Wanita adalah Wanita

Puncak kebahagiaan dalam hidup wanita adalah ketika ia telah menjadi ibu. Seketika itu ia seperti mendapatkan semua isi dunia.

Ori Rabowo

Aku ini sama seperti kalian. Ketika muda dulu bernafsu sekali bermimpi hingga titik yang tertinggi. Satu diantara banyak mimpiku adalah menjadi seorang profesional. Tak pernah lelah, tak juga mengeluh. Aku senang menjadi wanita karir. Puncak dari hasil jerih payahku adalah jabatan “manager” yang disematkan padaku. Iya, aku ini dulu seorang manager diperusahaan yang cukup diperhitungkan.

Jabatanku itu membuat satu persatu mimpi yang ku-list dicatatanku dicoret. Aku mencoret list “ingin punya rumah sendiri”, “ingin punya kendaraan sendiri”, “ingin membantu orangtua dalam usahanya”, dan “menyekolahkan adik-adikku hingga sarjana”. Coretan itu tanda mimpi yang telah tercapai.

Satu yang belum kucapai: menikah.

Aku ini tipikal wanita yang mengenal lelaki secukupnya. Belum pernah sama sekali aku berpacaran dari masa remaja hingga masa dewasa. Mungkin jatuh cinta pernah, tapi hingga masuk dalam nuansa cinta, sama sekali aku belum merasakannya. Yang sering berputar diotakku hanyalah bagaimana menaikkan derajat orangtua serta adik-adikku, mungkin ini yang membuatku sedikit lupa mencari pendamping. Tapi pikirku hanyalah satu: jodoh itu pasti kan segera datang menghampiriku.

Singkatnya, akhirnya aku menemukan lelaki itu. Kini aku telah menikah. Juga telah mengandung buah hati pertamaku. Berat rasanya membawa tubuh besarku ini, tapi tetap aku senang, telah dipercaya Tuhan untuk mengandung dan melahirkan jiwa yang baru.

Penantian panjang itupun berakhir. Kini ia disampingku. Wajahnya lucu sekali. Betah rasanya menatap lama buah hatiku ini. Bersyukur sekali Tuhan yang Maha Baik telah mengizinkanku menjadi seorang ibu. Seketika menatapnya, seketika itu pula aku mengikrarkan diri menjadi seorang ibu yang baik, yang akan menjadi panutan dalam hidupnya. Tidak ada istilah “baby-sitter”! Aku ingin membesarkannya dengan tanganku, dengan ajaranku, dan dengan ilmuku.

Apapun deminya, akan kukorbankan. Termasuk pekerjaanku. Banyak orang, termasuk orangtua dan saudaraku, menyayangi keputusanku ini. Jabatan tinggi itu masalahnya. Ditambah lagi perjuangan orangtuaku dulu yang mati-matian memperjuangkan agar aku menjadi sarjana. Iya, aku tahu itu.

Namun sekarang ada yang lebih penting dari semua itu: buah hatiku. Aku tak ingin melewatkan sedetikpun momen perkembangan darinya. Aku ingin mendidiknya hingga dewasa. Aku ingin mengumpulkan banyak kenangan dengannya. Hingga nanti dia telah sukses, kenangan-kenangan itu yang tak membuat dia lupa ibunya. Kenangan-kenangan itu menjadikannya rindu padaku, yang menjadikannya ingin selalu bertemu denganku, dan yang menjadikannya senantiasa mendoakanku.

Wanita adalah wanita. Setinggi apapun karirnya nanti, wanita adalah wanita. Yang menjadi wakil Tuhan untuk anak-anaknya, yang menjadi aktor dibalik suksesnya suami dan anak-anaknya, yang menjadi penyejuk saat berkumpul, dan menjadi pemeran agar keluarganya nanti dapat kesurga .

(Tokoh “Aku” diilhami dari alur cerita saudara perempuanku, Erika Bhertania)

Aku dan buah hatiku

Inilah puncak dari kebahagiaan hidupku. Sesaat dia lahir, sesaat itu pula aku mendapatkan segala isi dunia. Tangisnya, senyumnya, ketawanya, sungguh sudah bisa mengalihkan pandanganku dari yang lainnya. Sungguh itu sudah cukup bagiku.

Advertisements

2 thoughts on “Wanita adalah Wanita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s