Rasaku yang Merasakanya

Manusia diciptakan dengan bentuk yg paling sempurna.
Diciptakan dari tanah bukan dari api.
Diciptakan dengan hati bukan dengan dengki.
Diciptakan dengan kelembutan bukan dengan keegoisan.

Aku sesosok manusia yg tak bisa berkutik melewati peran yg sebenarnya.
Harus berbelok,maju mundur,atau mengecil hanya tuk mencari celah.

Catatan ini terbuat dari aku sebagai manusia murni,bukan aku sebagai manusia berpenghuni.
Aku berhati satu bukan berhati pilu,aku tak begitu suci tapi aku harus mendekati suci.
Aku tidak sempurna tetapi harus mendekati sempurna.

Sebenarnya aku diam hanya tuk melihat batas keputusan.
Aku diam hanya tuk melihat seberapa berani kemelut yg diciptakan.
Terkaanku benar,sebatas tergulung tidak teraduk.
Aku tersenyum.

Sesaat senyumku muncul,mendadak keadaan berubah.
Mengecil.Mengerut.Menyumbing.Tak jelas.
Lalu hilang senyumku itu.
Para pelindungku menamai itu galau.
Tapi tidak bagiku,itu tak jelas.
Dahiku pun mengerut mendukung kebinguan itu.

Sekali lagi!
Aku berbicara sebagai manusia murni,bukan yg berpenghuni.

Penjabaranku telah lengkap adanya,hatiku telah puas mengatakanya.
Lidahku telah berlumar ludah mengungkapkanya.
Tulangku telah rapuh tuk menahanya.
Darahku telah membiru merasakanya.
Serta otakku telah mengerut memikirkanya.

Semua itu ada ilmunya.
Alasan yg tak beralasan tak mau diajak berlogika.
Pernyataan yg dinyatakan tak mau diluruskan.
Aku diam.

Semua ada cara,
tidak serta merta mengungkap lalu mengutuk.

Sebenarnya aku siap tuk menjadi tak berpenghuni.
Para penghuni bijak banyak yg datang tuk mengganti.
Tapi bukan aku jika tak tahu diri.
Bukan aku jika tak tahu isyarat.

Akar dari masalahku tidaklah rumit,sebenarnya.
Satu yg membuatku tertekan,
aku dijuluki sebagai pemasalah.

Padahal aku dilahirkan tuk tidak mengikuti apa yg bukan jalanku.
Tapi bukan aku bila diam saat terhakimi.
Bukan aku bila diam saat aku benar.
Itulah alasanku mengapa terus berusaha mencari celah.

Aku tidak tahu lagi dengan batasnya membatasiku.
Tidak tahu lagi maknanya memaknaiku.
Tidak tahu lagi pikiranya memikirkanku.
Yang aku tahu hanya,bukankah Allah tersenyum melihat hamba-hambaNya saling berbagi?
Ingat!
Hamba-hambaNya,bukan hambaNya

Mungkin memang benar aku terlahir sebagai pemimpi.
Pemimpi yg memimpikan penghuni yg bijak.
Pemimpi yg memimpikan pecinta yg mengerti.
Dan pemimpi yg memimpikan penyayang yg tinggi.
Tetapi aku iyakan disuatu saat tuk perwujudan mimpiku itu.

Dan aku tegaskan,aku adalah pembeda.
Tak terima jika dikatakan sama dengan kebanyakan.
Itulah aku!

Terima kasih tuk penyelamat sederhanaku.
Doamu sesudah pengabdian padaNya akan ku ingat.
Terima kasih tuk penyejukku.
Tangisanmu tak akan kulupa walau hanya sebatas terbaca-tidak terlihat-kau nyata.
Kita tunggu alur permainanya.
Kita tunggu pikiran yg menjerumuskan itu sadar.
Dan aku telah pasrah dengan cara pandangnya memandangku.

_jogjakarta,22.12.10.Hari ibu tapi bukan tentang ibu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s