Antara Demo Buruh dan Bapakku

Gambar

Tanggal 3 Oktober hari ini televisi dihujani dengan pemberitaan demo Buruh secara besar-besaran diwilayah Jakarta dan sekitarnya. Mau tidak mau mata ini melihat Booming nya demo tersebut. Padahal sepengetahuanku Hari Buruh Nasional atau May Day itu jatuh pada tanggal 1 Mei. Sudah sekian bulan yang lalu jika dihitung di Oktober ini. Setelah melihat beberapa sumber berita ternyata memang benar tidak ada hubunganya antara demo hari ini dengan tanggal hari Buruh Nasional itu. Para buruh hanya meneruskan perjuangan mereka ditanah air yang semakin hari semakin “mengliberal” ini. Mereka menuntut penghilangan sistem outsourcing. Ada yang tahu Outsourcing? Menurut arti baku dari Undang-undang ketenagakerjaan, outsourcing adalah perusahaan dapat menyerahkan sebagian pelaksanaan pekerjaan kepada perusahaan lainnya melalui perjanjian pemborongan pekerjaan atau penyediaan jasa Pekerja/Buruh yang dibuat secara tertulis. Istilah sederhananya ya dikontrak atau mereka ada ya karna Perusahaan Penyedia Jasa. Atau kasarnya lagi, babu yang dibabukan lagi.

Menurut beberapa sumber yang kubaca, dengan menggunakan tenaga kerja outsourcing, perusahaan tidak perlu repot menyediakan fasilitas maupun tunjangan makan, hingga asuransi kesehatan. Sebab, yang bertanggung jawab adalah perusahaan outsourcing itu sendiri. Proses dari outsourcing kira-kira begini, pertama, penyedia jasa “menyediakan” mereka (baca: buruh) , lalu penyedia jasa mengirimkan mereka keperusahaan yang mau “memakainya”. Secara logika, mereka hanya mendapatkan sedikit gaji dari pekerjaan keras demi keluarga itu. Tentu Si Penyedia mereka mau untung juga dengan cara mengambil berapa persen dari gaji Si buruh. Sudah kecil, dipotong pula. Nasib-nasib…

Demo hari ini selain menuntut penghapusan sistem outsourcing, juga bertujuan untuk menaikkan upah gaji mereka yang dinilai terlalu rendah. Lalu apa yang terjadi ketika upah mereka dinaikkan? mereka senang?. Mungkin iya, mereka senang. Tapi sayang, senangnya mereka itu hanya untuk beberapa saat. Ya pasti Si Penyedia Jasa itu juga menuntut kenaikan upah mereka. Dipotong meneh- dipotong meneh *jawa.

Teman. Ada yang tahu kenapa aku memberi judul “Antara Demo Buruh dan Bapakku” ?. Sungguh tidak ada keharmonisan yang bermakna dari judul itu. Tapi tunggu dulu. Ikuti saja alur dari cerita ini.

Percaya atau tidak, aku sedari dulu telah mengetahui arti luas dan sempit dari outsourcing itu?. Bukan. Bukan karena aku suka membaca sehingga mengetahui arti itu. Aku tahu karena pemeran utama dalam cerita ini adalah Bapakku. Iya. Bapakku. Dulu, saat seragam putih-merah aku belum menemukan bahwa istilah keren dari “babu,dibabukan lagi” itu adalah outsourcing. Baru setelah aku mengenyam pendidikan berseragam bebas (Baca: Kuliah), aku tahu istilah itu.

Tanah kelahiranku sangat terkenal dengan sumber mineral didalamnya. Tidak heran jika banyak perusahaan penambang yang mengeruk isinya. Salah satu perusahaan tambang terbesar adalah PTBA, atau PT Bukit Asam yang fokus tambangnya adalah Batu Bara. Bapakku bukanlah bagian dari kebesaran perusahaan itu, bukan juga berarti membantu membesarkan perusahaan itu. Bapakku hanyalah seorang yang menerima gaji dari mengantar, menjemput, lalu mengantar lagi, dan menjemput lagi. Outsourcing dalam hal ini adalah beliau itu mendapatkan pekerjaan dari perusahaan lain dengan tugas mengantar-jemput karyawan-karyawan perusahaan Bukit Asam itu. Outsourcing kan???

Ada cerita tambahan yang mungkin bisa mendewasakan hidup ini. Setiap hari buruh ditanah kelahiranku (termasuk bapakku) masih dimanjakan oleh nasi kotak, susu Ultra Milk, dan buah semangka. Bedanya Bapak dari buruh lainnya adalah, duh sungguh tak sanggup aku menceritakannya. Bapakku sangat jarang memakan ketiga jenis makanan itu. Bukan berarti tidak enak, beliau membawa makanan itu pulang kerumah. Dan hal yang masih kuingat, aku dan saudara laki-lakiku pasti berlari-lari riang dengan diskusi cepat untuk hal, “susu untuk aku”, “nasinya untuk aku”, atau  “Semangka untukku!”. Kalimat-kalimat yang kuberi tanda petik itu sangat sering mengudara dikedua telinga ini ketika itu. Sebenarnya bukan berarti dulu kami sesusah itu, hanya saja ada satu kegembiraan batin yang tidak bisa diungkapkan dalam hal itu.

Keadaan buruh seperti saat ini benar-benar telah aku rasakan sedari kecil dulu. Dari punya pekerjaan untuk lima tahun keatas, menganggur lagi untuk setahun lebih saat kontrak sudah habis, lalu bekerja lagi. Aku sangat hapal dengan penomena seperti itu.

Dulu, hal yang paling kubenci adalah mengisi biodata keluarga untuk acara sumbangan dana disekolah atau hal apapun itu terkait dengan satu kalimat ini, “pekerjaan ayah: atau pekerjaan Ibu:”. Pekerjaan Ayah titik dua itu mengisyaratkan hati ini terbanting bertubi-tubi saat melihat kiri-kananku ada yang mengisi: Karyawan PTBA, Karyawan PLN, Karyawan Bla..bla. Sementara anak kecil laki-laki tak berdaya itu (baca:aku) menulis kaku ” B-u-r-u-h”. Maklum, anak kecil seumuran seperti itu belum cukup kuat untuk menerima kenyataan yang ada.

Tayangan televisi hari ini memaksa air memutari kedua mataku, menundukkan leherku, dan menyelimuti perasaan keluh. Baru terasa, ternyata buruh itu hanya sekedar sinonim minim dari kata “pembantu” atau bahkan “pengangguran yang dibahagiakan tuk beberapa saat”.

Kini arus hidup berjalan semakin cepat seiring dengan melemahnya energi Bapak. Sekarang beliau tidak menjadi buruh lagi. Beliau sekarang sebagai pedagang tulen disebuah warung kecil didalam rumah hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. Terakhir yang kulihat sebelum pulang ketanah rantau, tangan beliau semakin mengeriput pertanda semakin tua saat bersalaman sehabis solat berjemaah, menghadap Sang Pemberi kehidupan.

Teman. Untuk kalian yang merasakan hal sepertiku, bahkan lebih dari yang kurasakan ini, tidak perlu merasa kerdil dihadapan dunia dalam wujudkan mimpi. Tuhan itu Maha Baik. Dia mengatakan dikitab-Nya bahwa orang yang disuka bukan dari rupa, harta, atau kedudukan, melainkan dari seberapa loyal kita untuk Dia, yang bisa disebut juga dengan Ketakwaan. Jadi, teruslah bergerak memutari bumi-Nya ini.

Semoga tulisan kali ini berdampak positif untuk kita semua. aamiin.

Advertisements

8 thoughts on “Antara Demo Buruh dan Bapakku

  1. apapun peran yang diberikan ALLAH kepada kita hal yang harus kita lakukan adalah memainkan peran tersebut sebaik mungkin, kaya, miskin, tua, muda, cantik, buruk rupa sekalipun itu hanya sebuah peran… dan kita harus sadar peran tersebut sudah diatur dalam skenario ALLAH dan akan tertuju pada suatu “klimaks” yaitu ‘AKHIRAT’.. cukupkan bekal kita untuk menuju kesana…

    makasih ya ori sudah membantu mengingatkan kita terutama abang atas “skenario-Nya”… semoga ALLAH selalu bersama kita Aminnn..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s