2015

Close-up of snowflakesKetika aku pada masa kecilku, jauh sebelum hari ini tiba, aku dan temanku berkumpul, merapat, bak anggota DPR yang  sedang berdiskusi, serius, merapatkan sesuatu untuk kebahagiaan rakyat. Atau bila tidak dengan temanku, aku dan keluarga besarku telah menyiapkan apa saja yang harus disiapkan untuk menyambut tahun baru.

Memang tahun baru spesial sekali  bagiku. Terlebih itu adalah hari lahirku. Ada semangat baru. Ada nuansa baru. Ada rencana baru. Seperti itulah aku mendefinisikan semarak tahun baru. Namun kali ini berbeda. Aku sudah dewasa. Sudah keempat kalinya aku tak merayakannya. Pikirku, bukan masaku lagi tuk seperti itu.

Kawan, bukan maksudku melarang kau merayakan hari tahun baru ini. Selagi positif, silakan saja rayakan. Tiup terompetnya sekencang-kencangnya, luapkan kebahagiaanmu, tertawa lepas saja dengan keluarga atau kawan-kawanmu. Aku tidak akan mengerutkan senyum sucimu. Tidak akan pula menggagalkan ekspresi senangmu. Silakan.

Aku hanya ingin memberitahu tentang apa yang kualami. Tentang sesuatu yang nikmat sekali. Yang kurasakan disepanjang tahun yang lalu.

Biarkan aku bercerita sejenak.

Ada dua air mata yang sangat kurindukan kehadirannya. Pertama adalah air mata ketika terdengar kumandang takbir dimalam idul fitri dan idul adha. Malam itu hatiku bergetar. Senang sekali angkasa dihiasi  takbir, meninggikan nama Tuhan.

Sementara air mata yang kedua adalah air mata tahun baru. Disaat hiruk pikuk yang luar biasa diluar sana, disaat banyak ajakan teman tuk berkumpul, disaat orang lain keluar demi merayakannya, aku lebih memilih mengasingkan diri, menangisi banyak kesalahan yang telah kuperbuat, serta mensyukuri nikmat masih dipercaya Tuhan tuk mewujudkan mimpi.

Seperti hanya berdua saja, aku dan Tuhanku. Aku mengutarakan semua apa yang kuimpikan, apa yang ingin kulakukan ditahun yang baru. Aku berdoa: Tuhan, Inilah mimpi-mimpiku. Kubawa. Kuutarakan kepada-Mu disaat banyak jiwa diluar sana yang mungkin tak lagi mengingat-Mu, yang tak lagi takut pada-Mu. Sementara hamba-Mu yang hina ini memohon ampun agar tak semakin hina, memohon doa agar terwujud. Kabulkan Ya Rabb…

Dan benar. Itu terasa. Beban seperti menghilang, di sepanjang tahun jalan seperti mudah, mimpi banyak yang terwujud, dan ada saja jalan keluarnya saat masalah datang. Nikmat sekali. Sungguh.

Rasakan coba kawan. Iya benar, tidak harus di hari tahun baru. Maksudku berbeda dari orang kebanyakan itu membawa kita pada ketenangan dan kemudahan. Itu poinnya. Cobalah. Lalu rasakan bedanya.

Semoga bermanfaat.

Happy New Year 2015 kawan 😉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s