My Graduation

with mapa 1

02.30 WIB di Jogjakarta

Tidak biasanya handphoneku berdering nyaring pukul ini. Kupikir apa aku salah meng-set alarm. Tapi rasanya tidak mungkin. Untuk hal yang satu ini, aku selalu teliti. Kulihatlah handphone yang sedang tidur manis disebelah punggung kananku. Seketika itu wajah cantik yang sudah kuhafal manis tersenyum. Maklum, sudah 22 tahun aku hidup dengannya. Wajah mama terlihat jelas dilayar. Kuangkat langsung telpon yang seperti sudah tidak sabar tuk dijawab itu.

Fajar itu mama, papa, dan kakak perempuanku beserta keluarga kecilnya datang khusus keacara yang paling mereka nanti. Wisudaku. Sudah kukatakan sebelumnya bahwa ini bukan hanya perkara penambahan gelar dinamaku, tapi juga kemenangan bersama. Ini ibarat sebuah pemilihan presiden. Dimana tidak mungkin tercapai bila dibalik layar tidak ada orang-orang yang gigih berjuang demi sebuah titik. Titik kemenangan. Aku ibarat capresnya sedangkan mama, papa, dan empat saudaraku bak tim sukses yang akan memenangkanku.

Seperti biasa. Mama dengan senyum manisnya memeluk si bujang yang merantau dinegeri urang (Red: Jalan Kaliurang. hehe) dan Papa dengan sebatang rokok yang sesekali diputar dijemari kanannya menyapa lantang “Oy bujang… Gimana kabar?” Mungkin bila dilist selain mama, rokoklah yang menjadi teman Papa disaat gunda. Kakak perempuanku yang baru turun dari mobil dengan menggendong si imut, Zee, terlihat letih sekali. Tapi aku yakin letih itu pastilah sirna seketika melihat adik yang diperjuangkannya selama ini hendak di wisuda.

==

06.00 WIB dikamar kecilku

Dengan kemeja biru dan dasi yang mengikat leher, aku terlihat seperti businessman yang hendak menemui seorang investor. Kupakai jubah wisuda yang berwarna hitam dengan motif kampus tercinta menutupi sekujur tubuhku. Tidak lupa kalung wisuda dan satu selempang yang susah payah kuperjuangkan selama ini. Selempang cumlaude. Alhamdulillah, Tuhan mengizinkanku untuk mengenakannya diwisudaku ini.

Pukul 06.30 keluargaku beserta saudara-saudara hebatku di Jogja siap mengiringi langkah menuju gedung yang akan menjadi saksi bisu seorang anak yang bila dipikir secara logika manusia, ia tidak akan bisa menjadi sarjana. Tapi untungnya tidak ada kaya atau miskin dimata Tuhan, yang ada hanyalah siapa yang bersandar pada-Nya niscaya akan Dia wujudkan keinginannya. Dalam hatiku berbisik, “Ya Rabb… terima kasih untuk semua ini.”

==

08.00 WIB digedung Kahar Muzakir UII

Semua wisudawan duduk rapi didalam gedung. Aku beserta teman yang juga cumlaude didudukkan dibaris paling depan. Sesekali aku melirik kearah Mama dan Papa yang duduk disebelah utara gedung. Sesekali pula Papa tersenyum haru melihat anaknya gagah memakai toga. Mungkin dalam benaknya masih tak percaya bahwa anaknya bisa menjadi sarjana.

Tibalah giliranku untuk disahkan menjadi seorang sarjana. Dengan langkah yang penuh gelora aku arahkan badanku menghadap Rektor. Di Universitas Islam Indonesia yang mendapatkan predikat “cumlaude” memang Pak Rektor langsung yang akan memindahkan tali toga dari kiri kekanan. Cuma seperti itu memang. Hanya pemindahan tali toga. Namun bagiku ini adalah momen yang paling indah yang pernah kurasakan. Dengan momen inilah aku bisa membuktikan bahwa kuasanya Allah itu sangat menakjubkan.

Sekitar pukul 11.00 WIB acara wisuda ini selesai. Pintu-pintu gedung langsung dibuka. Momen lain yang ditunggu oleh wisudawan adalah ketika para rekan selama kuliah menemuinya. Waktu itu teman-teman seperjuangan dikala kuliah dan mengajar beramai-ramai menemuiku. Senang rasanya. Ketawa lepas. Berfoto ria. Lebih senang lagi saudara-saudara hebatku yang juga penyejuk dikala susah, guru hidup, kawan pergi kemasjid, kumpul khusus untuk acara wisudaku. Ah… bila ketika itu dadaku di rontgen, pastilah semua isi didalamnya akan berbentuk “love” hehehehe…

11.35 WIB. Aku perlahan menjauh dari keramaian. Ada yang harus kutemui. Yang telah menjadi perantaraku sebagai sarjana. Masjid Ulil Albab (masjid kampus). Ya… masjid inilah sebagai perantaraku mendapatkan beasiswa selama kuliah.

Sedikit berbeda bunyi azan zuhur kali ini. Bukan, bukan adanya penambahan ayat dalam lantunannya, maksudku maknanya. Besar sekali makna azan kali ini. Membuatku haru. Haru pertanda bahagia telah dimanjakan Tuhan selama ini. Sungguh kalimat “Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan” sangat pas ditujukan kepadaku saat ini. Kalau bukan karena-Nya, dipastikan aku tidak akan pernah berada dalam kehidupan seperti ini.

==

Seperti itulah cerita wisudaku kali ini kawan. Bahagia sekali. Terlebih dapat melihat senyum lepas kedua orangtuaku.

Terima kasih bagi semua yang berada kokoh dibalik layar ini. Aku hanya dapat mendoakan agar kita semua selalu dalam kebahagiaan. Aamiin.

Ada beberapa catatan penting dalam tulisan ini:

  1. Sesuatu yang biasa dalam pandangan orang lain, pastilah luarbiasa dalam pandangan kita karena untuk mencapainya dibutuhkan perjuangan dan airmata. Terlebih itu airmata kedua orangtua.
  2. Nikmat sekali rasanya bisa membuktikan janji-janjinya Allah dalam Al-Qur’an. Sekian lama aku berusaha keras untuk mencoba membuktikan satu-persatu. Dan momen inilah puncak dari hasil semua itu.
  3. Ada pertanyaan, “Ri, apa kamu tidak memikirkan “pendamping” disaat wisuda?”
    Aku jawab: Terlalu hina aku sebagai anak bila kata “pendamping” itu kusematkan untuk orang lain. Tidak terhitung lagi usaha, tetesan keringat, dan airmata dari orangtuaku. Sudah sepantasnya kata itu kuanugerahkan untuk mereka. Merekalah yang harus berada disebelah kanan dan kiriku. Mereka harus menyaksikan buah dari airmata mereka selama ini. Nanti, ada masanya yang mengelilingiku tidak hanya kedua orangtuaku, namun juga wanita sholelah yang diutus Tuhan sebagai pendamping abadiku
  4. Jadikan namamu baik ditelinga semua orang. Dari sanalah kau akan dicintai banyak orang. Dan itulah cikal bakal dari kebahagian hidup.
  5. Tidak perlu takut bermimpi. Selama kita menyandarkan semuanya pada Allah, kita pada jalur yang benar.

Terima kasih.

Ori Rabowo

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

8 thoughts on “My Graduation

  1. selamat ya kak ori untuk status barunya. jadi ikut seneng pas baca blog yang ini, jujur aku ikut nangis terharu pas bacanya .. Selamat yaa ka ori, terus semangat juga nulis blognya biar lebih banyak yang terinspirasi 🙂

  2. Terharu membaca tulisan Kak Ori. Aku jadi sadar bahwa di balik setiap kesuksesan kita, ada orangtua, saudara-saudara dan para sahabat yang memberikan dukungan dan doa 🙂 dan semuanya tidak lepas dari kehendak Allah swt 🙂

    Selamat atas wisudanya, Kak, semoga ilmunya bermanfaat dan berkah 🙂

  3. subhanallah luar biasa kak :), selamat yaaaaa barakallahu :). Karena org terkaya adalah dia yg masih punya orang tua utuh 🙂

  4. assalamu’alaykum orii 🙂
    salam kenal. ternyata ori dari UII juga ya? anak FTI yak? itu dr foto wisuda ada si ayu anggraeni. dia temen KKnku. udah temenan di WP baru sadar kalo ada anak FTI di sini.
    sekali lagi, mungkin yg kesekian, selamat yaaa buat wisudanya. semoga ilmunya berkah dan bermanfaat. 🙂

  5. Assalamualaikum, baru baca ini postingan. Happy congraduation yak kak ori :)) semoga ilmunya berkah dan bermanfaat. Amiin YRA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s