Miskin yang Pemikir

Sengaja otakku ku putar melebihi derajat yang telah ditentukan.
Catatan kecil ini aku utarakan bagi mereka yang miskin.Entah bagaimana kalian menginterpretasikannya.
Yang penting aku memakai keegoisanku tuk menulisnya.

Aku akan membagi tiga kaum kehidupan,menurutku.
Pertama mereka yang berpikir,berniat sayang dengan keadaanya,tetapi karena terbiasa menjilat manja kekayaanya pikiran serta niat itu pupus tiada bernoda.
Terkadang kaum ini sulit untuk dideteksi tentang pemikirannya.
Benar memang Bapak Ibunya menyanggupi keluh kesahnya.
Tetapi permasalahannya adalah tahapan umur yang tak sepatutnya untuk meminta seenaknya.
Mereka memang menyedihi perasaan bapak ibunya dengan seribu kesedihan,tapi sayang sepuluhribu kepolosannya menutupi seribu perasaan itu.
Berani bicara aku peduli dengan Bapak Ibuku tapi.
Bukan ikhlas jika ada tapi,bukan berpikir jika ada tapi.
Emm..tapinya menyudahi pembahasan ini.Sudahlah.Uang Bapak Ibunya menutupi tapi itu.

Untuk kaum ke dua mungkin lebih tepat dikatakan memang dari lahir.
Maksudnya,pertama kali manusia terlahir di dunia yang lazimnya dilihat adalah bapak ibunya,kaum ini melihat UANG.Yang pantasnya pertama didengar azan bapaknya,kaum ini mendengar UANG,dan yang biasanya dirasa peluk ibunya kaum ini memeluk UANG.
Sengaja aku kapitalkan kata itu.
Sedikit menyindir bagi yang berdetak hatinya.

Ketiga.
Jantungku sedikit lebih cepat berdetak tuk mendeskripsikan kaum ini.Lebih bersemangat.
Maklum.Aku termasuk pemeran dalam adegan kaum ini.
MISKIN YANG PEMIKIR.
Sengaja aku besarkan tulisanya agar maknanya aku hikmati menerobos hati.
Dari kecil Bapak Ibuku mengajarkan aku dengan kesederhanaan.
Disaat kecil mereka dijemput dengan mobil,angkot bagiku cukup.
Disaat mereka punya sendiri motor,menumpang bagiku cukup.
Disaat mereka punya handphone sendiri,beramai-ramai dengan keluarga bagiku lebih asik menggunakannya.
Disaat Bapak Ibu mereka cepat tuk mengeluarkan keperluannya,memperhatikan,mendengar,
merasa aku tak mampu!cukup bagiku memakluminnya.
Banyak lagi perbedaanya.
Sepertinya gambaran diatas telah mewakili semuanya.

Pertanyaannya.
Apakah pernah aku bersedih?
Mana pernah aku bersedih.Menangis iya.
Maksudnya,aku punya kekayaan yg mereka tak punya.
Pemikiran.Satu-satunya aset tuk menghibur hati ini.
Jangan meremehkan pemikiran.Mimpi itu berasal dari pemikiran.Mimpi itu terwujud karena pemikiran.Kebesaran itu ada karna pemikiran.
Lalu banyak yang bingung dengan keadaanku.
Kenapa bisa melewati hari-hari dengan senyuman?
Kenapa bisa hidup dengan nyaman?
Kenapa bisa mengenakan apa yang mereka kenakan?
Kenapa bisa merasa apa yang pekaya rasa?
Tiada lain dan tiada bukan,tiada jawaban yang lebih pas lagi.
ALLAH.
Inilah sumber dari segala sumber tuk menjawab pertanyaan itu.
Walau rasanya beban tuk sejalur dengan mereka itu seperti menghidupkan nyawa yang telah mati.
Tapi aku bisa besar karenaNya.

Dia itu…
Yang mengatur kehidupanku dengan tanganNya.
Yang membijaksnakanku dengan kebijaksanaanNya.
Yang membesarkanku dengan kebesaranNya.

Mau tahu rahasia dari ilmu yang ku punya?
Allah itu cuma menyuruh kita bersyukur agar ditambah lagi nikmatNya.
Ya sudah.Tinggal bersyukur,apa susahnya?sulitkah?
Itulah caraku bisa merasa bangga dengan kehidupanku.
Kalau masih banyak positifnya kenapa melihat yang negatif.Pedomanku.

Seharusnya kita yang dikatagorikan disini lebih bangga dari mereka yang tidak.
Karena kebahagian dengan semurni-murninya kebahagiaan itu hanya kita yang merasakan.
Rasakan itu!
Sesungguhnya pengubah dunia itu adalah mereka yang merasakan bangga dengan alurNya.
Dan itu adalah kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s