Perangaian Manusia

Hari ini sejuk pagi serasa mengajak ku tuk berbicara.
Kepenatan diluar sana mau tidak mau harus diikuti sampai batas waktu yg belum ditentukan. Setan pagi masih pada peranannya memikirkan apa dan siapa yg akan disesatkan setelah keberhasilannya menggelapkan mata subuh (orang) dalam lelapnya.
Malaikat pun tetap pada paras pekerjaanya,melihat serta mencerna ada atau tidak ada tentang maksud kebaikan yg dilakukan oleh makhluk penunggu bumi ini.

Sedangkan manusia tetap pada perangaianya.
Memikirkan sesuatu untuk menghasilkan sesuatu(bagi mereka yg berpositif).
Atau memikirkan sesuatu untuk membumihanguskan sesuatu(bagi mereka yg phobia berpositif).

Allah sebagai pemilik kuasa menghela nafas dan memberikan nafasNya bagi siapa yg berfikir bahwa Dia lebih dekat dari urat leher hamba-hambaNya.

Manusia.
Sebagai pemegang amanah kekuasaan terkadang terlalu naif tuk mengatakan tak pernah berbuat dosa atau terlalu tinggi tuk mengatakan kesempurnaan atas pencapaianya.
Padahal sejak dulu telah tercipta lagu,dosa-dosaku bagai pasir dipantai.Atau syair,tak ada manusia yg tak luput dari dosa.
Tapi sayang,lagu dan syair tak kunjung redahkan sifat yg mendarahdaging itu.

-manusia yg paling bijak itu adalah manusia yg mengetahui bahwa dirinya tidak tahu(Scorates)-
kalimat dari seorang filsuf yg harusnya dijadikan pedoman manusia tuk berfikir bahwa”sudahlah” kubur dalam-dalam dan jangan pernah digali tentang pemikiran yg mengatasnamakan sempurna dari kehebatanya.

Tidak ada yg sempurna bukan berarti tidak boleh tuk mencoba”mendekati” sempurna.
Manusia yg tak kenal jati diri itu seperti kehidupan didalam sebuah goa yg gelap.
Hanya berkutat disana,melihat bayang sendiri,mencium keringat sendiri,atau mendesah-desah mengiringi nafas bingungnya.
Padahal bayangan diluar sana jauh lebih terang dan jauh lebih permai dari dalam itu.

Hanya manusia yg berfikir kritis tuk berfikir seperti itu.
Lagu tentang dosa manusia seperti pasir dipantai bukan berarti dibiarkan membeludak tanpa ada penghentian.
Seharusnya air dipantai menerpa pasirnya lalu memutihkan dari hitamnya.

Sungguh banyak contoh yg “harusnya” dijadikan contoh dimuka bumi ini.
Tak perlu membeli buku sebanyak-banyaknya,karena alam adalah buku yg paling nyata yg telah diberikanNya.

Lalu dari kalimat diatas apakah ada hubungan dari bait per bait?
Bagi mereka yg sadar pasti akan mengetahui maksud yg terselubung.
Atau untuk mereka yg buta,aku akan sedikit “mencoba” pintar mengartikan itu.

Begini,kita itu telah terlahir,sangat tidak mungkin tuk masuk keperut ibu masing-masing.
Kita telah besar,sangat tidak mungkin tuk mengecil seketika.
Sadar diri tentang hiruk pikuk dunia,sadar akan dunia itu tidak kejam (hanya kejam bagi yg mengecap kejamnya).

Manusia itu makhluk bebas -lebih bebas dari para binatang- bagi yg tak tahu aturanNya.
Boleh bermimpi,asalkan juga beraksi.
Boleh berkata,asalkan juga tahu ilmunya.
Boleh berbijak ria,asalkan juga berkaca.

Yang paling penting,ketidaklepasaan kita dari dosa bukan berarti kita berdiam diri menunggu pahala tetapi juga melakukan aksi tuk dapatkan ridaNya.
Manusia yg paling rendah itu adalah manusia yg menganggap dirinya rendah (bukan berarti harus merendahkan yg lain).
Seharusnya manusia selalu bertanya didepan cermin,apakah aku telah lebih baik dari yg terbaik?.

Berfikirlah.
Ilmu serta alam ini modal utama tuk menuju perubahan.
PengaturanNya telah sempurna tak ada yg mesti diubah apalagi disesalkan.
Manusia yg tinggi itu manusia yg mau mengubah dirinya.
Sadar lalu beraksilah!.

_ori rabowo,setelah penatku_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s