Ibadah itu Ya Harus dipaksa

Tulisan kali ini mengarah kepada keterpaksaan yang berbuah kemenangan. Pernah kan mendengar atau membaca kisah manusia paling mulia, Rasul kita, dihujat, dilempari kotoran, bahkan diludahi? jelas, kesemua itu kita nilai sebagai kebiadaban manusia atas Rasul kita, kekasihnya Allah. Tapi tahu kan ending dari cerita itu? Beliau tidak membalas sedikitpun kebiadaban itu, bahkan Beliau selalu membaikkan mereka dalam keadaan apapun.

Masih ingatkan bahwa ibunda tercinta melahirkan kita? jelas kita tidak akan pernah bisa melihat diri kita didepan cermin jika ibunda tidak memaksa dirinya melawan ketidakberanian mengeluarkan kita, mengerahkan semua tarikan nafas, dan mengencangkan energi hanya untuk kita.

Atau masih terasa kan perjuangan Ayahanda tercinta menghidupi kita sampai detik ini? jelas kita hari ini pasti seperti orang yang tidak berdaya melawan dunia jika Ayahanda tidak memaksakan dirinya untuk melawan teriknya matahari, hausnya dahaga, dan letihnya raga saat bekerja.

Ketiga paparan diatas adalah contoh dari keterpaksaan yang berbuah kemenangan. Karena Rasul dunia menjadi suci, karena Ibunda dunia bisa dilihat, dan karena Ayahanda dunia bisa dirasa nikmatnya. Ketiga paparan ini memberi sinyal kepada kita bahwa kita harus benar-benar memaksa diri ini untuk berperilaku baik, menjauhkan diri dari pikiran negatif, dan melunakkan diri kepada Sang Pencipta.

Sebaik-baiknya manusia itu adalah manusia yang selalu memperbaiki diri, bukan mengulur dosa yang dirasa biasa. Apalagi dosa dari meninggalkan yang wajib. Tahu kan makna dari kata ‘syarat’?, adalah suatu yang wajib dipenuhi jika kita hendak bekerja diperusahaan.Tahu kan dalam islam ada yang namanya syahadat, solat lima waktu, zakat, berpuasa dibulan ramadhan, dan berhaji?. Perusahaan tidak akan menerima pekerja jika tidak memenuhi syarat. Lah jika tidak memenuhi syarat dalam islam? simpulkan saja sendiri.

Teman. Cukup berleha-leha memikirkan ketidakjelasaan. Sayang jika diri kita yang tahu akan syarat itu tapi kita tetap menghanyutkan diri dalam kekosongan. Bukan tahapan umur kita lagi membiarkan solat wajib itu kosong disela waktu sibuk kita. Dan bukan tahapan umur kita lagi hanya mengerjakan solat lima waktu itu. Sayang jika kita tidak ikut serta dengan orang-orang yang telah sukses karena mengerjakan sunnah-sunnahnya nabi.

Yuk mulai dari sekarang paksakan diri kita melawan kenegatifan diri, keminiman berpikir, dan kelemahan untuk menyegerakan kebaikan. Allah itu suka hambanya yang selalu memaksakan dirinya untuk mendekatkan diri kepadanya dalam keadaan senang, sedih, bahkan berdosa. Percaya saja, kekuatan terbesar adalah kekuatan-Nya, dan itu cukup menguatkan kita.

Lanjutkan Perjuanganmu teman.

Manusia diciptakan banyak agar saling mengingati dan menasehati.

SUKSES!

Advertisements

4 thoughts on “Ibadah itu Ya Harus dipaksa

  1. Subhanallah saudaraku…maka itulah mengapa kasih sayang seorang ayah dan ibunda tercurahkan dlm berbagai bentuk agar melaksanan ibadah kepada yg Maha Kuasa

  2. bagi yang masih belum memenuhi syaratNya, Allah itu menyukai proses untuk menjadi lebih baik. 🙂
    kereeeen ini tulisannya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s