Masa Depan

Kasihan betul bulan malam ini, termenung, mengambang sendiri diluasnya langit. Entah kemana bintang yang biasanya menemani, yang mengejap-ngejapkan cahaya, yang menambah eloknya sang malam. Mungkin Tuhan tak mengizinkan mereka saling bertemu, saling menatap satu sama lain.

Langit memang terang. Awannya pun tidak terlalu pekat. Bebas. Mata bisa langsung melihat bulan yang sedang kesepian. Tapi apalah artinya bila tak ada bintang yang mengelilingi. Ada yang kurang.

Bintang memanglah cahaya kecil. Namun satu cahayanya akan berperan besar bagi keindahan dunia. Terlebih lagi bila satu bertemu dengan satu yang lain, kemudian dua bertemu dengan kesekian bintang yang lain. Hingga sampai mereka bergumpal, maka cahayanya seperti bidadari yang dijanjikan Tuhan sebagai hadiah bagi orang beriman ketika berada di dalam surga-Nya.

Hingga kesekian jam, aku belum juga menemui cahaya bintang. Entahlah apa maksud Tuhan malam ini. Yang jelas fenomena malam ini seperti cerminan dari diriku sendiri: terlihat terang, padahal gelap.

Mungkin sama halnya denganmu kawan, sedang berpikir keras bagaimana masa depan. Tidak ada seorangpun yang bisa mengintip catatan Tuhan tentang apa yang terjadi dimasa depan. Gaib. Yang kita tahu hanya ada dua masa dalam masa depan: masa terjatuh dan masa bahagia.

Sedari kecil hingga detik ini, kita sudah di didik Tuhan sebenarnya dengan masa terjatuh. Mungkin sudah kesekian ribu kita berada dalam masa itu. Harusnya kita sudah mahir mencari solusi saat pada masa ini. Anehnya, tetap saja kita dibuat takut sekali sesaat terjatuh pada masa ini.

Dan cantiknya sistem yang dibuat Tuhan itu setiap kita terjatuh adakalanya kita dalam bangkit, atau disebut dengan masa bahagia. Setiap insan menunggu masa ini. Banyak sekali cara mengekspresikannya. Ada yang ingat Tuhan, dan tak jarang ada yang lupa dengan Tuhan. Inilah mugkin yang membuat Tuhan menciptakan masa terjatuh. Tujuannya agar kita ingat dan kembali pada-Nya.

Malam ini kucoba membayangkan aku dalam masa depanku. Kutekan ujung buntut pena agar kepalanya keluar. Kuambil pula secarik kertas. Kubuat diagram path tentang alur untuk masa depanku. Sesekali kupandangi langit. Masih berharap cahaya bintang. Satu menit. Dua menit. Hingga satu jam kemudian, barulah ada fenomena yang menggemetarkan hatiku. Awan-awan bergerak pelan saling menjauh. Kemudian perlahan terlihatlah titik cahaya kecil sekali. Semakin menjauh awan-awan itu, semakin jelas sekali cahaya itu. Tidak salah lagi. Itu cahaya bintang.

Subhanallah… Aku bergumam dalam hatiku. Indah sekali memang dihadiahi Tuhan dengan hadiah yang memang kita tunggu-tunggu. Terima kasih Tuhan tuk fenomena malam ini.

Aku mengambil pelajaran. Masa depan memang gaib. Cuma Dia yang tahu. Tapi selama kita bersandar pada-Nya, kita berada dalam zona yang aman. Seperti yang kuceritakan, aku menunggu cahaya bintang yang asing sekali pada malam ini. Aku pikir Tuhan tidak mengizinkan mataku tuk melihatnya. Ternyata aku salah. Tuhan bukan tidak mengizinkan bintang tuk memperindah langit malam ini. Namun Tuhan sedang menyimpan, sedang meramu cahayanya hingga nanti sekalinya dikeluarkan ia seperti gadis yang dipingit. Sekalinya si gadis dikeluarkan dari persembunyiannya, seketika itulah sang calon suami berdecak kagum karena kecantikan yang terbenam dari gadis itu.

Aku sudahi petualangan malam ini. Kuangkat kertas yang telah dipenuhi banyak harapan itu. Lalu kukatakan pada-Nya: Tuhan, buatkan cerita yang indah di masa depanku. Aamiin…

Advertisements

3 thoughts on “Masa Depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s