Mencintai dalam Diam

rhshkhywSini, duduklah!

Akan kuceritakan kisah cinta yang paling mulia, paling menakjubkan. Adalah kisah cinta Ali dan Fathimah.

Siapa yang tak tertarik dengan putri kesayangan Rasul itu?

Parasnya sungguh memesona siapapun yang melihat, belum lagi kesantunannya, ibadahnya, perilakunya, dan lain sebagainya. Dia ibarat paket komplit dari definisi ciri-ciri wanita yang terbaik di dunia. Dia diperebutkan, ibarat sang ratu, yang diidamkan para raja.

Di masa kecilnya, Fathimah memiliki kawan laki-laki dari keluarga miskin. Adalah dia Ali bin Abi Thalib. Terkesan biasa saja awalnya, mereka bermain, bercanda layaknya anak kecil pada umumnya. Namun hingga masa dewasa ada definisi lain dari keakraban mereka. Apalagi kalau bukan perasaan jatuh cinta.

Saat itu Ali belum terlalu siap untuk melamar Fathimah. Lagi pula apa yang bisa dia bawa kepada Rasul untuk meminang anak kesayangannya itu. Tidak memiliki harta yang cukup, tidak pula terlalu dekat dengan Sang nabi. Pikirnya, lebih baik ia pendam perasaan itu dilubuk hatinya yang paling dalam.

Memendam perasaan memang tak selamanya enak. Begitu yang dialami Ali. Saat itu hatinya tersayat, pedih sekali. Sang pujaan, Fathimah, dilamar oleh orang lain. Pertama adalah Abu Bakar Ash Shiddiq dan kedua adalah Umar. Keduanya sama-sama istimewa dimata nabi. Pemberani, jujur, dermawan, ibadahnya tak perlu diragukan lagi, dan lain sebagainya.

Ali pasrah pada Allah, “Aku mengutamakan kebahagiaan Fatimah diatas cintaku,” bisik Ali dalam hati.

Allah memang memiliki kekhasan sendiri dalam berencana, siapa sangka kedua pelamar itu ditolak dengan lembut oleh Rasulullah Saw.

Ali pun memberanikan diri. Ia datangi Rasul, mengutarakan maksudnya untuk melamar Fathimah. Dan siapa sangka Rasul mengiyakan maksud Ali. Dengan modal baju besi yang telah dijualnya, ia membeli perlengkapan pengantin. Bahagia sekali hatinya berhasil menjadi raja atas ratu yang diidamkan banyak pria.

“Wahai suamiku, kini aku telah halal bagimu, aku sangat bersyukur pada Allah memiliki suami yang tampan, sholeh, cerdas dan baik sepertimu”, ucap Fathimah kepada Ali.

“Aku pun demikian wahai Fatimah, aku sangat bersyukur kepada Allah akhirnya cintaku padamu yang telah lama kupendam telah menjadi halal dengan ikatan suci pernikahanku denganmu”, Ali membalas.

Fathimah melanjutkan, “Wahai suamiku, maafkan aku, tahukah engkau bahwa sesungguhnya sebelum aku menikah denganmu, aku telah lama mengagumi dan memendam rasa cinta kepada seorang pemuda dan aku merasa pemuda itu pun memendam rasa cintanya untukku.”

Ali terdiam sejenak, lembut memang ucapannya Fathimah, tapi baginya ucapan Fathimah bak petir yang tetiba menghujam hatinya.

“Wahai suamiku, Astagfirullah maafkan aku. Aku tak ada maksud untuk menyakitimu, demi Allah aku hanya ingin jujur, saat ini kaulah pemilik cintaku, raja yang menguasai hatiku”, tambah Fathimah.

Ali masih saja terdiam, bahkan Ali mengalihkan pandangannya dari wajah istirnya itu.

Tiba-tiba Ali pun berkata, “Fathimah, kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu, selama ini aku berjuang memendam rasa cintaku demi untuk ikatan suci bersamamu. Tapi Fathimah, tahukah engkau saat ini aku pun sedih karena mengetahui kau menikahiku bukan karena kau sungguh-sungguh mencintaiku. Aku tak mau orang kucintai berada dalam keterpaksaan.

Tampak senyuman Fathimah sesaat mendengar kata-kata Ali.

Ali diam. Merenung sejenak. Lalu dengan air mata dan hati yang sangat tulus Ali berkata lagi, “Wahai Fathimah, kita memang telah menjadi pasangan kasih dalam ikatan suci, tapi aku belum sedikit pun menyentuhmu, kau masih suci. Aku rela menceraikanmu malam ini agar kau bisa menikah dengan pemuda yang kau cintai itu, aku ikhlas. Lagi pula ia pun mencintaimu. Jadi aku tak akan khawatir ia akan menyakitimu. Karena ia pasti akan membahagiakanmu. Menikahlah dengannya, aku rela.”

Tak terasa air mata membasahi pipi Fathimah sambil tersenyum menatap Ali, Fathimah sangat kagum dengan ketulusan cinta Ali kepadanya, ketika itu juga Fathimah ingin berkata kepada Ali, tapi Ali memotong dan berkata, “Tapi Fathimah, sebelum aku menceraikanmu, bolehkah aku tahu siapa pemuda yang kau pendam rasa cintanya itu?, aku berjanji tak akan meminta apapun lagi darimu.

Airmata Fathimah mengalir semakin deras, Fathimah tak kuat lagi membendung rasa bahagianya dan Fathimah langsung memeluk Ali dengan erat. Lalu ia pun berkata dengan tersedu-sedu, “Wahai Ali, demi Allah aku sangat mencintaimu, sungguh aku sangat mencintaimu karena Allah. Awalnya aku ingin tertawa dan menahan tawa sejak melihat sikapmu setelah aku mengatakan bahwa sebenarnya aku memendam rasa cinta kepada seorang pemuda sebelum menikah denganmu, aku hanya ingin menggodamu. Sudah lama aku ingin bisa bercanda mesra bersamamu. Tapi kau malah membuatku menangis bahagia. Apakah kau tahu sebenarnya pemuda itu sudah menikah wahai Ali?”

Ali menjadi bingung, Ali pun berkata dengan selembut mungkin, walaupun ia kesal dengan ulah Fathimah kepadanya. ”Apa maksudmu wahai Fatimah?”

Fathimah pun kembali memeluk Ali dengan erat, tapi kali ini dengan dekapan yang mesra. Lalu menjawab pertanyaan Ali dengan manja, “Wahai Ali sayang, kau benar seperti yang kukatakan bahwa aku memang telah memendam rasa cintaku itu, aku memendamnya bertahun-tahun sudah sejak lama aku ingin mengungkapkannya, tapi aku hanya memasrahkannya pada Allah. Aku tak ingin menodai anugerah cinta yang Allah berikan ini. Aku pun tahu bagaimana beratnya memendam rasa cinta apalagi dahulu aku sering bertemu dengannya. Hatiku bergetar saat bertemu dengannya. Tapi tahukah engkau wahai cintaku, pada malam pertama pernikahannya ia malah dibuat menangis dan kesal oleh perempuan yang baru dinikahinya.”

Ali pun masih agak bingung, tapi Fathimah segera melanjutkan kata-katanya dengan nada yang semakin mesra, ”Baiklah akan kuberi tahu siapa pemuda itu. Sekarang aku sedang memeluknya mesra, tapi dia hanya diam saja, padahal aku memeluknya sangat erat dan berkata-kata manja padanya, aku sangat mencintainya dan aku pun sangat bahagia ternyata memang dugaanku benar, ia juga sangat mencintaiku.”

Ali berkata kepada Fathimah, “Jadi maksudmu?”

“Ya wahai cintaku, kau benar, pemuda itu bernama Ali bin Abi Thalib sang pujaan hatiku.” Ali terdiam bisu, hening sejenak, atas ucapan istrinya itu.

Pernyataan Fathimah itu sontak membuat Ali haru bahagia. Ia membalas pelukan istirinya dengan mesra. Malam itu sangat indah. Tidak hanya indah diujungnya, namun juga pada prosesnya. Tak disangka cinta dalam diam itu berbuah manis. Terbukti dengan indahnya malam sepasang insan mulia ini.

Inilah kisah cinta terindah di bumi ini. Saling memendam cinta, saling diam. Memang kelihatannya saling diam, seperti tidak ada usaha untuk menyatukan. Tetapi sesungguhnya doalah yang bekerja, yang perlahan menyatukan cinta.

Kawan, siapapun yang kau suka, cintailah dia dalam diam. Cukup hanya kau dan Tuhan yang tahu. Hanya bermodal doa saja. Hanya bermodal kepasrahan saja. Sesungguhnya boleh meminta dia sebagai jodohmu, asal kau memasrahkan sepenuhnya pada Allah.

Semoga akan ada cerita Ali-Fathimah lagi dariku atau juga darimu. Aamiin.

Cerita kisah cinta Ali-Fathimah bersumber dari @Sahabat_Rasul, dengan beberapa perubahan kalimat dari penulis.

Semoga bermanfaat.

Salam,

@orirabowo

Advertisements

5 thoughts on “Mencintai dalam Diam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s