Pilih Prabowo-Sandi atau Jokowi-Ma’ruf?

Baru seusia sekarang, aku benar-benar bisa menikmati efouria demokrasi. Lebih tahu bagaimana analisa seseorang dari sudut pandangnya, bagaimana kesimpulan politik dari latar belakangnya, dan bagaimana seseorang dapat sedemikian larut dalam pilihannya, meski kedepannya dia sadar bahwa hidup adalah tentang perjuangan hidupnya sendiri.

Indah pula saat ini, rakyat kecil dengan kopi hitam pekatnya berbicara tentang negara sehabis menjadi kuli seharian. Semakin berat bahasan, semakin pekat kopinya. Dari asap gelas kopi itu, lalu membumbung tinggi menuju ke tukang sayur keliling. Ibu-ibu membahas naiknya dolar yang signifikan, hingga menyambungkannya kedalam harga sebutir telur didalam keranjangnya. Dari telur itu mereka tahu siapa calon yang dipilih esok. Kemudian bersamaan dengan itu, telur telah di dadar memakai daun bawang, beberapa mahasiswa menyantapnya sehabis penat kuliah. Lama mereka duduk di warung penyetan pinggir jalan sembari membolak-balikkan buku berjudul berat, sebagai referensi dalam focus grop discussion esok tentang situasi politik negara. Pun dengan ulama, mereka larut serta kedalam pesta demokrasi. Mereka berkumpul, melukis wajah bangsa kedepan, hingga coretan itu membentuk nama yang dinilai cocok untuk memimpin negara.

Tak usah risau, Kawan. Jika Prabowo-Sandi menang, kita bersyukur akan adanya wajah kepemimpinan yang baru, yang benar-benar tersimpulkan dari keputusan para ulama yang kita hormati. Pun sekalipun Jokowi-Ma’ruf menang, tetap ada satu ulama yang tidak hanya masuk ke dalam kepemerintahan, tetapi juga memiliki kekuasaan. Bukannya indah nanti ketika telah azan, Kiai Ma’ruf Amin memberhentikan rapat, lalu mengajak presiden dan para menteri solat berjemaah?

Dengarkan fakta ini, siapapun yang terpilih, kau akan tetap berjuang atas langkahmu sendiri, bukan orang lain!

Advertisements

Sepi

Ada kalanya aku suka sepi. Tak ada bunyi gemuruh. Tak ada bunyi hujan. Tak ada bunyi dengkuran roda. Tak ada bunyi angkuhnya tapak manusia. Bahkan tak ada sentuhan selain angin yang menyentuh. Tak ada pelukan selain daun jatuh yang memeluk. Pada saat bersamaan, bumi adalah alas, sedangkan langit adalah cermin.

Kemanapun kaki berpijak, bumi setia pada lembutnya. Kemanapun kaki berlari, langit setia merekam. Setiap langkah adalah sebuah kenikmatan. Setiap detik adalah kedamaian.

Terbenam kini kepala diatas dua tangan yang mengerat. Bebas lepas memandangi cermin besar itu. Saat itu, aku melihat aku.

Aku tersenyum, dia tersenyum. Aku mengerut, dia mengerut. Sebuah simponi kehidupan yang baru kusadari. Ternyata sepi membuatku mengenal diri. Ternyata sepi membuatku memeluk diri sendiri. Ternyata sepi, membuatku berkawan dengan diri sendiri.

Mau tak Mau, kita akan Sendiri

Alur kehidupan ini memang diarahkan untuk hanya bersandar pada Allah. Ketika kita masih muda, bolehlah memiliki banyak teman. Bisa tertawa dan menghabiskan waktu bersama. Tapi ketika salah satu dari teman kita itu telah menikah, kita akan kembali lagi untuk “sendiri”. Kita yang bersaudara sedarah. Sehari-harinya memupuk suka-duka bersama. Namun ketika kita telah menginjak masa pencarian, kita pun akan “sendiri-sendiri” lagi. Pun kita yang telah menikah. Bolehlah kita senang mendengar bagaimana bayi yang kita urus sedari merah kini telah memanggil kita “Ayah” untuk pertama kalinya. Bolehlah kita senang melihat bayi kita berjalan meski terjatuh berkali-kali. Namun –waktu yang egois itu– akan mengubah bayi mungil kita dulu ke tahap dewasa. Tahap dimana dia akan memutuskan untuk menikah. Dan kita pun, “sendiri” lagi.

Konsep “sendiri” lagi ini pun terekam sempurna ketika berabad-abad dahulu. Rasulullah yang menjadi satu-satunya panutan, meninggal dunia, meninggalkan sahabat-sahabatnya serta umat-umatnya. Tidak terbayang, bagaimana patahnya hati ketika panutan satu-satunya meninggalkan mereka. Kemana mereka mesti mengarah? Lagi dan lagi, semua orang di dunia ini akan kembali ke kata “sendiri” itu.

Mengapa begitu? Karena memang itulah sebenarnya hakikat dari hidup ini: benar-benar menyandarkan diri pada Allah. Tanpa Allah, kita lemah. Selemah-lemahnya dari kata lemah itu sendiri. Coba tanyakan, siapa yang kemudian menguatkan bagi seorang Ayah yang melihat anak gadisnya yang dulu masih merah, jalan masih terbata-bata, bicara masih apa adanya, kini telah dinikahi oleh pria pilihannya? Coba tanyakan, siapa yang kemudian menguatkan bagi seorang anak yang ditinggalkan oleh Ibunya selama-lamanya? Kesemua itu mengerucut pada satu jawaban: Allah. Allah lah yang menguatkan. Dan Allah lah tempat bersandar terabadi di jagat raya ini.

Kawan, cepat atau lambat kita akan berada di salah satu penjabaran diatas. Dan pahamilah, ada sesuatu yang tetap dapat mengikat kita dari teman kita, kita dari anak kita, kita dari saudara kita, dan kita dari pasangan kita. Apa itu? Doa dan kenangan. Maka sedari awal, perbanyaklah doa. Maka sedari awal, perbanyaklah ciptakan kenangan.