Mencintainya secara Utuh

cropped-ori-mapa.jpgJika ada pertanyaan yang mana diantara mereka yang paling kusayangi, maka aku tak bisa memilihnya. Mereka itu seperti kayuhan sepeda, saling bersinergi. Seperti dua tapak kaki, saling menopang. Tak bisa dipisahkan. Maka jawaban yang paling bijak untuk itu adalah aku mencintai keduanya. Cinta yang sama untuk Mama dan Papaku.

Tak seperti kita mencintai seseorang, kita butuh poin yang membuat kita kagum. Mencintai orangtua tak butuh poin apapun, karena mencintai mereka seperti air mengalir, terjadi begitu saja. Bohong dan terkutuklah kita bila menyimpulkan tak bisa mencintai orangtua kita. Sejahat-jahatnya orangtua, pastilah ada poin kecil -yang mungkin bagi sebagian orang poin itu nyaris tak terlihat sama sekali- yang membuat kita merasa bersalah bila tak membalas kebaikan mereka dengan cara yang sekecil-kecilnya.

Dan cara mencintai keduanya itu seperti angka dengan eksponensial tak hingga. Banyak cara. Namun sedikit kugaris bawahi, cara yang tepat untuk mencintai keduanya itu dengan bukti. Baik dalam visible maupun invisible form. Bukti yang terlihat bisa berupa pelukan, ucapan selamat, ciuman tangan, dan lain-lain. Namun pada tulisan kali ini fokusku adalah mencintai mereka dalam invisible form: mencintai dengan cara yang tak terlihat mata.

Banyak sekali jiwa yang selalu berdetak hatinya ketika disebut Ayah atau Ibunya. Banyak pula jiwa yang menangis ketika mengenang perjuangan Ayah dan Ibunya. Namun sayang, kebanyakan dari jiwa jarang sekali mencintai keduanya secara utuh. Bilang cinta, namun selalu mengecewakan, bilang cinta, namun jarang mendoakan, bilang cinta, namun berbuat maksiat atau zina. Munafik sekali.

Atas dasar itulah aku tak berpacaran, kawan. Atas dasar itulah aku selalu rajin menulis. Atas dasar itulah aku selalu menguasahi diri untuk tak melakukan maksiat.
Atas dasar aku mencintai orang tuaku.

Ayah dan Ibu itu seperti gravitasi dalam hidup dimana bila tak ada keduanya kita akan terombang-ambing tak berdaya. Maka dengan aku tak berpacaran, menghindari zina dan maksiat, dan rajin menulis agar bermanfaat, aku bisa bebas mendoakan mereka. Karena doa yang terkabul adalah doanya anak yang sholeh. Dan anak yang sholeh itu selalu menghindari maksiat atau zina, dan selalu menyebarkan kebaikan. Aku bebas meminta kebaikan untuk mereka, meminta ampunan dosa untuk mereka, meminta kenaikan derajat untuk mereka, dan sebagainya. Indah sekali.

Kawan, perbuatan paling indah di hidup ini adalah memperjuangkan seseorang, mendoakan seseorang, atau mencintai seseorang namun ia tak mengetahui. Cukup kita dan Tuhan saja yang tahu. Dan inilah yang sedang kulakukan. Maka nasihatku: ganti makna “seseorang” itu dengan kedua orangtuamu dulu. Karena sebaik-baiknya mencintai adalah mencintai mereka secara utuh.

Silakan bergabung di page FBku: Ori Rabowo’s Page

Silakan juga kirim testimoni tulisan-tulisanku diblog ini. Kirim ke orirabowo@gmail.com, dengan format Nama_Pekerjaan_Asal. Insyaallah testimoni kalian akan dimuat dibuku pertamaku.

Oya minta doanya ya kawan-kawan agar buku pertamaku segera publish dan bisa bermanfaat untuk orang banyak. aamiin.

Terima Kasih.

Salam,

Ori Rabowo

Advertisements

One thought on “Mencintainya secara Utuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s