Masa Lalu

Otak manusia memang sangat mahir dalam menyimpan memori, meski itu sudah lama, mungkin juga sudah usang dan berdebu, tetap saja memori-memori itu mengudara dikepala setiap pemiliknya. Tidak ada insan yang pandai dalam mengatur memori. Disaat kita berharap itu kan terlupa, memori itu muncul dengan sendirinya seperti matahari yang sudah tahu tugasnya dikala pagi.

Bila ada pertanyaan tentang apa yang paling diharapkan, maka aku yakin kita semua akan lantang menjawabnya: Aku ingin kembali pada masa lalu. Lalu akan aku perbaiki satu demi satu masa yang pernah mengecewakan orangtua, saudara, bahkan Tuhan.

Di masa lalu pria, dulu ia terlihat sebagai pria yang melindungi wanitanya. Yang memegang erat tangan si wanita dengan rayuan-rayuan menggoda. Atau memeluk tubuh si wanita yang seolah mendamaikan dikala si wanita diterjang perkara dunia yang tak kunjung berakhir.

Di masa lalu wanita, dulu ia merasa sebagai wanita yang paling bahagia, yang mendapatkan pria dari proses persaingan kuat diantara wanita lainnya. Lalu dari sana si wanita rela diperlakukan apa saja. Padahal pada saat itu, baik prianya atau wanitanya belumlah menjadi sepasang halal yang diridai Tuhan.

Di sentuh dan menyentuh adalah perkara yang wajar menurut mereka pada saat itu. Tidak peduli dengan nasihat baik dan dosa. Yang mereka tahu cinta itu lebih nikmat untuk di nomor-satukan dari pada kesemua itu. Setelah semuanya sudah terjadi, barulah muncul penyesalan yang begitu dalam. Bagi pria, ia merasa sebagai pria yang paling bodoh dan juga hina. Yang sudah menyentuh bahkan menenggelamkan masa depan dari wanitanya. Bagi wanita, mungkin ia merasa sebagai wanita yang paling kotor, yang sudah disentuh dan mau diperlakukan apa saja oleh si prianya.

Dari sana barulah nama Tuhan begitu sangat diagungkan, begitu sering dilafazkan. Itulah mungkin kebiasaan hidup dari manusia. Mengingat Tuhan seperlunya saja.

Kawan, aku yakin beberapa dari kita pernah mengalami alur dari yang kujabarkan. Walau kita tidak separah itu, namun tetap saja rasanya bodoh sekali mengapa dulu kita melakukannya. Bahkan ada yang dari kita hanya berharap kematian, sangkin sudah merasa hinanya kita dihadapan Tuhan.

Sudahlah. Semuanya sudah terjadi. Masa lalu itu sudah terlanjur terukir. Jangan fokus pada masa lalunya, namun fokuslah kepada proses bagaimana agar menjadi lebih baik dimasa yang akan datang. Minta maaflah dengan Tuhan diiringi isak tangis yang begitu dalam. Karena hanya Dia yang bisa mengubah hina menjadi mulia, yang mengubah tangis menjadi bahagia.

Dia-lah yang menjanjikan pengampunan meski dosa sebanyak buih dilaut, sebesar gunung, atau seluas semesta. Kurang baik apalagi Tuhan kepada kita. Meski selalu kita kecewakan, tetap saja Dia bertindak sebagai Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Sekarang, biarkanlah memori dimasa lalu itu tetap bertengger kuat dikepala. Ingatlah bahwa kenangan masa lalu tak kan pernah bisa dihapuskan. Jadikan bagian yang indah sebagai alasan kau tuk tersenyum, sedangkan bagian yang hina sebagai alasan kau tuk mengingat serta memohon ampun pada-Nya.

(@orirabowo)

Advertisements

6 thoughts on “Masa Lalu

  1. “Kurang baik apalagi Tuhan kepada kita. Meski selalu kita kecewakan, tetap saja Dia bertindak sebagai Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

    Keren banget bang, sampai tersentuh hidup ane. :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s