Surat untuk Mama

Mama..
Diperantauan ini aku tidak hanya melewati masa remajaku,tapi juga berperang tuk mengarungi masa tuaku.

Aku disini berperang tanpa dipersenjatai apapun,tapi disini ku bisa kuat tuk sekedar berdiri,tuk sekedar bercanda melepas penat,tuk sekedar berlari dengan sebuah kepastian.

Sesungguhnya yang menguatkanku itu hanya nafasmu.
Dan sesungguhnya yang menegakanku itu hanya doamu.
Tanpa kedua tanganmu yang selalu kau hadapkan keatas (bermunajat padaNya) mungkin sekarang aku kan menghadapkan tanganku keatas juga tapi dalam keadaan meminta kepeda mereka (mereka yang telah menapaki kehidupan) bukan kepada suatu Zat yang kau jadikan tempat berharapmu itu.

Mama…Gambar
Ku tak tahu,mengapa diperantauan ini aku dengan mudahnya mendapatkan kepercayaan dari orang-orang.
Teringat dikala kita berada diwarung kecil itu,ada seorang perantauan juga yang meminta tolong padamu.
Padahal bibir busukku dikala itu mengacuhknya.
Tapi mama..
Dengan hati bersihmu,kau tetap menolongnya.
Lalu kau bisikkan kalimat yang hingga kini tetap ada dalam sanubari, “bagaimana nanti jika saat kau diperantauan nak”.
“jika kau melakukan sama halnya dengan dia,pasti kau akan merasa kecil dan tak berarti saat tak dihargai”
dari kalimat itu aku tersadar dan tau akan maknanya.

Dia melakukan itu jauh sebelum aku mengenal sebuah kehidupan jauh darinya.
Mungkin dari keadaan itu,sekarang aku benar-benar merasakan imbas dari perilaku mama itu.
Apa yang dia lakukan tak sia-sia.
Jangankan bersedih,berniat bersedihpun aku tidak bisa.

Aku kan menjulukimu sebagai wanita yang paling berpengaruh didunia. Tak peduli dengan semua penulis buku yang meletakkan idola mereka diatas segalanya. Bagiku dirimu sudah cukup tuk menggantikan idola-idola mereka itu.

Mama..
Tak perlu cemas dengan keadaanku.
Walaupun perbedaan itu sangat amat terasa,tapi aku pastikan tetap jalaninya dengan caraku.
Menjalankan kehidupan dengan bermaksud menaikkan derajatmu setinggi-tingginya.
Tak ada keinginan lagi kecuali menaikkan derajatmu,hingga “mereka” tunduk bahkan “menyembah” kepadamu.

Kau kan ku jadikan wanita yang paling sempurna didunia.
Dengan kekompakan anak-anakmu,dengan kecerian anak-anakmu,dan dengan tingginya anak-anakmu.

Mama..
Doakan tuk empat hati yang merindukanmu.

Tuk empat hati yang pasti selalu ada dijalan yang terbaik.
Dan ku yakini itu..

Terimah kasih wahai bijaksana.
Walau kau tak pernah menasihati,tapi kau memberi contoh.
Dan itulah nasihatmu.
Terimah kasih wahai Pemegang Kekuasaan.
Ku dilahirkan dirahimnya. Dia yang selalu ku jadikan alasanku tuk tetap bermimpi.
Ya…mimpi….
Mimpi yang kan segera terwujud…

Jogjakarta,11agustus2010.
“Dikamar gelapku”.

Advertisements

2 thoughts on “Surat untuk Mama

  1. sampai pada akhirnya beliau akan menorehkan senyum dan bangga melihat kesuksesan buah hatinya dari surga sana :), yap i’m promise mom 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s