Mudik Ala YM

Gambar

Rasa rindu yang menggebu untuk  bertemu dua bidadari penyemangatku, menghidupkan alam bawah sadar untuk secepatnya mengemasi kebutuhan yang diperlukan selama tidur ditengah-tengah mereka di bulan suci kemarin. Keadaan perantauan yang menyusutkan energi adalah alasan utama untuk cepat bertemu mereka. Maklum, bagiku mereka adalah charger tersendiri untuk memaksimalkan energi ini selama menuntut ilmu dirantau. Beruntunglah suasana hatiku itu didukung penuh dengan libur panjang untuk menghilangkan penat setelah perjuangan hidup dan mati menghadapi secarik kertas istimewa disetiap akhir semester perkuliahan.

Pada liburan ramadhan kali ini, Si Pemilik dunia memilihkan bis untuk menghantarkanku hingga memeluk kedua bidadariku. Sebenarnya seorang profesor yang juga teman akrab diperantauan ini menghadiakan tiket kendaraan bersayap (baca:pesawat) untukku. Tapi ya namanya keputusan Sang Pemilik dunia tidak bisa diganggu gugat lagi, mau diapakan lagi?. Masak iya kehendak profesorku itu mengalahkan keputusan Dia?. Sebenarnya si tidak bisa dipungkiri, keadaan ekonomi-lah yang mewakili jawaban sebenarnya dari alasan ini. Lagi pula tidak ada yang salah dari sebuah bis. Toh, masih sampai juga.

Tentu sebelum hari H, terlebih dahulu aku harus mem-booking bis tersebut agar bisa memenuhi hasrat sesuai tanggal yang ku mau. Tecatatlah tanggal 14 juli 2012, sebuah bis akan menghantarkan anak yang haus akan peluk sang ibunda itu. Dikertas booking itu tertera angka 350.000 sebagai isyarat kalau mau pulang. Sedangkan didompet hanya ada 500.000 ribu, otomatis uang tersisa setelah pembayaran adalah 150.000 ribu. Oya pada waktu itu sengaja aku tidak meminta tambahan dari orangtuaku. Uang itu adalah sisa dari uang beasiswa yang kudapat.

Tidak tahu ini sebuah kebiasaan atau apa, hampir disetiap perjalanan jauh aku berupaya untuk selalu menginfakkan sebagian yang kupunya. Ya hitung-hitung sebagai amal terakhir yang kulakuan jika saja seburuk-buruknya aku mati dalam perjalanan. Tercatat, hingga pada akhirnya aku hanya mengantongi 100 ribu sebagai bekal hidup dan mati selama perjalanan.

Sampailah pada hari H aku pulang kampung. Aku diantar oleh abang perantauanku keterminal dengan tas ransel ala backpacker gadungan yang terlihat banyak uang, tapi masyaallah tinggal 100.000 ribu dikantong.

Perjalanan yang memakan waktu dua hari dua malam itu banyak memberikan aku pelajaran. Hal yang paling menyesakkan adalah tidak pernah bis itu berhenti saat subuh datang, untung saja (baca: masih ada untungnya) isya dan magrib bisa dikerjakan saat berhenti dirumah makan. Dirumah makan, sistem mahasiswa rantauan pun masih aku terapkan dalam menghadapi nafsu makan yang bergejolak, biasa, mengambil lauk yang kira-kira paling murah dan membasahi nasi dengan kuah-kuah kari tanpa menyentuh sedikitpun isi didalamnya. Alhasil, uang oh uang…malang oh malang.. Ya kira-kira tinggal 70.000-an plus rasa takut yang menerkam karena besok kalau masih mau bertahan hidup ya harus makan lagi.

Dengan rasa gemetar padahal setelah makan, diri ini coba tuk tenang melangkah kearah bis untuk melanjutkan perjalanan menyambut esok pagi. Didalam bis aku seperti melupakan benda yang sangat berharga. Memang sangat jarang tangan ini mengutak-ngatik HP dalam perjalanan. Seketika itu pun hasrat ingin membaca berita-berita online sangat bergejolak. Sampailah pada akhirnya aku membuka inbox yang sepertinya ada beberapa pesan yang masuk. Ternyata benar. Dari beberapa pesan mata ini langsung menuju pada satu pesan yang sepertinya isinya sangat berharga. Ternyata iya. Kalimat dalam pesan itu kira-kira begini, “Hati-hati dijalan de, semoga selamat sampai tujuan. Oya didalam tasmu ada titipan Allah untuk perjalananmu. Semoga bermanfaat”. Pesan ditengah malam itu pun sontak membuat diri ini melek keseribu sekian watt. Langsung tangan meraba-raba isi tas hanya sekedar penasaran apa titipan Allah itu. Ternyata. Subhanallah… titipan Allah yang perantaranya abang perantauanku itu berupa 250 ribu. Allahhu Akbar, Allahhu Akbar,Allahhu Akbar. Sudah sepantasnya aku mentakbirkan nama-Nya sebagai rasa yang tidak bisa diungkap. Dan ketidaknyamanan malam itu pun berubah drastis menjadi kenyamanan dengan perkataan hati, “tunggu kau ayam!, tunggu kau Soto!, tunggu kau jus!, tunggu aku”. hehehe…

Kita skip saja ya cerita selama liburan dikampungnya. Sekarang lanjut kecerita pulang kerantau (lagi).

Yang pernah ke Sumatera, pasti tau keadaan betapa sulitnya bersedekah disana. Sulit tuk menemukan mbah-mbah seperti di Jogja yang kalau dikasih, masyaallah mereka langsung mendoakan kita on the spot. Sampailah pada dua hari sebelum aku pulang merantau. Pagi itu baru saja aku pulang dari antar-jemput ibunda belanja dipasar, ada anak laki-laki (pemulung) duduk memandangi sekolah disamping rumahku. Sesekali matanya melihat pisang goreng dari jualan ibunda. Ibunda tercintapun sontak memanggil anak itu sembari membungkusi pisang goreng untuk anak itu. Sangat miris saat mata ini melihat dia langsung menyantap pisang itu tanpa dikunyah. Perlahan langkah inipun mendekatinya. Aku tanyakan beberapa hal kepadanya, “sekolah? iya kak. Kelas berapa? lima kak. Kenapa ga sekolah hari ini? bantu ibu mulung dulu kak. OOhhh… bisa solat? bisa kak, ngaji? bisa kak, tadi solat subuh? iya kak”. Pemikiranku pun bergumam,” ini bukan anak sembarangan, dia sangat mulia”. Langsung diri ini membuka dompet melihat adakah yang bisa meringankan bebannya hari itu. Lagi-lagi uang merah bergambar Soekarno-Hatta dari uang sisa yang dikasih abang perantauanku itu ku “MLM” kan kepada anak laki-laki mulia itu.

Teman, untuk kalian yang sering menonton Wisata Hati ANTV bersama Ust. Yusuf Mansur pasti sangat hafal dengan sedekah. Apalagi saat ramainya isu mudik di ramadhan, beliau membahas, mudik? ga ada uang? minta ma Allah. Langsung diri ini bercanda tapi serius berkata dalam hati, “Allah, lihat sendiri kan isi dompetku?. Lihat sendirikan aku memberi uang ke anak laki-laki tadi?, mbok aku digratiskan pulang kerantaunya”. Sesaat setelah berkata yakin seperti itu sesaat itu juga ku menunggu keajaiban-keajaiban dari Sang Pemilik dunia itu.

Sore hari setelah kejadian diatas, aku ditemani ibunda kerumah sang nenek hanya sekedar untuk pamitan. Tidak pernah berniat apapun selain itu. Setelah ngobrol kosong, diri ini pun memohon pamit dan didoakan agar dirantau selalu dalam keadaan baik, tiba-tiba tangan ini dipaksa untuk memegang amplop dari si nenek. Karena tidak bisa dikembalikan ya sudah, aku terima.hehehehe…. Sehabis dari rumah nenek pertama, langkah berjalan lagi kerumah nenek kedua, maklum banyak nenek. Setelahnya lanjut kerumah tante 1, tante 2, dan tante 3. Dan proses pamitannya pun sama persis dari yang kupaparkan diatas. Datang-ngobrol kosong-pamitan-minta doa-amplop ditangan. Kira-kira seperti itu prosesnya.

Dirumah aku membuka amplop itu, dan… alhamdulillah 800 ribu rupiah ditangan. Saat seperti itu sambil bercanda dengan Allah, ku katakan “ya Allah, katanya kasih 10 dapet 100, kasih 100 dapet 1000, loh kok ini cuma 800 ribu ya?”. Hehehe.

Dihari besoknya, tepat dihari H aku pulang kerantau, paginya aku mengunjungi rumah “pamitan” terakhir, rumah itu adalah rumah ibu angkatku dikampung. Diatas motor dalam perjalanan menuju rumahnya aku candaan lagi dengan Dia, “apa mungkin ya Allah 200 ribunya lagi Kau titipkan keibu angkatku itu tuk memenuhi janjimu?, kalau pun tidak, ya sudah ya Allah, 800ribu cukup”. Sesampainya aku dirumah ibuku itu ya seperti biasa, ngobrol-ngobrol, candaan sama adik angkatku juga, pamitan, dan pulang. Atau kalau mau dijabarkan prosesnya seperti ini, sampai-ngobrol-ngobrol-pamitan-KOSONG. Loh kok? Iya, proses kali ini tanpa ditutup dengan AMPLOP.hehehe. Disepanjang jalan menuju rumah, hati lemas yang mencoba terima tetap bergumam, “ga papa de ya Allah, bisa dibalas sedekahku saja aku sudah senang minta ampun,apalagi bener-bener 10x lipatnya”. Senyum-senyum sayu mengiringi laraku siang itu.

Dirumah aku langsung bergegas packing menuju rantau, sambil sibuk ku menyiapkan semuanya, akhirnya ku teringat bahwa batre hapeku ­lowbet, jadi bergegas aku mengambil hape untuk dicas sebelum si travel menjemputku pulang kerantau. Lagi-lagi dan lagi-lagi, mataku diasingkan dengan sebuah SMS dihapeku itu. Setelah membuka isinya, ada sebuah pesan, “ ri, ibu tidak bisa ngasih apa-apa, cuma amplop yang ibu selipkan didalam tasnya ori. Semoga bermanfaat dan sukses disana”. Dan teman, kalian tahu isinya berapa? 200ribu… subhanallah, pas dengan janji Allah dalam firman-Nya. Hati seakan lemah tak berdaya, betapa tidak, membuktikan janji-janjiNya itu merupakan mukjizat tersendiri bagiku, Allah benar-benar mengambil alih semua dana mudikku kali ini. Dan bukan hanya sampai disana, orangtuaku pun memberi uang untuk ku ke rantau. Bukan. Bukan dilihat itu memang kewajiban orangtuaku. Tapi lihatlah cara Allah bercanda denganku, mengiyakan pintaku, memenuhi janji-Nya, dan mengembalikan semua uangku termasuk yang kusedekahkan hanya 100.000 rupiah itu. Subhanallah…

Teman. Jika tulisan ini harus dibuat abstract nya, mungkin keywords  nya adalah sedekah, tas, SMS, Janji-Nya. Tidak ada maksud apa-apa dibalik tulisan ini. Aku hanya menceritakan betapa indah saat kita dimanjakan oleh Sang Pemanja Setia itu, betapa indah saat kita dan Dia itu dalam hati yang satu.  Allahhu akbar…Allahhu Akbar…Allahhu Akbar.

Semoga tulisan kali ini bermanfaat untuk kita semua.aamiin

 

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Mudik Ala YM

  1. Ketika Allah sudah berjanji di Al Qur’an tidak akan pernah ingkar, minimal 10 kalinya dan Dia-lah pemilik kata KUN FAYAAKUN 🙂 #dan sebenarnya 250.000 tersebut adalah sisa gaji abangnya dibulan tersebut, yg seharusnya diberikan 350.000 (karena saat nganter di Terminal si abang lihat nenek hebat, melayanglah lembar 100.000 untuk si nenek)

    1. Subhanallah.. berarti dari 350 ribu itu sudah di ‘MLM’ kan jauuuuhh sekali.. dari uang itu,.si mbah beli makan tuk anak-cucuny,kenyang,dan dr uang itu sipedagang bs menghidupi anakny.. mungkin inibyg disebut MLM syariah. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s