Sang Merapi Marah

Malam yg serba bingung bagi kebanyakan nafas yg menipis hembusanya.
Malam yg serba salah bagi khalayak yg bertaburan,termasuk aku.
Betapa tidak,sang pujaan yg berbentuk tambun,berlubang paras,serta bertubuh hamil sedang perih adanya.
Sang pujaan yg tak pernah terganggu dan diganggu.
Karena jika marah,habislah kita.

Jauh sebelum ulasan diatas,”si dia” dulunya si perawan yg bermanfaat bagi kebanyakan orang.
Tanah menjadi sadu,pasir berserak,tanaman pun bersorai-sorai.
Hebat perananya.
Tiap pagi si tua atau si muda menghirup sejuk karena dinginya,si tua atau si muda mengeruk pasir karena muntahnya dulu,hingga tanaman riang tumbuh adanya.

Entah berapa tahun tentang hamilnya,entah siapa yg terkandung dan mengandung.
Dia seperti hamil yg tak bertuan.
Tetapi ngidam dengan membuat beban.
Dan sekarang menjanda tanpa sebab,sedang mual dan ingin muntah pula.
Janda yg aneh…Image

Tidurku tak kunjung datang malam ini.
Padahal si mulut berkali-berkali terkatup,terbuka,terkatup,terbuka.
Malam yg sungguh berat.

Hiruk pikuk ramai menjadi masalah malam ini.
Ditelinga hanya ada suara sirene yg ku tahu akan arahnya.
Dihidung hanya ada puing-puing debu yg menghalang nafas.
Dikulit hanya ada rasa kasar pengganggu.
Ditubuh hanya ada kehangatan yg sangat hangat dari sebelumnya.
Serta diotak hanya ada pemikiran yg aneh,apa yg terjadi.

Jauh ku melihat, seorang anak yg polos menganggap seperti halnya tahun baru,kembang api peramai tapi penyebal.
Mereka bingung,apa yg terjadi.Image
Tuk seorang nenek layaknya bayi yg digendong kesana kemari hanya tuk keselamatanya.
Tuk si tua,sudah keriput hangus pula kulit mulusnya itu karena hangat janda yg mual itu.

Tetapi dibalik tragedi pasti ada jagoan.
Bertahan,berdoa,dan yakin.
Mungkin itu kunciannya.
Dibalik lereng sang jagoan itu tetap bersikeras akan menjaga “anak jandanya itu”,merapi volcano namanya.
Padahal seketika itu tetangganya telah hilang kulitnya,dan pemimpin daerah pun menyembah-nyembah hanya tuk penyerahanya.
Tapi keyakinanya (sebut saja mbah penakluk) tetap besar dari sekedar lahar yg hangat.

Keunikan bangsa pun tergambar saat ini.
Dari mulai pembaik sampai penjahat,lengkap adanya.
Pembaik tanpa kenal lelah berdatangan demi solidaritas prikemanusianya.
Membantu,meredakan tangisan mereka.
Dan penjahat tanpa pandang bulu berdatangan membantu membawa benda-benda harapan para korban kerumahnya.
Tak ada habisnya jika harus berbicara tentang prikebangsaan indonesia,mungkin ini kata-kata yg tepat tuk unik negriku ini.

Entah apa yg ada dipikiran para penyayangku disana.

Tenang para penyanyangku,ku baik adanya.
Nikmat yg Dia berikan melebihi dari sekedar merasakan bergoyang bersama si janda itu.
Cukup bukakan tangan,yg putih hadapkan keatas,dan doakan sang pemimpi ini.
Aku bersamaNya,kata hatiku seenaknya.
Padahal kaku biru takut sang malaikat datang.

Kini aku berfikir.
Sungguh dahsyat ciptaaNya.
Semula kosong dan kini berisi.
Bisa diatur dengan kunfayakunNya.

Padahal polos otak ku berpikir,tinggal disiram maka panasnya luluh,atau yg paling parah,tutup mulutnya tunggu beberapa menit sampai detak jantungnya tak terdengar.
Benar-benar keunikan bangsa.

Yang terjadi ya terjadi.
Hebat orang yg bisa menghalanginya.
Dengan krisnya,cincin mautnya,atau pedang saktinya.
Masih saja ada keunikan dari tragedi.

Akhirnya si janda mengeluarkan anaknya yg dinamai wedus gembel laharia.
Namanya yg menyiksa,apalagi proses keluarnya.
Goyanganya dahsyat,artis dangdut terkenal pun kalah karnanya.

Menakjubkan.
Untung sang presiden tak datang dilokasi tuk meresmikan ledakanya.
Bayangkan,kalimat salam sebagai pembukanya lalu berkata “dengan memotong tali syukur ini,saya resmikan letusan terdahsyat tuk kita semua,1.2..3”.
Terbayang atau tidak yg jelas itu gila.

Sirene tetap bernyanyi.
Para tua tetap digendong.
Para pembaik tetap ada,seperti juga penjahat.Image
Malam yg memberikan keunikan tersendiri.
Hadapi dengan senyuman tuk para penikmatNya.

-Salam Merapi-
26.10.10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s