancur-hancurnya.

Tak ada yang mengerti, memang, tentang cara Tuhan berpikir, berencana, dan beraksi. Logika manusia tak kan mampu menjangkaunya. Kita hanyalah wayang kecil yang gerakannya diatur Tuhan. Belajar mati-matian versiku selama ini belum membuahkan hasil. Ia tak setuju aku menimbah ilmu di universitas idamanku itu. Aku tidak mengerti mau-Nya. Saat itu tubuhku lunglai, mataku basah, bibirku pucat, tulangku rapuh, tak bisa berkata, tak bisa bergerak.

Aku terpejam tak sadar, memasuki alam yang tak terdefinisi. Aku berjalan setapak demi setapak. Cemas. Belum sama sekali memijakkan kaki ditempat asing ini. Angin, yang menjadi temanku, sengaja menggiring hingga mataku tertuju pada sebuah rumah kecil yang usang. Aku yakin bila disentuh saja rumah itu langsung roboh. Kutelusuri jalan menuju rumah itu. Kuketuk pintunya, pintunya roboh, berdebam mengagetkanku. Lebih kaget lagi ketika mata memandang bebas isi rumah usang itu. Dindingnya bercat putih bersih, perabotannya bersalut emas dan bertahtakan berlian yang berkilauan, dan disepanjang mataku memandang lantai, disepanjang itu pula permadani indah ala kerajaan menyelimutinya. Begitu lembut ketika aku menginjaknya. Menakjubkan sekali rumah ini. Tak menyangka isi didalamnya luarbiasa…

Aku terbangun. Tak sadar telah beberapa jam aku memasuki alam mimpi. Alam aneh yang mengajariku sesuatu. Bisa jadi ini cara Tuhan tuk memberi tahu tentang hikmah dibalik hancurnya mimpi besarku. Berpikir… mencoba mencerna hingga pada satu titik terang: Apa yang kau lihat seperti hancur itu, sesungguhnya tidak hancur bila Tuhanmu berkehendak.

Jantungku berdegup kencang. Ia memompa darah yang telah terisi kata mutiara dari Sang Maha. Darah itu dengan cepat menjalar keseluruh tubuhku hingga ruas-ruas tulangku kuat lagi, efek setelah mendapatkan pelumas paling istimewa di dunia.

Aku mengubah arah, mencari jalan lain, bahasa indahnya mengikuti alurnya Tuhan. Sampai pada langkah ke universitas swasta di Jogjakarta, Universitas Islam Indonesia, tempat bermimpi yang dipilihkan Tuhan untukku.

Jogjakarta, September 2010

Yang kutahu dari kota ini adalah indah karena budayanya, kaya karena kulinernya, dan nyaman karena orangnya. Aku dan beribu perantau lainnya ikut serta merasakan istimewanya kota ini. Tak seperti di ibukota, tingkat stres dangkal sekali disini. Tak pernah surut senyum ibu-ibu, bapak-bapak, mbah-mbah, dan juga para pemuda ketika berpapasan dengannya. Murah sekali senyum disini. Murah sekali bahagia disini. Suatu daerah dengan simbiosis terbaik, menurutku, ya kota ini. Istimewa.

Aku tak pernah tahu mau jadi apa aku disini. Prinsipku hanyalah satu: bila semut kecil yang mudah dibunuh itu saja kebahagiaannya diurusi Tuhan, masak aku sebagai manusia tidak?

Dengan rupiah yang minim, langkah tak pernah surut menuntut kebahagiaan. Kebahagiaan disini lebih kearah hubungan dengan Tuhan. Itulah kriteriaku mencari tempat tinggal untuk empat tahun kedepan. Aku percaya bahwa tak ada satupun peristiwa yang tak diatur oleh-Nya. Aku seperti digiring pada saat itu. Digiring menuju suatu kos-kosan berderet (baca: bedeng) yang didepannya berdiri kokoh sebuah mushola. Pikirku simpel: setidaknya ada suara azan yang akan sering kudengar saat pikiran sedang tak karuan. Iya, aku benar-benar ingin bermetamoforsis menjadi kupu-kupu yang indah, lebih tepatnya, indah dan dekat dengan Sang Maha.

Sempat aku mendengar cerita singkat dari ibu kosku tentang seorang penghuni dikamar nomor dua dari pagar masuk. Dialah seorang asisten dosen yang kredibilitasnya telah mengudara. Dia adalah seorang perantau dari kota Pati, bukan bukan, lebih pas kalimatnya ‘daerah pinggiran’ di kota Pati. Telah hampir delapan tahun ia mengembara, mencari jati diri di Jogjakarta. Saat itu ia sedang melanjutkan studi masternya. Mendengar dan menyaksikan sendiri perangainya, aku terkesima. Dalam benakku: aku harus dapatkan ilmu darinya.

Malam di minggu pertama itu menjadi penyebab awal hidupku berubah drastis. Tuhan mengiyakan aku tuk lebih dekat dengan penghuni itu. Kami berkenalan. Singkat saja kenapa aku begitu tertarik dekat dengannya: karena ia mempunyai metode bermimpi yang berbeda dari orang kebanyakan. Adalah bermimpi dengan melibatkan Allah. Tambah tertegun lagi saat dia bercerita tentang keluarganya, yang tak kan mampu meng-uliahkannya hingga jenjang S2. Benar saja, logika takkan sampai, bagaimana bisa anak dari seorang tukang ojeg dapat kuliah hingga jenjang master? Maka, katanya, siapa lagi yang bisa diharapkan kecuali Allah? Hanya Dia satu-satunya penyebab ketidakmungkinan menjadi kemungkinan. Waw… jarang, bahkan belum pernah kujumpai pemikiran sedahsyat ini.

Penasaran. Maka malam itu kulangsung to-the-point, kutembak langsung bagaimana alur agar aku sedahsyat itu. Dengan singkat ia katakan, “Siap-siap nanti jam tiga pagi!”

Tok…tok…tok… Tok…tok…tok… Ketukan pintu itu nyaring sekali. Lebih nyaring dari sepuluh alarm kebakaran ditoko-toko. Suara itu benar-benar memecah pagi buta. Mungkin orang sekeliling terbangun juga, bingung, ada bahaya apa?

Aku masih berhalusinasi dengan keadaan setengah sadarku. Mataku masih terpejam. Berat sekali tuk terbuka. Namun aku dapat dengan jelasnya melihat sosok besar yang menyeramkan. Dia berbicara lantang dari kejauhan. Hingga aku mendekat, suaranya jelas, jelas sekali. “Katanya mau menjadi pemimpi ulung, Allah datang saja, kau masih tidur!” “Berhenti saja kau bermimpi!”, begitu kata-katanya. Lambat laun aku sadar. Bahwa sosok dalam halusinasiku tadi bukan fiktif. Itu suara penghuni kamar nomor dua yang membangunkanku. Dia pergi, mengambil wudhu disepertiga malam. Setelah aku bangun dan berjalan mendekati keran air, kami berpapasan. “Pemimpi munafik itu adalah pemimpi yang ucapkan mimpi, namun tak segera menemui Tuhan!” Kata-kata itu menusuk sekali. Lebih pedas dari sejuta ton cabai terpedas didunia.

Mulai dari malam itu, hingga malam kesekian ribu, banyak sekali ilmu yang kudapat darinya. Karenanya pula aku dekat dengan orang-orang hebat. Ada Profesor pecinta masjid –Profesor inilah yang menjadi recommender untuk beasiswa S1-ku, ada doktor ahli ilmu langit (baca: Ilmu yang dihubungkan dengan Al-Qur’an), ada seorang dokter yang mengajari kesederhanaan, ada pengusaha yang berbisnis dengan melibatkan Allah, ada pula seorang ibu yang telah menjadi ibu angkatku, ibu pecinta sedekah nomor wahid yang pernah kutemui, dan masih banyak lagi orang-orang hebat yang kutemui disini.

Ah… tak terhitung kenangan yang tercipta selama empat tahun aku di Jogjakarta. Kenangan-kenangan itu menari-nari dilangit yang sedang kutatap hari ini. Dulu, aku kira mimpi telah sirna karena aku tak berada dalam kampus idaman. Namun aku salah. Aku baru sadar, bahwa tak ada satupun mimpi yang pupus. Ia hanya mengubah diri dalam bentuk yang lain, yang keindahannya baru kita tahu saat kita mensyukurinya.

Aku bersyukur sekali digiring oleh Allah ketempat istimewa ini. Makanya untuk meninggalkan kota ini seperti meninggalkan kekasih. Berat. Tak terkira beratnya. Namun, demi mimpi, demi mencari ilmu, aku harus melangkahkan kaki ketempat yang lain. Pagi itu, 15 Maret 2015, langkahpun menemui orang-orang yang berjasa dalam hidupku. Salah satunya adalah Profesor yang kutulis diatas. Sampai pukul 06.00 pun aku tak menemui sosok itu dirumahnya. Tak ada tempat lain yang membuatnya nyaman. Dan benar, sedari subuh hingga jam enam pagi ia masih asyik berdzikir di mushola dengan maksud menunggu waktu solat duha. Aku mendekati. Menyalami. Berpamitan dan berterima kasih atas jasanya selama ini. Tak ada satupun nasihat darinya selain, “Semoga Mas Ori selalu menjaga masjidnya.” Subhanallah… Aku menganggukkan kepala. Mengiyakan dengan pasti.

Perpisahan itu tak seberapa. Lebih berat lagi dengan Abangku, Lutfi Chabib, penghuni kamar nomor dua itu. Di bandara, tempat yang memisahkan dan mempertemukan seseorang dengan seseorang, adalah tempat terakhirku sebelum menuju tempat yang lain. Aku menyalaminya, memeluknya, berterima kasih atas jasa luarbiasa darinya. Aku mungkin takkan jadi apa-apa tanpanya. Darinya lah aku tahu masjid, sedekah, duha, dan ilmu lainnya. Dialah yang membantuku secara finansial. Dialah yang mengantarkanku pada orang-orang hebat. Dan dialah orang yang mengubah total hidupku.

Terima kasih masbero Lutfi…

Aku sangat yakin bahwa tak ada yang namanya perpisahan. Ia hanya mengubah bentuk menjadi ‘tak terlihat sejenak’.

Semoga Allah selalu membentuk hati, pikiran, dan kehidupan kita kedalam bentuk yang Ia Ridhai.

Aamiin…

Nah yang tengah ini Ibu angkatku, ibu pecinta sedekah nomor wahid, Bu Liana namanya.
Nah yang tengah ini Ibu angkatku, ibu pecinta sedekah nomor wahid, Bu Liana namanya.
Yang baju merah: Namanya Pak Sus, dosen psikologi UII. Beliaulah yang mengajariku tentang hubungan manusia dan Tuhan dalam pandangan islam. Baju Hijau: Prof Fauzy, Guru besar di UII, Profesor pecinta masjid. Hingga aku pamitan hari ini pun, beliau masih berdiam diri di masjid sampai waktu duha. Beliaulah pula recommender tuk beasiswa S1 ku.
Yang baju merah: Namanya Pak Sus, dosen psikologi UII. Beliaulah yang mengajariku tentang hubungan manusia dan Tuhan dalam pandangan islam.
Baju Hijau: Prof Fauzy, Guru besar di UII, Profesor pecinta masjid. Hingga aku pamitan hari ini pun, beliau masih berdiam diri di masjid sampai waktu duha. Beliaulah pula recommender tuk beasiswa S1 ku.
Pesan dari orang terkasih: kemana-kemana itu harus dekat dengan Allah, salah satu medianya adalah dengan berdzikir.
Pesan dari orang terkasih: kemana-kemana itu harus dekat dengan Allah, salah satu medianya adalah dengan berdzikir.
Bersama guru dari segala guru, penguhi kamar nomor dua.
Bersama guru dari segala guru, penghuhi kamar nomor dua.
Advertisements

7 thoughts on “Perpisahan

  1. Sangat menginspirasi 🙂
    Dari tulisan Ori, saya dapat pelajaran, setiap masalah atau kesulitan yang datang, hendaknya dihadpi dengan tepat. Karena sebenarnya yang menjadi ‘masalah’ itu bukan maslahhnya/kesulitan yang datang, melainkan ‘cara menghadapi’ kesulitan tersebut. Ketika cara menghadapinya tepat Insya Allah, akan terbuka pintu-pintu Allah yang lainnya. Saat dihadapi dg Sabar dan ikhlas atas takdir Allah, maka Allah akan melimpahkan RahmatNya bagi hambaNya. Jika syukur, maka Allah lebihkan nikmaNya.

    Masha Allah, setelah kesulitan yang datang, justru Allah memberikan jalan lain yang lebih baik dan penuh keberkahan, seperti bertemu dengan orang-orang hebat lainnya.
    “Semoga kamu dan org2 di sekelilingmu, selalu diberkahi Allah” aamiin

    Kalau ada waktu, mampir ya di blog saya, 😃. Terimakasih.

    *maaf ya jadi kepanjangan komennya

  2. Subhanallah terharu setiap kejadian sudah dalam ketetapnNya ,tidak ada yang salah atau tidak tepat.dan ini sangat menginspirasi

  3. “PEMIMPI MUNAFIK ITU ADALAH PEMIMPI YANG UCAPKAN MIMPI NAMUN TAK SEGERA MENEMUI TUHAN” !!! Allah nusk bgt kata2 ini,, *sambil netesin air mata :’ mungkinkah krn aku termasuk org yg munafik itu? Astagfirullah,, mesti aku tulis besar2 dan ku tempel di dinding kamar,, Smg Allah menuntun kita,,mudahkan kita utk dekat dg- Nya dan org yg senantiasa mendekat dg- Nya . Aamiin
    Trmkasih Allah izinkan baca tulisan ini,, trmksh mas lutfi,mas ori,, Smg Allah merahmati, di berikan nikmat utk trz beribadah..

  4. Subhanallah, cerita kak Ori menginspirasi. Semoga Kak Ori selalu istiqamah di jalan-Nya dan didekatkan dengan orang-orang shalih dan shalihah. Aamiin 🙂

  5. Allah memang akan memberikan apa yang hambanya butuhkan bukan yang hambanya inginkan, banyak belajar dari tulisan ini. di tengah banyaknya keinginan yang saya inginkan tapi belum menjadi kenyataan. saya yakin Allah akan memberikan yang terbaik untuk saya, ya untuk hambanya. Terimakasih mas Ori, tulisannya menginspirasi

  6. Masya Allah kak ori … tulisannya sangat menginspirasi… dari awal baca saya sudah menduga klo teman yg kos kamar no.2 itu adalah mas luthfi chabib… beliau adalah orang yg luar biasa pertemuan pertama ketika beliau mengisi LKID di kelas saya sangat berkesan bagi saya … ketika saya baca ini jga saya merasa saya jga merasakan apa yg kakak rasa.. saya mengejar universitas impian sya selama 2 th dan Allah blm mengizinkan sya kuliah di tempat itu dg jurusan yg saya inginkan… tapi allah pnya rencana lain dan allah menuntun saya untuk mjd mahasiswa uii.. dan alhamdulillah rencana allah memang luar biasa… jujur saya menangis saat membaca ini, ingin rasanya saya jg bisa mengikuti jejak mas luthfi chabib dan kak ori… semoga saya bisa seperti itu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s