Ketakutan yang Semu

Lelaki, yang takut menikah hanya karena dia merasa belum penuh membahagiakan kedua orangtuanya. Nyatanya, dihari tuanya yang belum menikah, belum juga mampu membahagiakan kedua orangtuanya. Perempuan, yang tak berhenti bekerja karena takut tak cukup finansial dikehidupan rumah tangganya, ternyata sepanjang karirnya kebutuhan rumah tangganya tak pernah tercukupi.

Pedih sekali, jika di hari tua kita hanya duduk sendiri, termenung tanpa ada satupun tujuan menanti. Ketakutan telah melupakan kita untuk memiliki pasangan. Ketakutan telah memisahkan kita dan pasangan kita, kita dan anak kita, bahkan ketakutan membuat kita lupa untuk menggenerasikan keturunan kita.

Andai kita menyadari bahwa puncak dari kehidupan itu hari dimana kita telah tua. Hari tua-lah yang memainkan memori-memori masa dulu. Seketika itu kita baru menyadari bahwa apa yang kita takuti dulu, tak semenakutkan yang kita kira. Dan semua telah sia-sia saat kita menyadarinya di hari kita sudah tua.

Advertisements

Pesan dalam Pernikahan

Untuk kau yang sudah menikah, ada pesan agung yang harus selalu kau ingat:

Jangan pernah membandingkan dirinya dengan diri yang lain. Katakanlah kini kau sedang berada dalam fase ini. Kau membandingkan dia dengan yang lain, yang baru kau anggap lebih baik, lalu yang lama kau tinggalkan. Kini kau bersama yang baru. Bersamanya kau tetap membandingkan dia dengan yang lain, dia pun kau tinggalkan. Maka ritmenya akan selalu sama: Perbandingan-Perpisahan-Kekecewaan.

Sudahi! Ketahuilah selalu ada celah untuk dilemahkan dalam sebuah perbandingan.

Jika alasanmu adalah ketidaksamaan dalam pikiran, eh… kau baru hidupkah? Tak kan ada pernikahan tanpa ketidaksamaan. Itulah esensi pernikahan: menggiring dua pikiran, rasa, menjadi satu dalam ke-saling-pengertian. Darisana kau akan tahu indahnya memahami. Indahnya menghargai. Indahnya dewasa bersama.

Menikah adalah keputusan yang teramat sakral. Tuhan, malaikat, manusia, kitab, tumbuhan, kursi-kursi, meja-meja, mikropon, panggung, bunga-bunga, bersatu padu menyaksikan sebuah ikatan, sebuah perjanjian diantara dua insan. Tak terkira lagi agungnya pernikahan itu. Jangan main-main!

Cukup. Berdiskusilah jika ada sesuatu yang mengganjal. Peluk dia. Pandangi dia. Sesungguhnya perubahan akan sangat mungkin terjadi bila diiringi dengan kelembutan. Tambahi doa. Minta dengan Dia yang memiliki semua hati. Pintalah dengan kesungguhan. Tidak ada lagi cara yang paling mujarab selain melalui kelembutan dan doa di dunia ini.

Tak hanya Satu Syariat

Kawanku, saat kau ingin menjalankan satu syariat maka ketahuilah bahwa ada syariat lain yang juga harus kau penuhi.
Sesungguhnya antar syariat itu saling melengkapi.
 
Kau ikuti syariat membela agama, maka secara bersamaan kau wajib mengikuti syariat bertutur kata. Dengan ini kau akan membela agama dengan tetap bertutur kata yang baik.
 
Kau ikuti syariat bersedekah, maka secara bersamaan kau wajib mengikuti syariat menjaga kerendahan hati. Dengan ini kau akan bersedekah dengan tetap rendah hati.
 
Kau ikuti syariat sholat tepat waktu, maka secara bersamaan kau wajib mengikuti syariat menjaga silahturahim. Dengan ini kau akan sholat tepat waktu dengan tetap menjaga silahturahim dengan kawanmu, keluargamu, serta tetanggamu.
 
Kau ikuti syariat berhijab, maka secara bersamaan kau wajib mengikuti syariat menjaga hati. Dengan ini kau akan berhijab dengan tetap menjaga hati (tidak memandang rendah saudara yang belum berhijab).
 
Alangkah indah jika kau berbuat baik diikuti dengan kebaikan hati.