Silahturahim yang Sesungguhnya

Di email. twitter, maupun teman dekatku sendiri, banyak yang bertanya tentang hal ini. Tidak rumit sebenarnya, hanya saja pikiran kita seringkali tergoda dengan pikiran-pikiran yang memadamkan pikiran yang baik. Oleh karenanya, kita bingung sendiri apakah jalan ini dirahmati atau justru dibenci oleh Allah, Tuhan kita yang Maha Baik itu.

Secara umum, pertanyaan dari kalian bermakna sama: “Ri kalau kita putus dengan pacar, apakah kita tidak memutuskan silahturahim, sedangkan pemutus silahturahim itu akan dilaknat oleh Allah, kan?.

Teman, banyak sekali cara setan membolak balikkan pikiran yang awalnya benar itu menjadi salah. Termasuk urusan ini. Kita manusia dibuat tidak berdaya dengan analogi-analogi yang dicetuskan oleh setan, seolah benar padahal salah.  Aku setuju sekali bahwa pemutus silahturahim itu bakal dipersulit rezekinya, dipersulit jalannya, juga hidupnya. Tapi dalam konteks pertanyaan diatas, kalian salah besar bila menyebut diri kalian sebagai pemutus silahturahim.

Kalian tahu, ibumu yang melahirkan kamu, yang mengurusimu sedari dini hingga kenal dunia, kau diperbolehkan untuk menjauhinya bila dia mengajak kau untuk berzina atau bermaksiat. Islam menghalalkan dirimu untuk menjauhinya setelah kau coba tuk menasehati tapi dia tak kunjung berubah. Dan tentu dengan cara yang baik kau menjauh darinya. Termasuk itu juga ayah yang menjagamu dari kelaparan dan kehausan. Kau pun berhak untuk menjauhinya, bila dia mengajak kau untuk berbuat dosa.

Coba tarik kesimpulan, ibu dan ayahmu saja itu boleh kalian jauhi apabila mereka mengajak kepada perbuatan yang tidak benar, Apalagi dia yang katanya memuliakanmu, meninggikan derajatmu, atau apalah yang bersifat gombal itu, kau boleh sekali bahkan harus menjauh darinya.

“Ri, dia masih saja berdalil bahwa aku tetap bisa dikatakan pemutus silahturahim diantara kami, hanya karena aku memutuskannya, bagaimana?”. (Pertanyaan dari seorang wanita).

Wanita, kalian tahu bahwa laki-laki itu akan mencari seribu celah setelah seratus cara dia gagal untuk mengajak kau kembali atau lebih dekat dengannya. Bahkan dia bisa menjelma sebagai seorang kyai yang seolah tahu seribu satu hadist untuk meyakinkanmu bahwa kau sudah memutuskan silahturahim diantara kalian. Kuatkan diri kalian untuk tak akan pernah terpengaruh oleh apapun, sekalipun dia berencana menggantung dirinya diatas sebuah pohon tua dengan seutas tali yang tidak akan bisa menopang berat badannya.

Biarkan, biarkanlah dia tetap berkicau layaknya burung yang kehilangan induknya. Tetap kuatkan saja diri kalian laksana baja yang tak pernah pecah meski dihantam seribu dinamit. Dan katakan ini padanya:

Duhai laki-laki yang pernah mengisi hati. Sungguh aku memutuskanmu hanya karena alasan aku takut akan himpunan azab yang semakin besar, bila aku tak segera mengambil keputusan ini. Aku justru heran padamu yang seharusnya menjadi laki-laki yang tegas, yang seharusnya melindungiku dari api neraka, malah berdiam diri seolah tak pernah mau mendengar nasihat yang baik ini. Aku pertegas sekali lagi, aku tak pernah berniat untuk memutuskan silahturahim yang sudah lama terjalin ini. Aku hanya menjauh sejenak darimu hingga nanti kita dipertemukan secara halal, atau hingga aku menjadi istri dari seorang pria yang akan menjaga kemuliaanku lalu mengizinkanku untuk menemuimu, dan tentu pada waktu itu aku akan bersamanya.

Sungguh ini keputusan yang berat, tapi cuma ini syarat agar jalan hidup kita tetap benderang. Sekarang lakukan saja aktivitas yang bisa menyegerakan mimpi-mimpimu terwujud, lalu bila kau telah siap untuk menafkahiku, pintu rumah yang dulu sering kau lewati itu akan selalu siap untuk menyambut penuh suka akan kedatanganmu. Dan jangan salahkan siapa-siapa bila pada akhirnya kita tidak disatukan oleh Tuhan. Percaya saja, Tuhan lebih tahu yang mana lebih pantas untuk menemanimu hingga hembusan nafas terakhirmu. Aku doakan kau segera mengerti akan keputusan ini. Atau aku berdoa akan ada cara Allah untuk menyadarkanmu bahwa aku bukanlah pemutus silahturahim seperti apa yang kau katakan.

 

 

Semoga tulisan ini bisa membuka pikiran kita semua, aamiin…

 

(@orirabowo)

 

 

 

 

 

Advertisements

7 thoughts on “Silahturahim yang Sesungguhnya

  1. assalamualaikum wr.wb

    kesan pertama liat bloggernya Mr. Ori subhanallah 🙂
    dari judulnya saja sudah membuat merinding !
    postingannya pun sangat bermanfaat, insyaALLAH
    Syukron utk Ilmu yg diberikan Mr.
    semoga sukses dan teruslah bermimpi !

    wassalamualaikum wr. wb

  2. Saya pernah mengalami hal yg sama dalam posisi sebagai pihak “pemutus” malahan… sebenarnya hanya ingin menjaga krn perasaan yg saat itu masih labil dan sebagainya, tapi yg bersangkutan jadi salah paham akhirnya bertahun2 tidak bertegur sapa lagi… sedih.. cuma bisa mendoakan dia mengerti suatu saat.
    Thanks sharing nya^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s