Salah Menangis

“Ri, kenapa sakit banget ya rasanya diputusin itu. Lebih sakit lagi bila setelah putus malah dia kehati yang lain. Mungkin kalau di list ni Ri ya, dia itu ada diurutan pertama orang yang paling aku benci dihidup ku.”

“Sudahlah, yang berlalu biarkan berlalu. Setidaknya sekarang kamu lebih paham bagaimana ciri-ciri orang jahat, yang tidak pantas tuk menjadi pendampingmu.”

“Tapi Ri, sedih sekali rasanya setelah putus itu. Air mata ini tak henti-hentinya menangis. Tak taulah, aku ini bodoh apa bagaimana.”

“Iya… kamu bodoh. Lebih tepatnya kamu sangat bodoh.”

“Lah kok begitu, Ri?”

“Sudah berapa lama kamu dengannya?”

“Emmm…. Kurang lebih 3 tahun-an. Gimana, lama kan?”. “Gimana aku ga sesedih ini coba.”

“Dalam waktu selama itu, maaf ni, apa kamu pernah berpegangan tangan?” | “Pernah.” | “Apa kamu pernah dipeluk dan dicium?” | “Hehehe… Sedikit-dikit pernah Ri.”

“Kenapa kamu tidak menempatkan itu semua sebagai alasan kamu bersedih?” “Seharusnya karena sudah melakukan itu semualah yang menjadikan kamu bersedih. Kita tidak pernah tahu kapan azab Tuhan akan turun. Tapi yang pasti kesulitan dan matinya hatimu tuk menangisi dosa itu sudah menandakan azab-Nya perlahan turun. Dan seharusnya itu yang buat kamu menangis. Bahkan harusnya menangis tersedu-sedu.”

“Kamu tahu, di dunia ini ada cinta yang paling sulit didapatkan, atau sekalinya cinta itu hilang, maka lenyaplah kebahagian dihidup kita. Tak kan bahagia kita menjadi manusia, tak kan ada harganya kita sebagai manusia bila cinta itu hilang. Dan itu adalah cintanya Tuhan. Cinta tersulit tuk didapatkan.”

“Dan yang harusnya kau takutkan itu ialah kehilangan cintanya Allah, bukan cinta lainnya.”

Terdiam. Dia terdiam dengan perenungan yang begitu dalam. Aku tidak tahu dia menerima atau tidak perkataanku. Yang jelas aku menyampaikan sesuatu yang benar.

“Lantas apa yang mesti aku lakukan dengan aku yang hina ini, Ri?” Sambungnya dengan nada terbata-bata.

“Bersyukurlah. Iya, Tuhan tidak ingin kamu terlalu lama dalam dosa. Tuhan tidak ingin kamu semakin hina. Syukuri itu dengan tangisan yang meluap-luap pada-Nya.”

“Sekarang berwudhulah. Sholatlah taubat. Atau jika siang ini terlalu bising dengan suara, maka bangunlah di sepertiga malam. Bentangkanlah sejadah. Biarkan angin menjadi saksi kamu kembali kepada Tuhan. Biarkan bunyi jangkrik menjadi saksi air mata yang benar dalam pengungkapannya.”

“Setelah itu rajutlah kembali keharmonisan kamu dengan Tuhan. Sulit memang. Tapi teruslah bersandar dengan penuh harapan. Yakin saja kekuatan taubat dan doa akan menjadikan dirimu lebih mulia dihadapan Tuhan.”

Tuhan, kuatkanlah kami untuk selalu dalam jalan yang benar. Benarkan air mata yang mungkin salah dalam menangisi sesuatu. Izinkan kami menangis untuk-Mu saja Tuhan. Menangisi seribu dosa yang kami lakukan. aamiin…

Advertisements

5 thoughts on “Salah Menangis

  1. Aamiin…..
    Mungkin kurangnya rasa syukur yg membuat kita “salah menangis”
    Semoga sy selalu dan terus belajar menjadi sssrg yg terus bersyukur dlm keadaan apapun ya ri aamiin 🙂

  2. Amiiin,,
    bagus,, pola pikir terbalik ini emang cenderung membuai orang2 *mungkin termasuk juga saya.. padahal bagian yang terlupa justru vital adanya,, thanks ya sudah kembali diingatkan..
    oh iya penasaran, itu ori ngomong ama temennya persis sama kaya dialog yg ditulis di atas? hehe

  3. Kak ori boleh tanya?
    Gini kak saya punya temen yang belum pernah jatuh cinta
    Nah sekarang ini dia lagi merasakan apa itu cinta sama lawan jenis
    Semenjak itu dia jadi pemurung kak,beribadahnya kurang aktif
    Jadi gimana ya kak cara berbicara sama dia Agar tak ada rasa enak hati ?
    kadang dia juga baca postingan dari kak ori tapi tak ada perubahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s