New Month, New Hope

Coba bertanya pada diri masing-masing, adakah perubahan dari diri kita disetiap bulan yang baru?

Seberapa banyak kah mimpi atau keinginan yang kita ukir ketika semarak tahun baru lalu kini terwujud?

Atau:

Seberapa banyak kah kekecewaan yang datang menembus lalu menyesakkan dada?

Renungkan dan jawablah.

Kawan, aku adalah orang yang paling suka dengan bulan yang baru. Seperti Tuhan masih memberikan kesempatan luas bagi kita untuk memperbaiki setiap poin kegagalan di hari yang lalu. Makanya yang sering kulakukan ketika pagi aku terbangun, aku bersyukur. Masih ada secercah harapan dihari yang baru.

Bulan baru berarti harapan baru. Masih diizinkan Tuhan untuk menggali kemampuan. Masih diinginkan Tuhan untuk mengambil pelajaran. Dan masih diharapkan Tuhan untuk menjadi manusia mulia dihadapan-Nya.

Yuk lebih berpositif diri. Lebih menyandarkan semuanya pada Tuhan. Semakin menyadari bahwa kita lemah tanpa kekuatan-Nya. Kita kerdil tanpa kebesaran-Nya. Kita nihil tanpa keberadaan-Nya.

Tuhanku, muliakan aku disetiap hari yang baru. Sadarkan aku untuk setiap titik kecil angkuhku. Mudahkanlah aku menuhankan-Mu dibanding segalanya. Mudahkan pula aku memanusiakan manusia atas rasa cinta pada ciptaan-Mu.

Aamiin.

 

Ada Kalanya Kita Harus Berhenti Menghitung

Benar sekali memang, hidup haruslah di-planning. Dari kebutuhan A hingga Z, harus dihitung. Dari umur sekian ke umur sekian harus jelas rencana-rencana apa yang akan dieksekusi. Hidup tanpa rencana dan perhitungan menjadi buta. Tak berarah. Tapi ketahuilah, Kawan, ada kalanya kita harus berhenti menghitung.

Saat otak manusia memberikan analisa bahwa pergi haji di negara ini lama karena kuota terbatas, sehingga secara perhitungan logika akan lebih baik jika kita pergi haji dari negara tetangga dengan berpura-pura menjadi warga negaranya, itulah yang kumaksud dengan: ada kalanya kita harus berhenti menghitung.

Saat manusia dengan segala perhitungannya menganalisa tak akan cukup uang satu bulan dari gajinya untuk bersedekah, sehingga dia berat melakukannya, itulah yang kumaksud dengan: ada kalanya kita harus berhenti menghitung.

Saat manusia dengan segala pemikirannya memperkirakan bahwa tak mungkin dia mendapatkan pasangannya dikarenakan fisiknya yang dirasa kurang, sehingga kepercayaan diri lenyap darinya, itu yang kumaksud dengan: ada kalanya kita harus berhenti menghitung.

Saat manusia yang akan membuka usaha, menghitung lebih dalam jika harga jualnya sekian, profit sekian, rugi sekian, jika biaya promosinya sekian, profit sekian, rugi sekian, terus… hingga dia memperhitungkan targetnya yang tak tercapai, waktunya yang terbuang jika gagal, dan lain sebagainya, itu yang kumaksud dengan: ada kalanya kita harus berhenti menghitung.

Saat lelaki dengan segala perhitungannya menganalisa tak akan cukup uangnya bila harus segera menikah. Masih perlu memperhitungkan rumahnya, mobilnya, jam tangannya, mahar kawinnya, gedung resepsinya, dan detail lainnya, itu juga yang kumaksud dengan: ada kalanya kita harus berhenti menghitung.

Saat wanita dengan segala ilmu pengetahuannya menganalisa tak kan mungkin dia mempunyai anak karena usianya yang sudah lanjut, itu pun yang kumaksudkan dengan: ada kalanya kita harus berhenti menghitung.

Lelah dan rumit sekali hidup ini dengan segala logika dan perhitungan.

Maka, diam sejenak dan renungkanlah:

Ada hal-hal yang tak bisa dilogikakan dan dihitung. Ada hal-hal yang rasanya tak mungkin menjadi mungkin. Ada hal-hal yang dirasa berat padahal ringan. Ada hal-hal rumit, namun sejatinya tak serumit itu. Adalah itu metode perhitungannya Allah. Adalah itu cara khasnya Allah dalam memberikan makna dikehidupan hamba-Nya.

Logika dan perhitungan kita tak kan mampu menembus cara-cara Allah dalam berlogika dan berhitung. Pahala yang kecil menurut kita, bisa dibalas dengan yang besar di perhitungan-Nya. Hitungan yang rumit di otak kita, tak rumit di ‘‘otaknya‘‘ Allah. Bahasa di Qur’annya adalah Kun Fa Yakun. Jika Dia menghendaki jadi, maka jadi.

Dasar inilah yang seharusnya dipakai dalam perhitungan kita. Boleh saja kita berencana ini-itu, tapi jangan lupa libatkan Allah. Boleh saja kita menghitung segala kemungkinan, namun jangan pula lupa bahwa kita ada Tuhan yang Maha Memudahkan.

Kesimpulannya: Seseorang yang takut kepada Allah, yang tak mau menghalalkan segala cara, sehingga ia mengikuti saja aturan normal yang diatur oleh pemerintah tentang kepergian haji, bisa jadi menunggu hajinya telah duluan bernilai bagi Allah. Seseorang yang yang tetap saja bersedekah meski gajinya dirasa kurang, bisa jadi gajinya lebih bernilai dibanding yang lain. Seorang calon pengusaha yang telah melibatkan Allah dalam merencanakan usahanya, yang tahu Kemahaan Allah, kekuatan Allah, sehingga ia tak takut dengan pikiran negatif yang mengusiknya, maka usahanya telah duluan menguntungkan disisi Allah. Begitu seterusnya dan berlaku untuk apapun hal yang sedang kita hadapi.

Jadi sederhanakanlah masalah. Sederhanakanlah pula perhitungan. Sungguh Tuhan kita itu, adalah Tuhan yang paling tak tega melihat hamba yang melibatkan-Nya terkurung dalam perhitungan hidup yang rumit.

Berhitunglah, berencanalah, bermimpilah, dan setelahnya lepaskan sepenuhnya pada Allah.

Wanita tak Bisa Menunggu

Lelaki, ketahuilah bahwa wanita tak bisa menunggu. Sekuat apapun dia, setinggi apapun ilmunya, wanita adalah wanita. Wanita tak kan bisa menunggu.

Jika hari ini kau masih ragu pada kemampuannya untuk menghebatkanmu kelak, maka tegaskanlah diri untuk meninggalkannya. Lebih baik kau melihat dia sekarang menangis, daripada dia menunggu dalam ketidakpastian.

Jika kau masih ragu pada pribadimu, sekali lagi, tinggalkanlah dia.
Relakan dia berpasangan dengan lelaki yang tangguh. Yang pasti. Yang tak main-main dalam kata-kata. Jangan kau diam. Jangan pula berpura mampu untuk membahagiakannya.

Jangan buat wanita terpuruk menua dalam menunggu. Jika cinta, nikahi. Jika masih ragu, sudahi. Itu saja!