Idul Adha ditanah Rantau

Malam-malam seperti ini biasanya aku mencium harum rendang yang menyengat yang seakan menggantikan fungsi oksigen sebagai senyawa terbaik untuk bernafas. Mataku biasanya melihat tangan ibunda yang berjuang membolak-balikan daging-daging sebagai santapan untuk esok setelah berjemah menunaikan sunnah yang hanya ada satu kali dalam setahun itu.

Biasanya saat pagi datang aku dan saudara sedarahku saling tunggu-menunggu dalam perjalanan menuju masjid-Nya. Setelah ritual sunnah dalam islam itu selesai, biasanya airmata memutari kedua pelipis saat kuciumi kedua tangan bidadariku  dan ruang rumah yang pecah dengan tawa lepas dari hasil lawakan saudara sedarahku.

Tidak untuk malam ini. Suasana ramai seperti yang kupaparkan diatas seolah menghilang bak tsunami yang menghilangkan banyak nyawa dan tawa. Yang kudapati didepan cermin hanyalah seorang laki-laki tak berdaya mendengarkan alunan takbir yang memecah langit malam ini.

Aku belumlah seperti orang-orang yang langsung mencari info tiket, memesan, lalu membeli untuk melunasi hasrat bertemu dengan keluarga tercinta walau dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Yang ada hanyalah sebuah keyakinan bahwa Tuhan yang Maha mendengar selalu mendengar bisik hati bahwa one day aku ingin seperti itu.

Sama halnya yang kurasakan hari kemarin. Saat orang-orang terdekatku bercerita tentang nyamannya sebuah hotel berbintang lima, mewahnya makanan didalamnya, dan sebagainya, aku hanya bisa berbisik dalam hati one day aku harus menikmatinya. Dan Dia yang Maha Baik itu pun mengiyakan bisikan itu. Tepatnya selama dua hari aku merasakan nikmatnya kasur empuk ala hotel berbintang dan makanan lezat sebagai santapan pagi hingga malam.

Pedomanku hanyalah satu, orang-orang yang hanya bermodal keyakinan saja bisa mewujudkan mimpi, masak aku yang mengkombinasikan Tuhan, mimpi, dan keyakinan tidak bisa mewujudkannya?. Termasuk keyakinan untuk bisa pulang kapanpun yang kumau untuk bertemu dengan para pembesarku dengan modal janji-Nya sebagai Tuhan yang Maha Mengerti. One day aku bisa membuktikannya.

Malam ini masih diisi oleh alunan nama Sang Pencipta sekaligus mengingatkan bahwa telah dua kali aku terdiam sendiri ditanah rantau disalah satu hari kebesaran umat islam ini. Mata yang sulit diajak kompromi masih saja mengeluarkan sumber air didalamnya sebagai tanda nikmat Tuhan Mana lagi yang kudustakan dalam separuh langkah untuk wujudkan mimpi.

Kucoba menyisakan air dalam mata untuk takbir Tuhan dipagi hari nanti, yang lebih menaikkan tingkat kesepian ditanah rantau ini. Masih terjaga untuk detik ini, detik dimana aku merasakan malam idul adha ditanah rantau. Semoga Tuhan yang Maha segalanya itu tetap mengerti dan mengiyakan mauku yang tertuang dalam tulisan ini dihari-hari yang Dia pantaskan untukku.aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s