Nasihat untuk Lelaki

Cinta akan selalu bersifat hak.

Hanya dari memandang senyum yang tak pernah dijumpa. Hanya dari kekaguman akan tutur kata yang belum pernah disapa. Hanya dari kibasan rambut yang diterpa angin lembut. Akan ada selalu celah untuk cinta masuk hingga menyentuh hati.

Cinta datang nyatanya lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Siapapun. Tak terkecuali lelaki yang buta. Boleh jadi ia tak melihat, namun syahdunya cinta yang menyambut akan membuatnya merasa melihat. Tak terkecuali lelaki yang pincang. Boleh jadi ia tak sanggup berjalan, namun kekuatan cinta yang ia pun tak tahu dari mana asalnya, akan membuat ia mampu untuk berjalan. Sampai ia mendapatkannya. Sampai cinta tergenggam dan tak pernah lagi dilepaskannya. Kehilangan cinta, sama halnya kehilangan mata bagi lelaki yang telah buta sekalipun. Kehilangan cinta, sama halnya kehilangan keseimbangan bagi lelaki yang telah pincang sekalipun.

Sedemikian bepengaruh cinta bagi kehidupan seorang lelaki.

Tapi ketahuilah cinta akan memperburuk, jika digenggam dengan cara yang tak tepat.

Cinta akan memusnahkan, bagi jiwa yang salah menemuinya.
Dan percayalah, cinta akan selalu salah, selama cinta itu tak dalam payung pernikahan. The one and only. Hanya dengan ikatan suci cinta akan selalu benar.

Maka lelaki, bicaramu adalah dusta bagi perempuan yang belum kau halalkan.
Maka lelaki, nasihatmu adalah tipuan bagi perempuan yang belum kau halalkan.
Maka lelaki, genggamanmu adalah api bagi perempuan yang belum kau halalkan.
Maka lelaki, pelukanmu adalah sengsara bagi perempuan yang belum kau halalkan.
Maka lelaki, sentuhanmu adalah neraka bagi perempuan yang belum kau halalkan.

Hanya dua definisi bagi lelaki yang baik.
Adalah itu lelaki yang rela melepaskan perempuannya demi kebahagiaan hakiki orang yang ia cinta.
Adalah itu lelaki yang sesegera mungkin menikahi perempuannya.

Itu sebenar-benarnya bukti cinta dari seorang lelaki.

Advertisements

Ketakutan yang Semu

Lelaki, yang takut menikah hanya karena dia merasa belum penuh membahagiakan kedua orangtuanya. Nyatanya, dihari tuanya yang belum menikah, belum juga mampu membahagiakan kedua orangtuanya. Perempuan, yang tak berhenti bekerja karena takut tak cukup finansial dikehidupan rumah tangganya, ternyata sepanjang karirnya kebutuhan rumah tangganya tak pernah tercukupi.

Pedih sekali, jika di hari tua kita hanya duduk sendiri, termenung tanpa ada satupun tujuan menanti. Ketakutan telah melupakan kita untuk memiliki pasangan. Ketakutan telah memisahkan kita dan pasangan kita, kita dan anak kita, bahkan ketakutan membuat kita lupa untuk menggenerasikan keturunan kita.

Andai kita menyadari bahwa puncak dari kehidupan itu hari dimana kita telah tua. Hari tua-lah yang memainkan memori-memori masa dulu. Seketika itu kita baru menyadari bahwa apa yang kita takuti dulu, tak semenakutkan yang kita kira. Dan semua telah sia-sia saat kita menyadarinya di hari kita sudah tua.

Pesan dalam Pernikahan

Untuk kau yang sudah menikah, ada pesan agung yang harus selalu kau ingat:

Jangan pernah membandingkan dirinya dengan diri yang lain. Katakanlah kini kau sedang berada dalam fase ini. Kau membandingkan dia dengan yang lain, yang baru kau anggap lebih baik, lalu yang lama kau tinggalkan. Kini kau bersama yang baru. Bersamanya kau tetap membandingkan dia dengan yang lain, dia pun kau tinggalkan. Maka ritmenya akan selalu sama: Perbandingan-Perpisahan-Kekecewaan.

Sudahi! Ketahuilah selalu ada celah untuk dilemahkan dalam sebuah perbandingan.

Jika alasanmu adalah ketidaksamaan dalam pikiran, eh… kau baru hidupkah? Tak kan ada pernikahan tanpa ketidaksamaan. Itulah esensi pernikahan: menggiring dua pikiran, rasa, menjadi satu dalam ke-saling-pengertian. Darisana kau akan tahu indahnya memahami. Indahnya menghargai. Indahnya dewasa bersama.

Menikah adalah keputusan yang teramat sakral. Tuhan, malaikat, manusia, kitab, tumbuhan, kursi-kursi, meja-meja, mikropon, panggung, bunga-bunga, bersatu padu menyaksikan sebuah ikatan, sebuah perjanjian diantara dua insan. Tak terkira lagi agungnya pernikahan itu. Jangan main-main!

Cukup. Berdiskusilah jika ada sesuatu yang mengganjal. Peluk dia. Pandangi dia. Sesungguhnya perubahan akan sangat mungkin terjadi bila diiringi dengan kelembutan. Tambahi doa. Minta dengan Dia yang memiliki semua hati. Pintalah dengan kesungguhan. Tidak ada lagi cara yang paling mujarab selain melalui kelembutan dan doa di dunia ini.